Sejarah seni telah melihat banyak gerakan selama berabad-abad.

Dari Dadaisme hingga surealisme, fotografi juga memiliki sejarah yang kaya dan artistik.

Fotografi lanskap, fotografi fesyen, potret… menghasilkan seni bisa dicapai melalui banyak metode dan teknik fotografi.

Ada sejumlah besar fotografer terkenal yang telah beralih dari genre tradisional untuk menciptakan gaya baru dalam memotret yang disebut fotografi humanis.

Para fotografer yang mengembangkan genre fotografi ini berusaha menangkap emosi orang-orang yang menjalani kehidupan sehari-hari mereka.

Esensi dari fotografi humanis bisa ditemukan di karya-karya dari banyak galeri seni dan pameran di seluruh dunia.

Tersedia guru-guru Fotografi terbaik
Kursus pertama gratis!
Ade
5
5 (17 ulasan)
Ade
Rp65,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Pophie
5
5 (7 ulasan)
Pophie
Rp75,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Iswahyudi
5
5 (71 ulasan)
Iswahyudi
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Abi
5
5 (10 ulasan)
Abi
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Kreasinova
5
5 (2 ulasan)
Kreasinova
Rp200,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Riska
5
5 (14 ulasan)
Riska
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Rokhmania
4,9
4,9 (11 ulasan)
Rokhmania
Rp100,000
/jam
Kursus pertama gratis!
R trivano
4,7
4,7 (6 ulasan)
R trivano
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Ade
5
5 (17 ulasan)
Ade
Rp65,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Pophie
5
5 (7 ulasan)
Pophie
Rp75,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Iswahyudi
5
5 (71 ulasan)
Iswahyudi
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Abi
5
5 (10 ulasan)
Abi
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Kreasinova
5
5 (2 ulasan)
Kreasinova
Rp200,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Riska
5
5 (14 ulasan)
Riska
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Rokhmania
4,9
4,9 (11 ulasan)
Rokhmania
Rp100,000
/jam
Kursus pertama gratis!
R trivano
4,7
4,7 (6 ulasan)
R trivano
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis>

Apa Yang Dimaksud Dengan Fotografi Humanis?

Henri Cartier-Bresson, Robert Doisneau and Robert Capa adalah nama-nama besar dalam gerakan ini.

Fotografi humanis adalah gerakan fotografi Prancis yang berisi para fotografer dengan minat memotret orang-orang di kehidupan sehari-hari mereka.

Daripada fokus pada penggunaan keterampilan teknis tertentu atau teknik-teknik fotografi dalam menangkap foto-foto ini, fotografi humanis adalah tentang subjeknya, yang selalu manusia.

Para fotografer dari gerakan ini berusaha untuk menangkap orang di kamera saat mereka melakukan rutinitas sehari-hari, tanpa pose apa pun atau elemen buatan seperti teknik pencahayaan studio atau penyuntingan eksposur, bukaan lensa, atau mode seperti yang dilakukan dalam fotografi potret.

Tujuan dari banyak fotografer ini adalah untuk menangkap emosi orang dalam gambar.

memotret ekspresi alami manusia
Fotografi minat manusia adalah tentang adegan spontan dan alami. Sumber : Pixabay

Gerakan ini, yang juga disebut sebagai 'realisme puitis' atau 'kepentingan manusia', terutama terkait dengan Prancis.

Bagi fotografer seperti Cartier-Bresson dan Capa, lingkungan di sekitar subjek sama pentingnya dengan subjek itu sendiri.

Lingkungan tempat orang ditemukan akan menceritakan kehidupan mereka. Misalnya, itu mungkin menjelaskan gaya hidup atau profesi mereka.

Inilah sebabnya mengapa banyak foto humanis menggambarkan orang-orang di jalan atau di kafe, karena di sinilah mereka bertindak secara alami.

Ada berbagai macam tema bagi fotografer humanis untuk dieksplorasi, tapi para fotografer ini selalu ingin menangkan apa yang membuat kita manusia.

Dengan kata lain, mereka mencari sebutan umum umat manusia.

Berikut adalah beberapa nama terkenal dengan genre humanis:

  • Cartier-Bresson
  • Doisneau
  • Izis
  • Ronis
  • Van der Elsken
  • Lorelle
  • Sougez
  • Ichac
  • René-Jacques

Para fotografer ini telah bekerja untuk surat kabar serta puisi seperti Pierre Mac Orlan, Blaise Cendrars, Francis Carco dan Jacques Prévert.

Fotografi humanis juga sangat dekat dengan fotografi perang dan foto jurnalistik.

Carilah kursus fotografer di seluruh Indonesia di Superprof:

  • Kursus fotografi Jakarta
  • Kursus fotografi Medan
  • Kursus fotografi Bandung
  • Kursus fotografi Surabaya
  • Kursus fotografi Yogyakarta

Bagaimana Fotografi Humanis Muncul?

Kini kita tahu lebih banyak tentang gagasan-gagasan di balik fotografi humanis, mari kita lihat dari mana itu semua berawal.

Seperti kata Henri Cartier-Bresson:

Objek fotografi adalah Manusia, Manusia dan kehidupannya yang singkat, rentan, dan terancam.

Kata-kata ini diucapkan pada tahun 1930, dan dalam pembantaian Perang Dunia Kedua, mereka mengambil makna baru.

Fotografi humanis muncul tidak lama setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945.

Pada masa ini, orang-orang harus berurusan dengan kesulitan ekonomi, terutama di Prancis, yang harus menggunakan bantuan keuangan dari AS untuk membangun kembali negara itu.

Pada masa ini, fotografi humanis fokus pada kesenangan-kesenangan kecil pada saat itu yang berkebalikan dengan kengerian perang.

Para fotografer humanis juga bertujuan untuk membawa ke mata publik dan mengutuk ketidakadilan pada masa ini.

Jadi, mengapa genre fotografi ini dipimpin oleh orang Prancis?

Tingginya tingkat fotografer Prancis dalam gerakan fotografi humanis terlihat pada salah satu foto terkenal di dunia: The Kiss at the Hôtel de Ville oleh Robert Doisneau.

Le Baiser de l'Hôtel de Ville
Le Baiser de l'Hôtel de Ville yang terkenal milik Robert Doisneau. Sumber : The Genealogy of Style

Foto ini, yang menggambarkan pasangan sedang berbagi pelukan di jalan, adalah kesuksesan instan.

Dipublikasikan di majalah Life pada tahun 1950, foto ini tetap menjadi simbol Paris selama masa pasca perang.

Foto ini sendiri membantu orang memahami esensi fotografi humanis, karena menggambarkan pasangan mudah Prancis dalam lingkungan alami mereka.

Foto terkenal Doineau adalah bagian besar alasan mengapa gerakan humanis dalam fotografi diakui sebagai berasal dari Prancis.

Tersedia guru-guru Fotografi terbaik
Kursus pertama gratis!
Ade
5
5 (17 ulasan)
Ade
Rp65,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Pophie
5
5 (7 ulasan)
Pophie
Rp75,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Iswahyudi
5
5 (71 ulasan)
Iswahyudi
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Abi
5
5 (10 ulasan)
Abi
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Kreasinova
5
5 (2 ulasan)
Kreasinova
Rp200,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Riska
5
5 (14 ulasan)
Riska
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Rokhmania
4,9
4,9 (11 ulasan)
Rokhmania
Rp100,000
/jam
Kursus pertama gratis!
R trivano
4,7
4,7 (6 ulasan)
R trivano
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Ade
5
5 (17 ulasan)
Ade
Rp65,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Pophie
5
5 (7 ulasan)
Pophie
Rp75,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Iswahyudi
5
5 (71 ulasan)
Iswahyudi
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Abi
5
5 (10 ulasan)
Abi
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Kreasinova
5
5 (2 ulasan)
Kreasinova
Rp200,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Riska
5
5 (14 ulasan)
Riska
Rp150,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Rokhmania
4,9
4,9 (11 ulasan)
Rokhmania
Rp100,000
/jam
Kursus pertama gratis!
R trivano
4,7
4,7 (6 ulasan)
R trivano
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis>

Nama-Nama Besar dalam Fotografi Humanis

Ada beberapa orang yang membuat jejak mereka dalam sejarah dan gerakan humanis. Beriku adalah beberapa dari mereka:

Robert Doisneau

Dianggap sebagai bapak pendiri fotografi humanis, Robert Doisneau (1912 – 1994) adalah salah satu fotografer Prancis paling terkenal di adegan internasional.

Fotonya, The Kiss at the Hôtel de Ville, adalah simbol dari fotografi humanis.

Foto hitam putihnya seringkali merepresentasikan anak-anak sekolah atau pasangan yang berbagi momen intim. Foto-fotonya hampir selalu diambil di jalan, yang membuatnya menjadi representasi autentik Paris pada saat foto-foto itu diambil.

Karena alasan ini, fotografi jalanan memiliki banyak kesamaan dengan fotografi humanis.

Willy Ronis

Willy Ronis (1910-2009) adalah nama kunci lainnya dalam fotografi humanis, sebuah genre yang ia anggap sebagai ‘pandangan fotografer, yang mencintai manusia’.

Ronis adalah pemenang Grand Prix fotografi nasional pada tahun 1979, dan pemenang anugerah Nadar pada tahun 1981. Ia mengambil peran di pameran ‘Five French Photographers’ di Museum Seni Modern di New York bersama Brassaï, Henri Cartier-Bresson, Robert Doisneau, dan Izis.

Édouard Boubat

 ‘Saya rasa foto-foto yang kita sukai dibuat ketika fotografer tahu cara menyingkir. Jika hanya ada saru aturan untuk foto yang bagus, itu adalah aturan tersebut.’

Édouard Boubat (1923-1999), fotografer profesional untuk ulasan, Réalités, selama beberapa tahun juga merupakan gambaran utama dalam fotografi humanis.

Dipublikasikan oleh Gamma-Rapho, foto berperan sebagai potret masyarakat pasca perang.

Inilah yang dikatakan Jacques Prévert:

 ‘Boubat, seorang reporter perdamaian’

Izis

Izis, atau Israëlis Bidermanas (1911 – 1980) nama lengkapnya, adalah seorang fotografer Prancis dan jurnalis foto asal Lithuania.

Karya-karyanya dipublikasikan pertama kali di surat kabar komunis mingguan ‘Regards’.

Setelah itu, ia bekerja untuk Paris Match, tempat ia menerbitkan beberapa laporan menggunakan gaya fotografi humanis.

Henri Cartier-Bresson

Lahir pada 22 Agustus 1908 di dekat Paris, Henri Cartier-Bresson dianggap sebagai salah satu fotografer hebat di abad ke-20.

Cartier-Bresson adalah salah satu pendiri agensi penerbitan Magnum Photos.

Foto-fotonya sering digunakan dalam pres, memberinya status jurnalis foto. Ia menikmati membuat laporan di jalan dengan memotret tanpa menyiapkan adegan, membuat foto-fotonya alami dan spontan.

Kelahiran Foto Magnum

Didirikan pada tahun 1947 oleh Robert Capa, Henri Cartier-Bresson, George Rodger, dan David Seymour, sebelum penemuan kamera digital, Magnum Photos adalah agensi pertama untuk foto jurnalistik.

Para fotografer Magnum menyebarkan karya mereka di beberapa wilayah geografis.

Sementara Cartier-Bresson meliput India dan Timur Jauh, Capa bekerja di AS, Rodger di Afrika, dan Seymour di Eropa.

Ini adalah cara baru untuk mengatur pekerjaan fotografi.

kamera magnum
Karya pendiri Magnum akan diakui sebagai fotografi perjalanan saat ini. Sumber : Pixabay

Foto-foto Magnum mencakup banyak topik, termasuk keluarga, agama, perang, kemiskinan, dan kelaparan di seluruh dunia.

Sama seperti fotografer humanis, manusia adalah jantung dari minat Magnum

Bekerja sebagai tim memberi para fotografer peluang untuk memilih subjek dan mode kerjanya sendiri – hal ini memberi mereka kebebasan yang langka pada zaman itu.

Foto-foto Magnum muncul di majalah dan surat kabar seperti Life dan Paris Match.

Fotografi Humanis Saat Ini

Dengan kantor yang terletak di Paris, New York, London, dan Tokyo, Magnum masih berkembang dan saat ini mewakili sekitar enam puluh fotografer.

Para fotografer Magnum bekerja di banyak bidang termasuk foto jurnalistik, fotografi komersial, dan fotografi dokumenter.

Magnum juga bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah, mengaburkan batas antara foto jurnalistik dan fotografi humanis lebih jauh.

Esensi dari foto-foto agensi tersebut bisa selalu ditelusuri kembali ke pengamatan sehari-hari masyarakat.

Melalui momen-momen menyenangkan, perang, waktu luang, dan pekerjaan, para fotografer Magnum tahu cara menggunakan fotografi humanis untuk menciptakan gambar era mereka – dan sekarang mereka memiliki kemewahan fotografi digital!

Saat ini, banyak fotgrafer dan fotojurnalis terus menggunakan fotografi humanis dalam karya mereka.

Jika Anda tertarik dalam gaya fotografi ini, mendaftar kursus fotografi, baik untuk pemula atau kelas fotografi yang lebih lanjutan, dapat membantu Anda memahami dasar-dasar seni fotografi.

Kelas fotografi adalah opsi yang sempurna bagi siapa pun yang ingin mempelajari dasar-dasar fotografi untuk meningkatkan keterampilan fotografi mereka dan membawa pekerjaan mereka ke level selanjutnya melalui tutorial yang mudah dipahami.

Belajar fotografi adalah tentang lebih dari sekadar belajar menggunakan kamera. Pada sekolah fotografi, baik Anda fotografer pemula, menengah, atau amatir, Anda bisa belajar cara bekerja dengan photoshop lightroom dan adobe saat Anda menjelajahi passion dan kreativitas Anda dengan proyek-proyek fotografi makanan, misalnya.

Denga panduan dari instruktur yang berkualifikasi, Anda kan belajar semua hal tentang sisi teknis fotografi termasuk white balance, kecepatan rana, eksposur panjang, komposisi dan pencetakan, serta belajar kiat-kiat dan trik-trik fotografi yang berharga untuk digunakan dalam karya Anda sendiri.

Jadi, baik Anda ingin masuk ke dalam fotografi humanis, atau Anda mempertimbangkan gelar fotografi, menghadiri lokakarya dan kelas fotografi akan memberi Anda pelatihan fotografi yang Anda perlukan untuk mengembangkan gaya And sendiri dan berkembang sebagai fotografer.

Baca tentang fotografi hari ini di artikel kami tentang fotografi kontemporer.

Butuh guru Fotografi ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5 - 1 suara
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang