Lokasi geografis Prancis di Eropa Barat yang berbatasan dengan Inggris di Utara, Jerman di Timur, Spanyol di Barat dan Laut Mediterania di pantai Selatannya berarti bahwa ia adalah negara yang telah berjuang dalam perang yang adil selama bertahun-tahun. Sejarah militer Prancis menarik - tetapi adakah stereotip yang benar bahwa Prancis tidak pernah memenangkan perang sendirian? Tentu saja, Perancis telah mengetahui banyak kemenangan militer, terutama dalam Perang Dunia - jadi bantuan apa yang mereka punya? Mari kita lihat beberapa kemenangan dan kekalahan Prancis yang paling terkenal dalam panduan Superprof untuk sejarah militer Prancis. Tapi pertama-tama, mari kita lihat sebuah ikhtisar...

Sejarah Militer Perancis

kemungkinan baju besi juga menghambat dalam bergerak
Baju besi berat yang dikenakan oleh orang Prancis kemungkinan menghambat kemampuan mereka untuk bergerak, menyebabkan biaya perang yang mahal pada beberapa pertempuran Sumber: Pixabay Credit: Awsloly

Semuanya berawal karena kebutuhan yang dirasakan untuk menopang dan mempertahankan perbatasan alami negara: Pegunungan Alpen di sebelah tenggara, Pyrenees di barat daya dan sungai Rhine di timur. Raja Clovis I menyatukan negara, mengambilnya dari tanah yang dikuasai oleh berbagai suku yang dipimpin oleh kepala suku, ayahnya ada di antara mereka, untuk menguasai wilayah tersebut dan menjadikannya satu kekuasaan dibawa pimpinannya. Hal yang sama terjadi selama penyatuan Inggris oleh Athelstan sekitar 500 tahun kemudian! Sekarang memerintah Perancis yang telah bersatu, langkah berikutnya dalam strategi Raja Clovis adalah untuk melindungi negara dari serbuan. Maka dimulailah sejarah militer Perancis yang sangat lama sebagai wilayah yang disatukan, dihasut oleh seorang raja yang masih remaja - Clovis baru berusia 16 tahun ketika ayahnya menyerah, dan meninggalkannya untuk menentukan arah bagi nasib negara tersebut. Setelah perbatasan aman, Raja Clovis berangkat untuk mendapatkan lebih banyak wilayah. Serangan pertama, yang dikenal sebagai Pertempuran Soissons, adalah kemenangan yang pasti terlepas dari pengkhianatan oleh salah satu sekutu Clovis. Kemenangan itu kira-kira menggandakan wilayah Frank saat itu. Lebih banyak pertempuran yang datang, mendapatkan lebih banyak wilayah dan kadang-kadang kehilangan beberapa.

Sebagai raja Prancis, Clovis tidak selalu bertempur atau memicu perang untuk mendapatkan wilayah.

Seringkali, ia mengandalkan diplomasi atau kedaulatan, kadang-kadang mengambil alih wilayah tersebut tanpa banyak konsesi dan, lebih dari beberapa kali, menukar saudara perempuannya dengan imbalan tanah. Charlemagne, Louis XIV dan Napoleon juga memiliki kesuksesan besar dalam memperluas wilayah Prancis. Namun, tahun-tahun di antara para penguasa militer itu bukanlah masa pertumbuhan dan harmoni yang damai; pertempuran kecil, terutama di sepanjang perbatasan negara Prancis telah kehilangan banyak wilayah dan nyawa. Bagaimanapun juga, negara itu mendapatkan kembali banyak tanah jajahan dan juga memperoleh banyak wilayah di luar negeri: di Afrika, Amerika Selatan, Indocina dan wiayah yang cukup luas di Amerika Utara. Sebagian besar aksi militer di wilayah itu dan di tanah air berpusat pada upaya pemeliharaan perdamaian. Tentara Prancis pada umumnya ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan penduduk asli serta perbedaan pendapat di antara penduduk koloni Prancis. Dari perang Gallo-Romawi (60 SM hingga 50 SM) pada saat itu  Perancis masih merupakan tanah yang diduduki oleh berbagai suku yang sering bertengkar hingga akhir Perang Dunia Kedua - ketika perbatasan barat Prancis akhirnya diresmikan, negara ini lebih dari 2.000 tahun sejarah militernya menentang stereotip bahwa Prancis tidak dapat memenangkan perang sendirian. Atau, Anda bisa memikirkannya seperti ini: bukan karena cuma cuma Prancis memilikii daratan terbesar di Eropa. Ukurannya yang luas tentu bukan karena kemurahan hati tetangganya tetapi karena ketajaman militer Perancis dan mungkin melalui pertempuran selama berabad-abad. Sekarang mari kita melihat lebih dekat beberapa pertempuran terkenal yang diperjuangkan oleh militer Prancis.  

 Pertempuran Tours

Juga dikenal sebagai pertempuran Poitiers, Battle of Tours adalah kemenangan bagi kaum Frank (orang-orang yang tinggal di Prancis pada abad ke-8) melawan penjajah yang telah menempati Prancis dari Afrika Utara melalui Semenanjung Iberia. Penaklukan Muslim atas kerajaan Kristen Eropa dimulai pada 711 M dengan kekalahan banyak daerah di Spanyol. Ditahbiskan sebagai kekuatan dominan di Eropa Selatan, pasukan Khilafah Umayyah melanjutkan untuk mengambil alih Prancis. Setelah dikalahkan di Toulouse pada tahun 721 M, para Khilafah Muslim melanjutkan perjalanan ke Utara dan muncul sebagai pemenang di Aquitaine pada tahun 732 M.

Setelah melarikan diri dari Aquitaine, yang sekarang dibawa di bawah kendali pasukan Umayyah, Duke Odo memohon kepada walikota Frank, Charles Martel, yang setuju untuk membantu selama serangan itu dipimpin oleh Frank.

Charles Martel awalnya tidak dinominasikan untuk memerintah Francia setelah kematian ayahnya. Sebaliknya, Pepin de Herstal, ayah Charles, atas desakan istrinya, menunjuk keponakan Charles sebagai penggantinya. Beberapa catatan berpendapat bahwa Charles sebenarnya tidak sah, yang akan menjadi alasan bagus untuk menyangkal suksesi kekuasaannya. Namun, pada saat itu, adalah sah bagi seorang pria untuk memiliki beberapa selir. Charles, yang menjadi kontroversi karena dia anak dari istri Pepin yang lain, sebenarnya bisa naik ke tampuk kekuasaan tetapi Plectrude, seorang permaisuri yang memiliki pengaruh besar pada suaminya, memastikan cucunya akan mewarisi gelar tersebut dengan mendapatkan janji dari Pepin di akhir kematiannya.

Anda mungkin mengatakan bahwa pertarungan Charles Martel yang pertama dan paling penting adalah untuk gelar pemimpin yang menjadi haknya.

Plectrude, yang tidak ingin melihat cucunya diremehkan, telah menjebloskan Charles ke penjara. Namun, karena bocah itu masih sangat muda, baru berusia delapan tahun, para bangsawan menentang kenaikannya ke kekuasaan. Kerusuhan merebak di seluruh negeri, memuncak dalam suatu pertempuran. Negarawan muda itu memimpin pasukannya dalam pertempuran Compiègne dan menderita kekalahan yang memalukan. Belakangan diketahui pada tahun itu juga bahwa Charles telah melarikan diri dari penjara dan disambut dengan sambutan meriah dan kesetiaan dari para bangsawan. Perlawanan kaum Frank, bersama dengan kegagalan kaum Muslim untuk bersiap menghadapi iklim Eropa dan serangan kaum Frank terhadap kamp militer lawan, membuat kemenangan kaum Frank.

menceritakan kematian Raja Harold
Sebuah adegan dari Bayeux Tapestry yang menggambarkan kematian Raja Harold Sumber: Wikipedia Credit: Myrabella

Pertempuran Hastings

Pertempuran Hastings mungkin adalah salah satu kemenangan militer Prancis yang paling terkenal dalam sejarah. Pada 1066, William dari Normandia mengumpulkan pasukannya dan berangkat untuk mengambil tahta kerajaan Inggris dari Raja Harold I, yang, sayangnya, baru saja kembali dari pertempuran lain di mana Harold Hardrada dari Norwegia juga telah berusaha untuk membangun dominasinya di Kepulauan Inggris. . Taktik pertempuran yang digunakan oleh pasukan Raja Harold dikenal telah mengejutkan pasukan William, yang menyerang Inggris ketika mereka berdiri di tanah mereka. Karena secara mengejutkan hal ini membuat Normandia pergi, dan akhirnya, setelah desas-desus bahwa William, pemimpin Norman, terbunuh di medan perang, pasukan Prancis mundur. Melihat reaksi tentaranya, William dengan cepat menjadi frustrasi dan dengan berani melepas pelindung kepalanya di depan kedua pasukan untuk membantah desas-desus tersebut. Sekarang dibekali dengan rasa percaya diri yang baru, pasukan Willliam bertahan dalam serangan mereka dan muncul sebagai pemenang setelah kematian Raja Harold dan penyerahan pasukannya. William dari Normandia berubah menjadi William sang Penakluk, dan orang-orang Normandia memperoleh wilayah baru. Refleksi Pertempuran: Sangat mudah untuk menganggap kekalahan Harold karena kelelahan akibat pertempuran, pasukan yang banyak berkurang, dan elemen-elemen penyergapan. Namun, kita harus mempertimbangkan faktor-faktor ini:

  • Pasukan tidak perlu terlalu lelah - dengan perjalanan panjang ke Hastings dari London atau pertempuran yang berlangsung sepanjang hari.
  • Mereka juga tidak akan habis. Meskipun catatan yang dapat diandalkan tidak ada, diperkirakan antara 7.000 dan 8.000 pasukan bertempur di Hastings.
  • Selanjutnya, Harold mengeluarkan beberapa pasukan yang siap digunakannya sebelum berbaris ke Hastings

Penyergapan mungkin merupakan faktor penentu dalam membentuk pertempuran tersebut. Ketika desas-desus beredar bahwa William sudah mati, pasukan Harold berhenti bertempur, membiarkan gempuran oleh orang-orang Normandia - begitu mereka yakin bahwa raja mereka memang masih hidup. Hasil pertempuran mungkin sangat berbeda seandainya Harold menjadi pejuang dan ahli strategi yang lebih berpengalaman. Sial baginya, di situlah justru keunggulan William. Misalnya, dia mungkin telah mengeksploitasi kebingungan orang Norman atas desas-desus kematian William; mungkin dia dapat membalikkan keadaan demi kebaikannya dengan menyerang, sementara orang-orang Normandia sibuk dengan desas-desus tersebut. Ketika saya mengambil pelajaran bahasa Prancis secara online dengan tutor Superprof saya, kami membahas pertempuran ini dari perspektif Prancis dan Inggris!

Pertempuran Ypres Yang Kedua

Pertempuran Ypres Kedua adalah pertempuran besar pada Perang Dunia Pertama yang berlangsung lebih dari sebulan dan menghasilkan kemenangan bagi pasukan sekutu (termasuk Perancis, Belgia dan Inggris) yang melawan Jerman. Terletak di Belgia di bagian Front Barat dekat perbatasan Prancis, Ypres adalah aset berharga dalam Perang Dunia Pertama karena lokasinya dan memiliki kendali atas wilayah itu akan membantu kedua pihak menuju kemenangan secara keseluruhan.

Pertempuran Ypres Yang Kedua menandai titik penting dalam sejarah perang karena ini adalah pertama kalinya gas beracun digunakan sebagai senjata.

Tong-tong yang penuh gas beracun ditanam di sepanjang batas wilayah yang dikuasai Prancis dan kemudian diaktifkan dengan daerah itu dijaga oleh tentara Prancis. Serangan itu datang sebagai kejutan dan menyebabkan orang yang selamat melarikan diri dari daerah itu. Untungnya, mundurnya pasukan Prancis tidak memberikan kemenangan yang mudah bagi pasukan Jerman, dan pasukan Kerajaan Inggris membela Ypres dan memimpin sekutu menuju kemenangan. Bencana Gas Racun Peperangan parit adalah ciri khusus Perang Dunia I, hal yang mematikan bukan hanya karena pasukan pada dasarnya duduk tanpa mengetahui bahwa di bawah mereka ada granat dan tembakan artileri, tetapi juga karena parit-parit itu adalah sarang penyakit dan tempat pembusukan mayat-mayat korban perang. Namun demikian, tidak ada tentara yang mengizinkan alam untuk mengambil alih; prajurit-prajurit yang berada di parit harus dihilangkan dengan cepat. Bersamaan dengan itu datanglah ahli kimia Jerman Fritz Haber, yang memoles gagasan rekan sesama kimiawan Walter Nerst bahwa parit-parit itu bisa 'terinfeksi' dengan gas air mata. Haber mengusulkan gas klor. Lebih berat dari udara, gas ini akan tenggelam ke dalam parit, dengan cepat dapat mengeluarkan efek yang diinginkan. Komandan Jerman memilih untuk menggunakan taktik ini sebagai strateginya alih-alih serangan habis-habisan, dengan demikian kehilangan elemen kejutan yang akan membuat perang parit yang mematikan menjadikan strategi ini paling efektif. Keputusan itulah yang memberi kesempatan pasukan Prancis untuk melarikan diri. Pasukan Inggris, yang lebih akrab dengan taktik penambangan - hingga hari ini, Prancis hanya memiliki sedikit sekali atau bahkan tanpa operasi penambangan, merancang topeng dadakan yang membantu mereka selamat dari serangan gas beracun. Berkat topeng-topeng itu, mereka berhasil memenangkan pertempuran.

Pertempuran Verdun

Kemenangan penting lainnya bagi Prancis adalah Pertempuran Verdun, yang juga terjadi selama Perang Dunia Pertama, pada tahun 1916. Perang ini terkenal sebagai pertempuran terpanjang dari seluruh perang, yang berlangsung dari Februari hingga Desember.

Menara Verdun juga membantu dalam pertahanan Prancis
Verdun masih diingat sebagai kunci pertahanan Prancis ¦ sumber: Pixabay - 12019

Verdun adalah kota yang secara historis penting dalam sejarah militer Prancis sebagai kota pertahanan, dan Jerman berusaha mendorong Prancis untuk berkompromi di Benteng Verdun, yang merupakan tanda-tanda kekuatan militer negara itu dan menyebabkan rasa malu yang luas, atau karena mengorbankan nyawa anak laki-laki mereka. Rencana untuk menyerang Verdun tampaknya direkayasa dengan sempurna dan semuanya tampak menguntungkan pihak yang menyerang. Prancis telah memindahkan sejumlah besar amunisi dari benteng, parit belum selesai, dan pasukan udara Jerman mendominasi langit. Marshal Phillipe Pétain memimpin pasukan Prancis menuju kemenangan dengan memindahkan pasokan senjata dan pasukan militer ke Verdun secepat mungkin, dan di tempat lain, Inggris berencana untuk memimpin serangan terhadap Jerman di Somme yang akan memaksa mereka untuk memindahkan orang-orang dari Verdun. Apa yang dipertahankan saat pertempuran Verdun Dua peristiwa besar yang mengubah gelombang selama Pertempuran Verdun:

  1. Maréchal Pétain memerintahkan komandan udara untuk memusatkan skuadron terbang di atas Verdun daripada mendistribusikannya di sepanjang medan pertempuran. Strategi ini mengganggu pasukan udara Jerman di daerah itu.
  2. Jenderal Jerman Falkenhayn terlalu meremehkan Prancis: pasokan senjata mereka, pengetahuan militer mereka dan keuletan mereka.

Dia telah menghitung itu, sebanyak pasukannya, dan memiliki dukungan udara juga, dia akan segera membuat perang ini selesai dan menang dari orang-orang Prancis yang sial itu! Strateginya adalah membunuh tentara Prancis sampai mati; dengan membunuh sebanyak mungkin, menyebabkan Prancis menyerah karena kekurangan pasukan. Sebenarnya mengambil kota itu tidak pernah menjadi prioritasnya. Kegagalannya mengambil Verdun adalah yang pertama dalam suksesi kecurangan militer yang menyebabkan dicopotnya dia sebagai seorang jenderal dan reputasinya yang hancur sebagai seorang pemimpin perang yang kemudia menyebabkan dia dijebloskan ke negara asalnya. Sementara itu, Maréchal Pétain disebut sebagai Singa Verdun.

Pertempuran Agincourt

Satu kekalahan yang terkenal untuk Perancis adalah Pertempuran Agincourt, yang terjadi selama Perang 100 Tahun pada tahun 1415. Perang 100 Tahun saat itu terjadi antara Inggris dan Perancis di mana negara yang menang akan mewarisi tahta Prancis. Henry V dari Inggris memimpin pasukannya ke Prancis melalui Selat Inggris, namun, perjalanannya selama berminggu-minggu telah menyebabkan tingkat kelelahan yang membuat Raja Henry V kehilangan lebih dari 5.000 orang. Setelah menderita kerugian besar seperti itu, Henry memutuskan untuk mundur kembali ke Inggris, namun, ia bertemu dengan tentara Prancis. Inggris tetap diam sementara pasukan Prancis, yang mengenakan baju besi berat, datang ke arah mereka. Prancis mendapati diri mereka dibombardir oleh panah dari pemanah longbow Inggris.

Pertempuran ini terkenal karena penggunaan busur longbow Inggris, yang dapat mencapai target hingga 230 meter.

Ketika tentara Prancis mencoba mendorong para pemanah, serangan menjadi lebih sulit karena beban berat yang mereka bawa di tubuh mereka. Setelah medan perang penuh dengan orang-orang Prancis, Raja Henry memerintahkan pasukannya untuk menyerang Prancis menggunakan kapak. Taktik berdarah ini memastikan kemenangan bagi Inggris dan menandai dimulainya serangkaian keberhasilan militer untuk Henry V. Kejatuhan Agincourt Sementara Henry kembali ke London dan dirayakan sebagai pahlawan perang, Prancis dibiarkan berantakan - dan bukan hanya karena kekalahan yang mereka alami! Dua faksi politik bentrok: Armagnac yang mendukung pemerintah Prancis dan Burgundi, yang mendukung pemerintah Prancis. Yang dibebani dengan sebagian besar kesalahan - dan menyebabkan banyak korban dalam kekalahan Agincourt. Burgundi mengambil keuntungan dari posisi politik dan strategis mereka yang lemah untuk datang ke Paris. Mereka menebarkan perselisihan di sepanjang jalan begitu mereka tiba di sana. Perselisihan di Prancis membuat Raja Henry beristirahat selama 18 bulan dan mengumpulkan lebih banyak pasukan, setelah itu ia kembali ke pasukan Prancis dan kembali memberikan Prancis kekalahan yang memalukan.

Pertempuran Trafalgar

Pertempuran Trafalgar adalah kemenangan bagi Angkatan Laut Kerajaan Inggris melawan pasukan Prancis dan Spanyol pada tahun 1805. Pertempuran itu merupakan bagian dari perang Napoleon. 27 kapal Inggris dipimpin oleh komandan Laksamana Lord Nelson di kapal HMS Victory yang unggul di Samudra Atlantik dekat Cape Trafalgar, lepas pantai Spanyol. Menjelang pertempuran, Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis yang baru, telah berusaha menemukan cara untuk menyerang Inggris dan memperluas kekaisaran Prancis setelah revolusi Prancis. Namun, Inggris menyadari rencananya dan memberlakukan blokade laut di Prancis yang mencegah pasukan Napoleon menyeberangi Selat serta mengganggu hubungan dagang Prancis. Frustrasi dan tidak mampu mengendalikan perairan di sekitar Prancis, Napoleon (yang bersekutu dengan Spanyol) berencana untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang Karibia yang akan membantu pasukannya dalam menghancurkan kehadiran Inggris di Selat sehingga ia dapat menyerang Inggris.

Untuk memperingati Laksamana Lord Nelson di bangunlah Monumen Nelson
Monumen Nelson berada di Trafalgar Square untuk memperingati Laksamana Lord Nelson ¦ sumber: Pixabay - 12019

Namun, kapal-kapal Napoleon dicegah untuk mencapai Karibia oleh pasukan Nelson, yang mendekati Prancis dalam dua kolom untuk menghalangi mereka. Setelah 5 jam pertempuran, Inggris telah menghancurkan 19 dari 33 kapal Prancis-Spanyol. Tidak ada kapal Inggris yang hilang dan Angkatan Laut Inggris kembali dengan penuh kemenangan. Meskipun Laksamana Lord Nelson kehilangan nyawanya dalam pertempuran ini, kepemimpinannya memastikan bahwa Napoleon tidak akan pernah berusaha menjadikan Inggris bagian dari Kekaisaran Prancis. Dia merasa terhormat dengan penamaan daerah di London: Trafalgar Square, di mana patung dirinya masih berdiri. Sebuah Ironi di Perang Trafalgar Spanyol dan Prancis secara kolektif memiliki lebih banyak kapal yang tersedia daripada Laksamana Nelson yang sendirian. Mereka juga berada di perairan yang dikenal, tidak jauh dari pantai Spanyol. Napoleon telah menunjukkan dirinya sebagai ahli strategi militer yang brilian dan Frederico Gravina, rekannya dari Spanyol, telah melaut sejak dia berusia 12 – sungguh memalukan bagi orang yang berpengalaman melaut selama 40 tahun pada saat pertempuran. Selain itu, ia memiliki banyak pengalaman berkelahi di laut, setelah bertarung di Gilbraltar dan di Toulon. Namun, Baik Napoleon dan Gravina bukan apa-apa jika bukan seorang tradisionalis.

Konvensi pada saat itu menetapkan bahwa kapal perang harus berbaris, satu file, dan menembak satu sama lain sampai satu kapal musuh tenggelam.

Laksamana Nelson menjalankan tradisi lama dengan melapisi kapalnya dalam dua kolom tegak lurus dengan armada Perancis dan Spanyol, memberinya dua kali jangkauan dan daya tembak daripada Spanyol dan Perancis yang menggunakan taktik sendiri-sendiri. Tidak heran Napoleon dan Gravina tidak pernah melakukan tembakan tetapi menerima begitu banyak pukulan! Untuk membaca lebih lanjut tentang Napoleon dan tokoh-tokoh Prancis terkenal lainnya sepanjang sejarah, ikuti tautannya!

Pertempuran Dien Bien Phu

Kekalahan Prancis yang lebih baru adalah Pertempuran Dien Bien Phu di Vietnam pada tahun 1954, yang merupakan bagian dari Perang Indocina yang lebih besar. Prancis terlibat dalam pertempuran dengan Vietnam, yang mewakili kekuatan komunis dan nasional Vietnam. Vietnam telah menjadi koloni Perancis sejak abad ke-19, namun gerakan kemerdekaan semakin populer dan Prancis kehilangan kendali atas negara itu. Dalam upaya untuk melemahkan pasukan Vietnam, Republik Perancis memulai pendudukan Dien Bien Phu untuk memotong pasokan militer ke Laos dan membangun benteng Prancis. Namun, taktik ini tidak berjalan sesuai rencana, karena kota itu segera terputus dan dikelilingi oleh pasukan Vietnam. Ketika Vietnam mulai melakukan pelanggaran, Prancis meminta bantuan Amerika Serikat, namun, gerakan kemerdekaan memiliki kekuatan dalam jumlah yang banyak dan Vietnam akhirnya berhasil menembus pertahanan Prancis ke kota.   Apa yang salah dengan Dien Bien Phu? Jelas, Prancis benar-benar meremehkan lawan mereka; mereka tidak menganggap bahwa orang Vietnam dapat menavigasi diri mereka sendiri di hutan yang dibebani oleh persenjataan berat. Lebih jauh, mereka berasumsi bahwa Vietnam pasti ingin bergegas ke Laos; tentu saja itu ada di dalam strategi mereka untuk memblokir rute itu. Sangat menarik untuk dicatat bahwa kesalahan taktis yang sama menyebabkan kekalahan dalam sebagian besar perang militer. Pemikiran seperti itu kelihatannya tidak bisa dipahami dengan kepala dingin: jika musuh Anda berpikir seperti Anda, seberapa besar pertempuran yang akan terjadi?

Bersiaplah untuk apa yang dapat dilakukan musuh Anda, bukan apa yang Anda pikir akan dia lakukan - Carl von Clausewitz

Berapa banyak pertempuran yang akan memiliki hasil yang berbeda seandainya kebijaksanaan tersebut lebih diperhatikan? Setelah Dien Bien Phu, Viet Minh menangkap lebih dari 11.500 tahanan; hampir 4.500 di antaranya terluka. Pukulan yang diderita Prancis di Vietnam tidak dapat dipertahankan. Selain itu, warga Prancis sudah bosan dengan perang dan menuntut agar permusuhan dihentikan. Maka berakhirlah konflik yang, dalam banyak hal, menyerupai Perang Dunia Pertama: pertempuran parit, pertempuran tangan ke tangan dan terbatasnya penggunaan senjata canggih (untuk saat itu), dan tidak ada dukungan udara. Jika Anda menemukan blog ini menarik, mengapa tidak melihat artikel kami tentang peristiwa paling penting dalam sejarah Prancis? Atau, jika Anda ingin mulai belajar bahasa Prancis, coba googling 'pelajaran bahasa Prancis.

Cek di sini untuk kursus bahasa Perancis online

Butuh guru Bahasa Prancis ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5, 2 votes
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang