Prancis telah memainkan peran utama dalam sejarah dari banyak negara di seluruh dunia – tetapi bagaimana dengan sejarah Prancis itu sendiri? Sebagai wilayah yang relatif besar di Eropa Barat, Prancis telah mengalami banyak hal selama berabad-abad.

Dari penaklukan Romawi atas Galia di zaman kuno hingga Perang Dunia selama abad ke 20, Prancis modern dibangun di atas sejarah invasi dan revolusi yang unik, di mana sistem kerajaan pernah dipandang istimewa dan di mana lima republik telah didirikan sejak sistem kerajaan dihapuskan.

Masa lalunya yang berliku-liku membuat studi sejarah Prancis begitu menarik. Namun, Prancis tidak hanya terkenal karena masa lalunya yang kejam, tetapi juga karena rakyatnya. Beberapa orang paling yang berpengaruh sepanjang sejarah berasal dari Prancis. Semua orang pernah mendengar nama ‘Napoleon' sebelumnya, tetapi siapakah dia sebenarnya? Mengapa Prancis tidak memiliki Raja atau Ratu? Dan di mana posisi Prancis selama Perang Dunia Kedua? Panduan tentang sejarah negara yang sering berada di garis depan dari banyak pertempuran domestik dan internasional ini akan menyajikan semua informasi yang perlu Anda ketahui. Jadi, apakah Anda tertarik untuk mempelajari sejarah militer Prancis, Revolusi Prancis, tokoh-tokoh Prancis terkemuka sepanjang sejarah atau hubungan Inggris dengan Prancis secara lebih mendalam, artikel ini akan membantu Anda!

Momen-Momen Penting dalam Sejarah Prancis

Setiap negara memiliki momen-momen penting yang menentukan sejarahnya – tidak terkecuali Prancis. Entah itu raja anak-anak atau perang yang menentukan zaman, negara yang kita kenal sebagai Prancis saat ini adalah hasil dari sejarah yang menakjubkan selama berabad-abad. Berikut ini beberapa peristiwa terpenting dalam sejarah Prancis:

· Penandatanganan Perjanjian Verdun

Perjanjian Verdun adalah dokumen yang ditandatangani pada tahun 843 M yang meletakkan dasar bagi perbatasan negara Eropa saat ini dengan membagi Kekaisaran Carolingian menjadi tiga wilayah. Kekaisaran Carolingian, yang membentang di sebagian besar Eropa Barat, didirikan dan dipimpin oleh Kaisar Romawi Suci Charlemagne dari 800 M hingga kematiannya pada 814 M. Dia digantikan oleh putra sulungnya yang tertua, Louis the Pious. Kaisar Louis Pious dengan cermat merencanakan pembagian kerajaan diwarisi putra-putranya, namun, terjadi  perselisihan antara putra-putra Louis dan saudara tirinya mengenai pembagian tersebut dan perang pun pecah. Pada akhirnya, kerajaan itu dipisahkan menjadi Francia Timur, Francia Tengah, dan Francia Barat, yang kemudian menjadi Kerajaan Prancis.

· Louis XIV Memusatkan Kekuasaan di Prancis

Pada bulan Agustus 1661, Raja Louis XIV secara mengejutkan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa absolut monarki Prancis setelah kematian menteri utamanya, Kardinal Mazarin. Louis XIV memusatkan kekuasaannya di Prancis dengan menjadikan Istana Versailles (yang juga merupakan rumahnya) sebagai pusat pemerintahan serta sebagai tempat untuk parlemen Prancis. Selain digunakan sebagai pusat politik dan pusat kehidupan kerajaan, istana ini juga digunakan sebagai tempat pesta bagi Raja Louis untuk menjamu tamu.

Pusat Istana Louis XIV
Istana Versailles diubah menjadi pusat istana Louis XIV ¦ sumber: Pixabay - denisflorent

Mengadakan berbagai macam kegiatan di satu tempat berarti bahwa The Sun King (julukannya pada masa itu) mampu menyatukan kehidupan kerajaan dan politik sambil mengawasi dan mengendalikan para bangsawan yang nakal.

· Revolusi Prancis

Revolusi Prancis bertanggung jawab atas banyak karakteristik Prancis modern. Revolusi dimulai dengan penyerbuan benteng Bastille pada tahun 1789 oleh anggota Estate Ketiga (julukan untuk rakyat jelata pada waktu itu). Bastille menjadi sasaran karena tempat ini menjadi representasi monarki dan kekuatannya. Kemarahan terhadap monarki dan Raja Louis XVI, secara khusus berasal dari sistem perpajakan yang tidak adil di Estate Ketiga sementara kaum bangsawan dan pendeta dibebaskan dari pajak. Pada saat kemerosotan ekonomi, Estate Ketiga memutuskan untuk menjalankan pemerintahan sendiri dan membentuk sebuah Majelis Nasional. Majelis Nasional tersebut menyatakan dirinya berdaulat atas Prancis, yang berarti bahwa ia memiliki kendali atas pemerintahan dan bahkan Raja. Maximilien Robespierre menjadi pemimpin Majelis Nasional dan memutuskan bahwa siapa pun yang menentang revolusi akan dianggap bersalah atas pengkhianatan dan harus dihukum mati dengan guillotine atau alat pancung. Salah satu korban jiwa revolusi ini adalah Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette.

· Perang Dunia II dan Prancis Vichy

Perang Dunia Kedua adalah masa yang penuh gejolak bagi Eropa – dan Prancis terjebak dalam perseteruan tersebut. Pada tahun 1940, gencatan senjata ditandatangani oleh Prancis dan Jerman yang membagi Prancis menjadi dua. Wilayah Prancis Utara dan Barat harus ditempati oleh pasukan Jerman, sedangkan daerah yang tersisa dikenal sebagai Zona Bebas. Karena kota Paris, ibukota negara ini, juga diduduki, Prancis harus menemukan pusat kehidupan politik lain di Zona Bebas yang tidak dihuni. Mereka memilih kota Vichy. Marshal Phillippe Pétain dideklarasikan sebagai pemimpin Prancis Vichy, dan dia kemudian membangun sebuah rezim yang didasarkan pada standar konservatif dan otoriter yang mirip dengan Nazi Jerman. Hal ini menyebabkan pembubaran gerakan progresif Paris dan bahkan perubahan moto nasional Prancis, Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persaudaraan kesetaraan), dan menggantikannya dengan Travail, famille, patrie (pekerjaan, keluarga, tanah air). Akhirnya, Marshal Pétain setuju untuk bekerja sama dengan Jerman. Namun, hal ini ditanggapi dengan gerakan resistensi yang kuat. Rezim Vichy berakhir dengan pembebasan Prancis oleh Sekutu pada tahun 1944.

Revolusi Prancis

Mari kita lihat revolusi Prancis secara lebih rinci. Bagaimana awalnya? Dan bagaimana peristiwa ini memberikan dampak pada Prancis? Seperti yang kita ketahui, Revolusi Prancis tahun 1789 terjadi karena ketidakpuasan rakyat dengan distribusi kekayaan dan kekuasaan di Prancis. Dalam hal standar hidup dan kesehatan fisik, tahun 1700-an adalah periode yang secara signifikan lebih nyaman bagi warga negara Prancis dari semua latar belakang daripada masa-masa sebelumnya. Hasilnya adalah pertumbuhan populasi dan kemakmuran ekonomi. Namun, keberhasilan ini hanya berumur pendek karena Prancis memasuki periode ketidakstabilan menjelang akhir abad ini. Utang dari berbagai perang abad ke 18 menempatkan para penguasa Prancis dalam posisi yang sulit. Dalam upaya untuk membereskan masalah keuangan negaranya, Raja Louis XVI meminta bantuan tim penasihat. Sayangnya, saran mereka bahwa Prancis harus melakukan reformasi terhadap sistem pajak bukanlah sesuatu yang ingin ia dengar.

moto negara prancis sejak revolusi
'Liberté, égalité, fraternité' telah menjadi moto republik ini sejak revolusi ¦ sumber: Pixabay – falco

Setelah memecat para penasihatnya, Raja Louis menunjuk Charles de Calonne, yang berusaha untuk menerapkan pajak aristokrasi untuk pertama kalinya. Tidak mengherankan, kaum bangsawan kurang senang pada prospek ini dan menolak untuk mematuhi tuntutan Calonne dan mendorong Prancis menuju krisis keuangan yang tak terhindarkan. Sebuah aristokrasi yang tidak tenang, borjuasi yang pahit, dan petani yang jenuh di sebuah negara yang berada di ambang kebangkrutan menciptakan iklim yang ideal untuk revolusi. Pada 1789, Raja Louis XVI melakukan upaya terakhir untuk menyelesaikan masalah keuangan Prancis dengan menyatukan Estates-General. Estates-General adalah majelis yang diwakili oleh ketiga sektor populasi Prancis. Sayangnya, pertemuan di Versailles ini tidak berjalan sesuai rencana, dan perselisihan tentang cara untuk mencapai keputusan akhir berakhir pada kepergian Estate Ketiga (yang mewakili rakyat jelata) dari Estates-General. Setelah ini, Estate Ketiga membentuk Majelis Nasional dan menyatakan diri mereka sebagai penguasa yang berdaulat di negara itu. Seiring semakin populernya Majelis Nasional, mereka juga bertumbuh dalam kekuasaan, dan keinginan untuk revolusi juga meningkat secara signifikan. Anggota Majelis Nasional melakukan Tennis Court Oath pada bulan Juni 1789, ketika mereka bersumpah bahwa mereka tidak akan membakarkan diri sampai kesepakatan untuk konstitusi baru untuk Prancis telah tercapai. Revolusi telah mengudara dan rakyat Prancis bersatu untuk tujuan bersama. Ini bukan kabar baik bagi Raja Louis, yang mulai mengumpulkan pasukan untuk mempertahankan rezimnya daripada menyerah pada beberapa tekanan Majelis Nasional. Kemarahan publik pada monarki dan mereka yang disukai olehnya menyebabkan kerusuhan dan tindakan vandalisme di seluruh negeri. Yang paling menonjol adalah penyerbuan benteng Bastille, sebuah benteng di Paris yang mewakili kekuatan monarki di Prancis. Benteng ini diserang oleh anggota Estate Ketiga yang berusaha menyita senjata yang dipegang di dalam penjara. Lebih jauh lagi di pedesaan, para petani menyerang tempat tinggal tuan tanah mereka dan membebaskan diri dari kontrak yang tidak adil. Akhirnya, hutang negara ini terbayar dengan nasionalisasi lahan yang dimiliki Gereja. Hal ini memberikan banyak kesempatan kepada orang biasa dan petani untuk membeli tanah dan memiliki properti mereka sendiri. Ketika masalah keuangan negara berkembang, masalah turunannya berkembang pula. Sekarang ada perpecahan di Majelis Nasional – apakah monarki harus dihapuskan atau tetap dilanjutkan? Dari keretakan ini, muncul dua kelompok utama di Majelis Nasional: Girondin (mendukung untuk menjaga monarki) dan Jacobin (pro-penghapusan). Menyusul lebih banyak kerusuhan sipil dan perang nasionalistis dengan negara-negara tetangga, Majelis Nasional digantikan oleh Konvensi Nasional, yang menyatakan Prancis sebagai negara republik setelah menghapuskan monarki. Konvensi Nasional menjatuhkan hukuman mati kepada Louis XVI dengan guillotine pada Januari 1793, dan istrinya, Marie-Antoinette, dieksekusi pada bulan Oktober di tahun yang sama. Namun, eksekusi keluarga kerajaan tidak menandai akhir revolusi. Pemimpin Jacobin, Maximilien Robespierre, menghukum lebih dari 15.000 orang yang senasib dengan Raja Louis dan istrinya karena takut akan kontra-revolusi. Ini dikenal sebagai Pemerintahan Teror. Begitu ekonomi Prancis menjadi lebih stabil dan ancaman serangan telah menghilang, Robespierre sendiri dieksekusi karena kelanjutan dari pembunuhannya tidak lagi dapat dibenarkan. Revolusi Prancis berakhir dengan kekalahan Napoleon Bonaparte dalam upaya terbarunya untuk memerintah Prancis dan deklarasi atas dirinya sebagai penguasa republik baru.

Tokoh-Tokoh Penting Sepanjang Sejarah Prancis

Prancis juga memiliki tokoh-tokoh adil yang terkenaljadi apa kisah di balik nama-nama terkenal tersebut?

· Joan of Arc (1412-1431)

Joan of Arc lahir pada 1412, selama Perang Seratus Tahun, yang kemudian ia akhiri pada usia 18 tahun ketika ia memimpin pasukan Prancis menuju kemenangan. Perang antara Inggris dan Prancis ini dimulai karena memperdebatkan negara mana yang berhak mewarisi takhta Prancis. Joan of Arc mungkin paling dikenal karena ketakwaannya, yang membawanya pada kemenangan serta kematian. Joan mengaku melihat St Michael dan St Catherine dalam serangkaian penglihatan ketika dia diberitahu bahwa dia akan menjadi penyelamat negaranya. Misi pertamanya adalah mencari audiensi dengan pewaris tahta Prancis, Charles, di mana ia akan membahas pengusiran Inggris yang akan mengakibatkan Charles mengambil tahta sebagai Raja.

gereja katolik menganggap joan of arc suci
Joan of Arc dianggap suci oleh Gereja Katolik pada 1920 ¦ sumber: Pixabay - rsteve254

Setelah serangkaian pertempuran yang dipimpin oleh Joan bersama Charles, Prancis mendapatkan kembali kekuasaan atas wilayah yang direbut oleh Inggris, dan pada bulan Juli 1429, Charles dinobatkan menjadi Charles VII. Namun, ini bukan akhir dari konflik, apalagi Joan of Arc disandera oleh orang-orang Burgundi yang mendukung Inggris, yang kemudian menjualnya ke Inggris. Masih tidak yakin akan kebenaran dalam pengalaman religius Joan, Charles VII tidak berusaha untuk membebaskannya, dan Joan of Arc dibawa ke pengadilan di mana dia didakwa atas praktik ajaran sesat dan sihir – pelanggaran yang membuatnya dibakar hidup-hidup pada usia 19 tahun.

· Napoleon Bonaparte (1769-1821)

Sementara Revolusi Prancis sedang berjalan lancar, Napoleon Bonaparte muda dengan cepat melejitkan namanya melalui jajaran militer Prancis dan akhirnya menyatakan dirinya sebagai kaisar Prancis pada 1804, menyusul kemenangannya dalam kudeta lima tahun sebelumnya. Napoleon paling terkenal karena tujuannya untuk memperluas kerajaan Prancis dan perang yang ia lakukan melawan berbagai negara Eropa dalam upaya untuk mencapai tujuan ini. Selama perang ini, yang dikenal sebagai perang Napoleon, Napoleon mengalami kemenangan serta kekalahan dalam pertempuran. Yang paling terkenal dari pertempuran ini adalah Pertempuran Waterloo, di mana Napoleon dikalahkan oleh kekuatan gabungan militer Inggris dan Prusia – kekalahan yang memaksanya untuk melepaskan mahkota Prancis. Setelah kekalahannya di Waterloo dan pengunduran dirinya, Napoleon diasingkan ke St Helena, sebuah wilayah di Inggris yang menjadi tempat ia menghembuskan napas terakhirnya.

· Marie Curie (1867-1934)

Berasal dari Polandia, Marie Curie adalah warga negara Prancis yang dinaturalisasi dan prestasinya di dunia sains, khususnya dalam studi zat radioaktif, menjadikannya salah satu wanita Prancis paling terkenal dalam sejarah. Bersama dengan suaminya Pierre, Marie Curie dikreditkan dengan penemuan radioaktivitas itu sendiri, serta penemuan unsur polonium dan radium. Penelitian dan penemuannya dalam bidang radioaktivitas, sebuah istilah yang diciptakan oleh Curie sendiri, membuat Marie Curie tidak hanya menjadi wanita pertama yang memenangkan Penghargaan Nobel, tetapi juga menjadi orang pertama yang dianugerahi penghargaan ini dua kali. Namun, karya Curie dalam fisika dan kimia tidak berhenti dengan pengakuan bergengsi ini. Ketika Perang Besar pecah pada tahun 1914, Marie Curie bekerja untuk mempromosikan penggunaan mesin X-Ray portabel di lokasi konflik sehingga tentara yang terluka bisa mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan secepat mungkin. Umur Curie yang cukup pendek diyakini karena dampak paparan zat radioaktif selama bertahun-tahun penelitiannya. Dia meninggal pada usia 66 karena anemia aplastik.

Kemenangan dan Kekalahan Militer Prancis yang Terkenal

Posisi Prancis di tengah-tengah Eropa membuat Prancis menjadi tempat banyak konflik Eropa. Selain itu, Prancis juga memiliki reputasi dalam memulai konflik mereka sendiri. Dalam perang apa pun yang Anda pelajari, Prancis tampaknya memainkan peran utama, dan ada beberapa pertempuran yang cukup terkenal ketika kita berbicara tentang sejarah militer – jadi, apa peran Prancis dalam pertempuran ini? Dan apa yang menyebabkan kemenangan atau kekalahannya? Berikut ini beberapa konflik Prancis yang paling terkenal.

· Pertempuran Hastings

1066 adalah tahun yang tidak terlupakan bagi orang Inggris, karena pada tahun inilah Inggris diserbu oleh William dari Normandia dan kekuasaan Raja Harold digulingkan. Tampaknya, serangan William terjadi pada waktu yang sangat tidak tepat bagi Raja Harold, yang baru saja kembali dari pertempuran lain di mana ia berhasil mempertahankan kekuasaannya melawan Harald Hardrada dari Norwegia. Begitu pertempuran telah dimulai, pasukan Inggris deceritakan hanya berdiri di tempatnya sementara pasukan William menyerbu. Taktik pasukan Raja Harold akhirnya menghalangi bangsa Normandia, dan setelah mendengar bahwa pemimpin mereka, William, telah terbunuh, pasukan Normandia mulai melarikan diri. Dengan keberanian dan seruan yang mengejutkan, William dari Normandia berkuda di depan pasukannya dan melepaskan helmnya, menyatakan bahwa desas-desus itu tidak benar dan bahwa dia akan menaklukkan musuhnya. Pasukan Normandia, dengan kepercayaan diri mereka yang baru, berhasil menyerang Inggris untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Setelah kematian Raja Harold dan sejumlah perwira militer berpangkat tinggi, pasukan Inggris melarikan diri, dan William dari Normandia mendapatkan julukan William sang Penakluk.

· Pertempuran Agincourt

Pertempuran Agincourt terjadi di Prancis Utara antara Inggris dan Prancis pada tahun 1415, selama Perang 100 Tahun. Pertempuran ini diakhiri dengan kekalahan Prancis. Kemenangan pasukan Inggris dan Welsh sangat penting, mengingat fakta bahwa Prancis memiliki lebih banyak pasukan di pihak mereka.

Pertempuran Agincourt terkenal dengan Busur Panjang Inggris
Pertempuran Agincourt terkenal dengan penggunaan busur panjang Inggris ¦ sumber: Pixabay - PollyDot

Pasukan Inggris dan Welsh dipimpin oleh Raja Henry V, yang mengaku sebagai pewaris takhta Prancis. Di sisi lain, pasukan Prancis dipimpin oleh Charles d'Albret, Penguasa Prancis pada saat itu.

· Pertempuran Ypres Kedua

Pertempuran Ypres Kedua, yang terjadi di tengah-tengah Perang Dunia Pertama, pada tahun 1915, merupakan pertempuran antara Sekutu (yang termasuk negara-negara Kekaisaran Inggris, Prancis, dan Belgia) dan Jerman. Pertempuran ini diakhiri dengan kemenangan sekutu, di mana Prancis menjadi bagiannya. Pertempuran Ypres Kedua berlangsung selama hampir satu bulan dan terdiri dari serangkaian pertempuran kecil. Terletak di dekat perbatasan Belgia dan Prancis, kota Ypres di Flemish merupakan aset strategis yang dicari, dan kontrol terhadapnya adalah alasan mengapa pertempuran pecah. Taktik serangan yang digunakan oleh Pasukan Jerman dalam pertempuran ini adalah faktor yang membuat pertempuran ini begitu terkenal. Pertempuran Ypres Kedua adalah pertempuran pertama di mana gas beracun digunakan sebagai senjata. Gas klorin dipilih oleh Jerman karena toksisitasnya yang tinggi, yang menyebabkan banyak prajurit kehilangan nyawa di Ypres ketika mereka menghirupnya. Gas tersebut dilepaskan dari silinder yang telah ditempatkan di sepanjang perbatasan area yang dipegang oleh pasukan Prancis. Mereka yang tidak terbunuh oleh gas tersebut segera kabur dari tempat itu dengan panik. Namun, gas ini tidak menjamin kemenangan bagi Jerman, dan wilayah ini yang bisa dipertahankan oleh pasukan Anglo-Kanada membawa kemenangan untuk sekutu.

Inggris vs Prancis: Hubungan Cinta-Benci

Ketika Anda tinggal di Kepulauan Inggris, tidak jarang Anda mendengar lelucon tentang Prancis dan kaki katak, baguette, dan kecenderungan mereka untuk menyerang – tetapi apakah orang Inggris memiliki alasan yang bagus atas lelucon tentang orang Prancis tersebut? Dengan melihat sejarah militer kedua negara ini saja, jelas sekali bahwa Inggris dan Prancis memiliki banyak konflik di masa lalu, namun, kerja sama mereka sebagai sekutu dalam sejarah baru-baru ini, serta kepentingan bersama mereka dalam imperialisme membentuk hubungan yang kompleks antara kedua negara tersebut. Tanda-tanda perselisihan yang telah berlalu tersebut masih dapat dilihat dalam wacana politik baru-baru ini antara Inggris dan Prancis, yakni presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang bersikeras bahwa Inggris harus membayar untuk kesepakatan pasca-Brexit. Setelah Brexit, pendapat orang-orang Prancis tentang orang-orang Inggris tampaknya lebih berbobot daripada sebelumnya. Untuk mempelajari bahasa Prancis secara lebih mendalam, carilah ‘kelas bahasa prancis di Jakarta' di Internet!

Cek di sini untuk kursus bahasa Perancis online

Butuh guru Bahasa Prancis ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5, 1 votes
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang