Definisi Drama

Apakah Anda ingin menjadi seorang aktor professional, atau Anda bercita-cita untuk berprofesi melatih sebuah drama, atau mungkin Anda menyukai tampil di teater sebagai hobi, maka kemungkinannya Anda akan tertarik untuk menumbuhkan yang lebih baik dan lebih banyak lagi pemahaman mendalam tentang keragaman industri, bidang studi dan seni yaitu drama.

Drama merupakan istilah yang memiliki banyak arti dan bentuk yang berbeda. Misalnya saja, dalam kehidupan sehari-hari, drama adalah situasi atau rangkaian peristiwa yang menyebabkan seseorang merasa berkonflik dalam beberapa keadaaan, sementara itu juga bisa merujuk pada keadaan dramatis (yaitu "Saya seperti dalam drama, Saya tidak dapat menemukan kunci saya!"). Mengandalkan definisi ini saja, dapat dikatakan bahwa drama sudah terdengar seperti sesuatu yang begitu menarik dan intens!

Dalam sastra, bagaimanapun, drama adalah gaya, yakni komposisi atau teks dalam ayat atau prosa yang kita gunakan dan memiliki tujuan untuk menggambarkan karakter, mengeksplorasi peristiwa kehidupan atau mengceritakan sebuah kisah. Drama sastra biasanya melibatkan konflik dan emosi, serta kerap kali dirancang untuk ditampilkan di atas panggung sebagai bentuk seni kreatif di sebuah teater.

Drama Dalam Pendidikan

Tapi bagaimana dengan drama dalam topik pendidikan? Apa sebenarnya yang dicakup oleh kurikulumnya dan apa yang diperoleh siswa dari uang sekolah yang mereka terima di kelas Drama? Drama dari aspek pedagogi ditawarkan secara nasional sebagai salah satu jurusan dalam jenjang perkuliahan, menawarkan program studi yang luas untuk membuat siswa tetap tertarik dan disemangati oleh seni. Dalam dunia sekolah, drama termasuk dalam disiplin ilmu Pendidikan bahasa dan sastra.

Drama di dunia perkuliahan akan banyak melakukan kajian terhadap Seni Teater atau Dramaturgi. Selain itu, siswa akan belajar menciptakan pertunjukan teater, mulai dari bagaimana menulis naskah drama atau skenario, penataan artistik, penyutradaraan, hingga bermain peran. Mata kuliah yang didapatkan diantaranya adalah Teknik Dasar Pemeranan, Teknik Dasar Penyutradaraan, Olah Tubuh, Olah Vokal, Penulisan LAkon, penulisan Kreatif, Pemeranan Realis, Pemeranan Non Realis, Pemeranan Tradisi, Penyutradaraan Realis, Penyutradaraan Non Realis, Penyutradaraan Tradisi, Dramaturgi Realis, Dramaturgi Non Realis, Tata Artistik, Tata Kostum dan Make Up, Desain Musik, Analisis Fiksi, Manajemen Seni Pertunjukan Indonesia, Manajemen Teater, Videografi, Drama Televisi, Pembawaan Totalitas Keaktoran, Semiotika Teater, Kritik Teater, dan masih banyak lagi.

Dapatkan informasi yang valid tentang kelas improvisasi di sini.

Drama dalam perguruan tinggi menjadi disiplin ilmu di bidang sastra
Drama ditawarkan sebagai salah satu displin ilmu di sekolah maupun Perguruan Tinggi berbasis bahasa dan sastra. Kredit foto: NEC Corporation of America di Visualhunt.com

Drama dalam pembelajaran bahasa dan sastra akan mempelajari bagaimana apresiasi drama yang juga memiliki konvensi bahasa maupun non bahasa. Artinya sebelum belajar tentang drama, pembelajar harus memiliki kemampuan dalam menganalisis materi tentang drama, baik dalam kaitannya dengan naskah, penokohan, dan sebagainya, dilanjutkan dengan bermain peran. Model pembelajaran drama seperti ini, tidak hanya akan menghasilkan peserta didik yang memahami betul konsep-konsep drama, tetapi sekaligus mencintai drama dan trampil berperan dalam pementasan drama.

Selain itu, mereka yang tertarik mempelajari seni kreatif sebagai ansambel, atau studi drama pada khususnya, memiliki banyak kesempatan untuk belajar tentang seni di sanggar atau kursus seni. Misalnya, mereka yang ingin berspesialisasi dalam seni pertunjukan dapat mendaftar di kursus atau mengikuti latihan di salah satu sanggar, ataupun mengikuti seminar tentang teori dan praktik. Seorang sarjana berbakat mungkin juga memiliki kesempatan untuk mengajukan beasiswa melanjutkan sekolah drama untuk memulai karir mereka sebagai penulis drama.

Universitas di Indonesia dan luar negeri menawarkan berbagai kursus yang berkaitan dengan seni drama dan kekuatan mereka untuk menginspirasi dan memotivasi, seperti sejarah teater, mendongeng, membaca naskah, puisi, boneka, penerbitan, narasi, opera, tari, komedi, teater musikal, tragis teater (pengajaran karya Aristoteles, sebagai contoh), terapi drama, psikoterapi, drama klasik, antropologi, ironi dramatis, katarsis, dan banyak lagi. Jadi, sebagai calon mahasiswa sarjana, atau bahkan pascasarjana, Anda dapat menemukan gelar, Sarjana Seni, Master atau Phd yang mempersiapkan Anda untuk berbagai karir di industri ini.

Sejarah dari Drama

Meskipun ada berbagai cabang drama yang muncul selama berabad-abad, di sini saya akan fokus pada pengenalan dan sejarah drama Barat, dari sanalah tradisi pertunjukan yang kita kenal saat ini berasal

Pengaruh Yunani Klasik

Istilah 'drama' berasal dari zaman Yunani klasik yang berasal dari kata kerja yang berarti 'melakukan' atau 'bertindak', menyoroti kombinasi aktivitas fisik dan mental yang diperlukan dalam seni pertunjukan. Misalnya, gerakan memainkan peranan besar drama apa pun.

Awalnya ada dua jenis drama: komedi dan tragedi, namun, jika mengacu pada drama yang keluar dari abad ke-19, istilah ini sebenarnya tidak merujuk pada jenis drama salah satu atau yang lainnya (sehingga muncul sebagai gaya sendiri). Sebuah contoh menarik dari sebuah teater atau drama dari masa itu adalah Ibsen's A Doll's House, yang kemudian dipelajari, disutradarai dan dipertunjukkan oleh banyak kursus drama atau sastra maupun para murid seni drama.

Namun genre drama lain yang diproduksi oleh Yunani kuno adalah satir

Penulis drama Yunani yang paling berpengaruh diantaranya adalah Aeschylus, Sophocles, Euripides, Aristophanes dan Menander.

Tiga yang pertama sering disebut sebagai penulis tragedi, sedangkan dua penulis lirik terakhir dianggap sebagai penulis komik. Jika Anda telah membaca sebuah tragedi Yunani sebagai bagian dari salah satu kursus Anda atau karena Anda tertarik pada ketegangan, Anda akan terbiasa dengan paduan suara atau sekelompok orang yang mengomentari cerita tersebut saat cerita itu dimulai.

Anda dapat mengambil kelas akting online di sini.

Pengaruh Roma

Romawi membuat drama versinya
Bangsa Romawi menemukan dan mengerjakan ulang drama Yunani klasik dengan menghilangkan bagian chorus dan membaginya menjadi beberapa episode. Kredit foto: seier + seier di Visualhunt.com

Roma menemukan drama Yunani sekitar pada 250 SM, dan banyak orang Romawi mengolah ulang drama aslinya, menghapus bagian chorusnya, membagi cerita menjadi beberapa episode dan memperkenalkan elemen musik.

Drama Abad Pertengahan dan Renaisans

Muncul ratusan tahun setelah komedi dan tragedi pertama, Drama Abad Pertengahan membawa sesuatu yang baru ke permukaan daripada alih-alih mengolah ulang gaya lama. Dengan Gereja Kristen yang awalnya menentang teater, cerita dan skenario liburan dari Alkitab secara alami mulai dilakukan oleh tokoh-tokoh religius, dan akhirnya pertunjukan ini menjadi lebih rumit dan dipindahkan ke bagian lain dari komunitas.

Ketika datang ke periode Renaisans, drama Elizabeth Tan berkembang berkat perayaan segala jenis seni, dengan teater di garis depan. Elizabethan Playhouse pertama dibuka dan drama oleh penulis terkenal (seperti Shakespeare) dilakukan secara teratur di seluruh negeri. Dramanya lebih struktural daripada sebelumnya dan menggabungkan komedi dengan tragedi sehingga memberikan pertunjukan menyeluruh yang menawarkan sesuatu untuk semua orang.

Drama Abad 18 dan 19

Perubahan sosial dan pembagian kelas dalam masyarakat merajalela pada abad ke-18, dan penulis menggunakan pentingnya hal ini dalam teks yang akan dipentaskan. Oleh karena itu, banyak drama ditulis untuk maupun tentang kelas menengah, jauh dari tema usang yang ditekankan oleh Shakespeare. Pertunjukan panggung menjadi jauh lebih jenaka, tidak tahu malu, menyindir dan seringkali melibatkan konflik antara kedua jenis kelamin.

Kemudian pada abad 19, pergerakan kisah Romantis mulai muncul. Romantisme yang dipraktekkan dalam Eropa Barat melahirkan emosi dan sprititualisme serta mempengaruhi drama dan fiksi pada masa itu. Drama romantis mulai mendominasi benua, dengan penulis terkenal yang menjadi pusat perhatian seperti Faust dan Johann Wolfgang von Goethe.

Drama Modern

Drama Modern adalah sebutan untuk drama baru yang mulai banyak bermunculan pada abad 20, yang bereksperimen lagi dengan menampilkan konsep-konsep baru dan liberal. Musik memainkan peranan besar dalam drama modern, meskipun drama realistik juga populer saat itu. Namun bagi sebagian orang, ini tampak langkah yang terlalu jauh dari asal mula drama dan teater, mereka ingin kesenian tersebut direvitalisasi dan dilakukannya intervensi.

Ini merupakan jalan bagi gerakan Simbolis, khususnya di Prancis pada tahun 1880-an.

Teks dilucuti dan menjadi sugestif bahkan hampir seperti mimpi. Chekhov adalah contoh yang sangat bagus untuk seorang master drama Simbolis yang kuat, bersama dengan Ibsen.

Gerakan Ekspresionis berkembang di awal 1900-an dan lebih gelap dan lebih aneh, menjelajahi kedalaman jiwa manusia. Berbeda dengan drama seperti mimpi para Symbolist, drama Ekspresionis lebih seperti mimpi buruk dan bermain kuat pada moralitas dan pelajaran mengajar.

Akhirnya, penulis drama kontemporer tahun 1960-an dan 70-an mulai lebih fokus pada bahasa dan dialog, dengan Tom Stoppard sebagai penulis yang sangat berpengaruh pada saat itu.

Ini membawa kita ke abad 21, dan teater sama seperti yang kita kenal saat ini.

Meskipun ada banyak dramawan dan penulis naskah abad ke-21 yang aktif menulis hari ini, drama dalam pengertian sekarang ini jauh lebih diarahkan pada drama televisi dan adaptasi klasik modern. Teater musik juga merupakan pemandangan yang sangat menonjol dan menarik bagi kaum muda saat ini.

Di dunia yang terobsesi dengan fantasi, banyak drama yang diubah menjadi adaptasi TV yang dikaitkan dengan eskapisme, namun kita semua sama tertariknya dengan realisme kehidupan orang lain, oleh karena itu mengapa reality televisi begitu populer di masyarakat modern.

Pencarian kelas drama untuk anak-anak disini

Berbagai Jenis Tipe Akting

Sama seperti gerakan berbeda dalam drama yang telah dipotong dan berubah selama bertahun-tahun, ada juga berbagai jenis teknik akting yang harus diperhatikan orang-orang di lapangan. Beberapa sudah ada sejak lama, sementara yang lain muncul berkat perkembangan modern dalam proses dan pertunjukan teater.

Akting Klasik

Istilah ini relatif luas dan mengintegrasikan ekspresi suara, tubuh, imajinasi, improvisasi, dan analisis naskah. Ini didasarkan pada teori dan prinsip pemilihan aktor dan sutradara klasik.

Misalnya metode Stanislavski, mengacu pada perasaan dan pengalaman yang dikatakan untuk menyampaikan kebenaran tentang tokoh-tokoh yang diperankan. Para aktor didorong untuk menempatkan diri mereka dalam pola pikir orang yang mereka perankan dan untuk menemukan tautan dan kesamaan sehingga penampilan mereka terasa lebih tulus dan nyata.

Method Acting

Method Acting mencakup berbagai teknik drama yang dirumuskan oleh Strasberg untuk mengembangkan pemahaman kognitif dan emosional tentang karakter aktor. Setiap individu didorong untuk memanfaatkan pengalamannya sendiri untuk mengidentifikasi secara pribadi dengan peran mereka, sehingga ini juga didasarkan pada gagasan Stanislavski (seperti juga teknik Stella Adler dan Sanford Meisner yang dipandang berbeda dari naungan Method Acting).

Teknik Meisner

Teknik Meisner meminta aktor untuk fokus hanya pada satu sama lain selama latihan adegan panggung, seolah-olah tidak ada hal lain di dunia selama momen itu. Konsepnya yakni karakter yang direalisasikan oleh sang aktor dan intensitas pertunjukan membuat adegan tersebut terasa lebih otentik dan kuat bagi mereka yang menonton tampilan artistik sebagai penonton.

Estetika Praktis

Terakhir tapi bukan akhir, Estetika Praktis adalah teknik yang berasal dari konsepsi yang dibuat oleh David Mamet dan William H. Macy, berdasarkan pada metode Stanislavski sekali lagi, bersama dengan teknik Meisner dan filsuf Epictetus. Pendekatan tersebut meliputi analisis naskah, latihan pengulangan, dan eksplorasi kemampuan beradaptasi.

 

TeknikRingkasan
Akting KlasikEkspresi suara, imajinasi, tubuh, dan berdasarkan pada metode Stanislavski.
Method ActingDiformulasikan oleh Strasberg dan berdasar pada metode Stanislavski, para aktor memanfaatkan pengalaman pribadi untuk terhubung dengan karakter mereka.
Teknik MeisnerTertaut juga dengan metode Stanislavski, para aktor fokus pada momen untuk menciptakan pertunjukan yang kuat.
Estetika PraktisLagi-lagi berdasarkan konsep Stanislavski, ini dirumuskan oleh Mamet dan Macy dan termasuk latihan pengulangan.

 

Belajar dari salah satu yang hebat : Bertolt Brecht

“Seni bukanlah cermin yang digunakan untuk merefleksikan realitas, melainkan sebuah palu untuk membentuknya.” - Bertolt Brecht

Bertolt Brecht dan sumbangsid pada drama abad ke-20
Bertolt Brecht memiliki pengaruh besar dalam drama di abad ke-20 karena bakatnya yang dinamis dan liar. Kredit foto: proyecto mARTadero di Visualhunt.com

Bertolt Brecht adalah seorang penulis drama Jerman yang lahir pada tahun 1898 yang bertugas dalam Perang Dunia Pertama sebelum beralih ke karir di dunia teater. Namun, tinggal di Berlin ketika Nazi berkuasa pada tahun 1933, Brecht meninggalkan negara itu dan kewarganegaraannya dicabut.

Dia menemukan dirinya sebenarnya di Amerika selama beberapa tahun sebelum kembali ke Eropa pada tahun 1947. Kurang dari sepuluh tahun kemudian, kehidupan Brecht berakhir, tetapi dia sudah dianggap sebagai praktisi teater yang hebat dan sangat penting.

Dipengaruhi oleh teater Tiongkok dan Karl Marx, ia memiliki cara yang orisinal dan dinamis untuk mengekspresikan dirinya, yang dapat dilihat dalam Mother Courage and Her Children, karya terkenal yang berlatar tahun 1600-an.

Mengapa Brecht Begitu Penting Dalam Dunia Drama?

Bertolt Brecht, dalam waktu yang singkat tapi memperkaya menulis naskah dan mengarahkan teater, membentuk teater dan perkembangan selanjutnya. Dia muncul dengan konsep-konsep revolusioner, yang masih bisa dilihat di teater modern saat ini. Dia menggunakan teater naturalistik sebagai kekuatan untuk perubahan, mendorong penontonnya untuk berpikir.

Brecht ingin penonton tetap objektif ketika memasuki teater sehingga mereka dapat merespon pertunjukan dengan cara yang rasional dan tidak emosional, menghilangkan pesan dan makna sebenarnya dari apa yang mereka tonton.

Mulailah belajar bagaimana berlatih dengan tutor privat:

  • kelas drama Jakarta
  • kelas drama Surabaya
Butuh guru Akting ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5 - 1 suara
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang