Agung - Guru desain - Kecamatan Bekasi Utara
Agung - Guru desain - Kecamatan Bekasi Utara

Profil Agung dan detail kontaknya telah diverifikasi oleh pakar kami

Agung

  • Tarif Rp900,000
  • Respon 24 jam
  • Murid

    Jumlah murid yang Agung ajar sejak bergabung dengan Superprof

    6

    Jumlah murid yang Agung ajar sejak bergabung dengan Superprof

Agung - Guru desain - Kecamatan Bekasi Utara
  • 5 (6 ulasan)

Rp900,000/jam

Reservasi kursus
  • Desain
  • Arsitektur

Kuliah Arsitektur Tidak Harus Dijalani Sendirian: Mentoring Mahasiswa Bersama Arsitek Praktisi. Mentoring mahasiswa arsitektur bersama Ar. R. Agung Widiono, IAI. Pendampingan studio, konsep desain, p

  • Desain
  • Arsitektur

Lokasi kursus

    • Online
    • Di rumah Anda atau di tempat publik : Bisa berpergian sampai 50 km dari Kecamatan Bekasi Utara

Direkomendasikan

Agung adalah seorang guru yang sangat dihargai oleh komunitas nya. Dia direkomendasikan karena keseriusannya, metode pengajarannya, dan kualitas kursusnya. Pilihan yang tepat untuk Anda untuk dapat berkembang dengan percaya diri.

Tentang Agung

Ar. R. Agung Widiono adalah arsitek lulusan Arsitektur Universitas Indonesia yang telah berpraktik sejak 2007. Ia anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan pemegang Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA).

Selama hampir dua dekade, ia menangani beragam proyek, terutama rumah tinggal, dari tahap konsep hingga bangunan berdiri di lapangan.
Saat ini Agung menjabat Manager Arsitek dan Senior Architect di RUMAH KLASIK, firma arsitek sekaligus kontraktor. Ia juga mendirikan dan memimpin RAW Arch Studio di Bekasi.

Karena bekerja di dua sisi, meja gambar dan lapangan, ia memandang desain bukan sekadar gambar yang indah. Baginya, desain adalah keputusan yang harus bisa dibangun, terjangkau, dan nyaman ditinggali.

Di luar praktik, Agung aktif membimbing generasi arsitek berikutnya. Ia mengajar AutoCAD dan SketchUp berbasis proyek nyata, mendampingi mahasiswa arsitektur dalam studio dan portofolio, serta menyiapkan lulusan baru agar siap bekerja. Prinsipnya sederhana: arsitek hebat jarang tumbuh sendirian, dan pengalaman paling berharga adalah pengalaman yang dibagikan.

Lihat lebih banyak

Tentang kursus ini

  • Semua tingkat
  • Inggris
  • Indonesia

Tersedia semua bahasa di kursus ini :

Inggris

Indonesia

Kuliah Arsitektur Tidak Harus Dijalani Sendirian: Mentoring Mahasiswa Bersama Arsitek Praktisi

Mentoring mahasiswa arsitektur bersama Ar. R. Agung Widiono, IAI. Pendampingan studio, konsep desain, portofolio, dan cara berpikir arsitek dari praktisi sejak 2007.

Malam sebelum asistensi
Ada satu perasaan yang hampir semua mahasiswa arsitektur kenal. Besok pagi asistensi studio, dan konsep desainmu masih kosong. Kamu sudah membuat lima sketsa, membuka puluhan referensi di Pinterest, dan menonton video arsitek terkenal, tetapi tetap tidak tahu mana yang "benar".

Keesokan harinya, dosen melihat gambarmu selama tiga puluh detik, lalu berkata, "Konsepnya belum kuat." Kamu mengangguk, pulang, dan mulai lagi dari nol. Minggu berikutnya, kalimat yang sama terdengar lagi.

Yang paling melelahkan bukan kurang tidur. Yang paling melelahkan adalah tidak tahu apa yang sebenarnya salah, dan tidak punya orang yang mau duduk bersamamu untuk mengurainya pelan-pelan.

Saya pernah duduk di kursi yang sama
Nama saya Agung Widiono. Saya lulusan Arsitektur Universitas Indonesia, dan saya masih ingat betul rasanya menjadi mahasiswa studio: bangga saat konsep diterima, frustrasi saat maket harus dibongkar, dan bingung saat kritik terasa terlalu singkat untuk dipahami.
Sejak 2007 saya berpraktik sebagai arsitek. Saat ini saya Manager Arsitek dan Senior Architect di RUMAH KLASIK, firma arsitek dan kontraktor, sekaligus menjalankan studio saya sendiri, RAW Arch Studio di Bekasi. Saya anggota IAI dan memegang STRA, lisensi yang menandakan saya bertanggung jawab secara profesional atas desain yang saya tanda tangani.

Selama hampir dua dekade itu, saya juga mendampingi arsitek-arsitek muda. Dari situ saya belajar satu hal penting: kebanyakan mahasiswa yang kesulitan bukan kurang berbakat. Mereka hanya belum diberi cara berpikir yang jelas.

Kenapa kuliah saja sering terasa belum cukup
Dosen studio umumnya membimbing banyak mahasiswa sekaligus, dengan waktu asistensi yang terbatas. Kritik yang diberikan sering kali tepat, tetapi singkat. Mahasiswa yang sudah paham bisa langsung menangkap maksudnya. Mahasiswa yang belum paham pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Selain itu, ada jarak besar antara kampus dan dunia praktik. Di kampus, kamu diajari estetika, teori, dan konsep. Di praktik, desain juga harus lolos anggaran klien, logika struktur, aturan setempat, dan kenyataan bahwa tukang di lapangan akan membaca gambarmu apa adanya.
Mentoring mengisi celah itu. Bukan menggantikan dosen, dan bukan mengerjakan tugasmu, tetapi menjadi teman berpikir yang sudah berjalan lebih jauh di jalan yang sama.

Apa yang kita kerjakan bersama
Setiap mahasiswa datang dengan kebutuhan berbeda. Karena itu mentoring disusun berdasarkan di mana kamu berada sekarang, bukan berdasarkan kurikulum yang kaku. Secara umum, ada lima area yang biasanya kita bahas.

1. Membangun konsep yang bisa dipertahankan. Konsep yang kuat bukan kalimat puitis di lembar presentasi. Konsep yang kuat adalah alasan yang bisa menjelaskan setiap keputusan desain, dari orientasi bangunan sampai ukuran jendela. Kita akan berlatih menurunkan konsep dari tapak, pengguna, dan masalah nyata, sehingga saat ditanya "kenapa begini?", kamu punya jawaban.

2. Membaca dan menjawab kritik dosen. Kritik studio sering terdengar abstrak: "massanya belum enak", "sirkulasinya belum jelas". Dalam sesi mentoring, kita bedah maksud kritik itu menjadi langkah konkret yang bisa kamu kerjakan malam itu juga.

3. Logika praktik di balik desain. Kamu akan mulai berpikir seperti arsitek yang membangun: bentang struktur yang masuk akal, ketinggian lantai, tangga yang nyaman, kamar mandi yang tidak bocor, dan material yang tersedia di pasar. Desain yang memahami logika ini justru lebih bebas berkreasi, karena tidak runtuh saat diuji.

4. Teknik presentasi dan representasi. Gambar yang bagus tetapi tidak bercerita akan kalah dari gambar sederhana yang jelas. Kita akan membahas cara menyusun lembar presentasi, diagram, dan urutan cerita agar juri dan dosen menangkap idemu dalam hitungan detik. Bila perlu, kita juga memperkuat penggunaan AutoCAD dan SketchUp untuk mendukung itu.

5. Portofolio dan arah karier. Bahkan sejak semester awal, kamu bisa mulai mengumpulkan karya dengan cara yang benar. Kita akan membahas karya mana yang layak masuk portofolio, bagaimana menampilkannya, dan bagaimana memilih tempat magang yang benar-benar membuatmu berkembang.

Bukan jalan pintas, tapi jalan yang lebih terang
Saya perlu jujur sejak awal: mentoring ini tidak mengerjakan tugasmu. Saya tidak akan menggambar untukmu, dan saya tidak akan membuatkan konsep untuk kamu kumpulkan.

Alasannya sederhana. Kalau saya yang mengerjakan, kamu akan lulus mata kuliah itu, tetapi kehilangan hal yang paling berharga dari kuliah arsitektur: kemampuan berpikir sendiri. Kemampuan itulah yang akan dibayar mahal oleh klien dan kantor arsitek kelak.

Yang saya lakukan adalah bertanya, menantang, memberi contoh dari proyek nyata, dan menunjukkan pola. Sampai suatu saat kamu sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sudah bisa kamu tanyakan sendiri, tanpa saya.

Seperti apa perubahannya
Bayangkan kembali malam sebelum asistensi tadi, beberapa bulan kemudian.
Kamu tetap begadang, karena arsitektur memang menuntut kerja keras. Tetapi kali ini kamu tahu apa yang sedang kamu kerjakan. Konsepmu punya alasan. Denahmu punya logika sirkulasi. Saat dosen berkata "belum kuat", kamu bisa bertanya balik dengan tepat: "Belum kuat di bagian hubungan ruang dalam dan luar, Pak?"

Percakapan berubah dari kritik satu arah menjadi diskusi. Dan diskusi seperti itu adalah tanda bahwa kamu mulai berpikir seperti arsitek, bukan sekadar mahasiswa yang menunggu dinilai.
Perubahan lain biasanya muncul diam-diam: rasa percaya diri. Mahasiswa yang dulu takut presentasi mulai berani mempertahankan idenya. Yang dulu mengikuti tren mulai punya sikap desain sendiri.

Untuk siapa mentoring ini
* Mahasiswa semester awal yang masih mencari cara berpikir desain dan ingin membangun kebiasaan yang benar sejak dini.
* Mahasiswa semester tengah yang mulai kewalahan dengan studio yang makin kompleks, misalnya bangunan bertingkat, fungsi campuran, atau kawasan.
* Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyiapkan tugas akhir dan butuh teman diskusi yang memahami praktik.
* Mahasiswa yang merasa "salah jurusan" padahal sebenarnya hanya belum menemukan cara belajar yang cocok.
* Orang tua yang ingin anaknya mendapat pendampingan dari praktisi berpengalaman selama masa kuliah.
Untuk orang tua: investasi yang terlihat hasilnya
Banyak orang tua melihat anaknya kuliah arsitektur dengan campuran bangga dan khawatir. Bangga karena jurusannya bergengsi, khawatir karena melihat anaknya sering begadang, stres, dan biaya bahan tugas yang tidak sedikit.

Mentoring memberi anak Anda seseorang yang memahami dunia arsitektur dari dalam, yang bisa membantu mereka bekerja lebih terarah, bukan sekadar lebih lama. Saya sendiri seorang ayah, dan saya paham bahwa yang orang tua inginkan bukan hanya nilai bagus, tetapi anak yang tumbuh percaya diri dan siap mandiri.

Anda bisa berdiskusi dengan saya terlebih dahulu tentang kondisi anak Anda sebelum memutuskan, sehingga programnya benar-benar sesuai kebutuhan.

Bagaimana mentoring berjalan
1. Sesi perkenalan. Kita bicara tentang semester, mata kuliah studio, kesulitan utama, dan target yang ingin dicapai.
2. Peta kebutuhan. Dari sesi pertama, saya menyusun fokus pendampingan: konsep, teknis, presentasi, atau portofolio.
3. Sesi rutin. Pertemuan berkala untuk membedah progres tugas, membahas kritik, dan melatih cara berpikir.
4. Evaluasi. Di titik tertentu kita melihat kembali apa yang sudah berubah dan apa yang perlu diperkuat.
Sesi bisa dilakukan tatap muka janji temu, atau online

Kenapa memilih mentor praktisi

* Pengalaman nyata sejak 2007. Bukan teori dari buku, tetapi keputusan desain yang sudah diuji di lapangan.
* Dua sisi dunia arsitektur. Sebagai Manager Arsitek di firma arsitek-kontraktor dan principal studio sendiri, saya melihat desain dari meja gambar sampai proyek berdiri.
* Berlisensi dan terdaftar. Anggota IAI dan pemegang STRA.
* Pendekatan personal. Satu mahasiswa, satu peta kebutuhan, bukan materi seragam untuk semua orang.
* Terhubung dengan program lain. Bila butuh penguatan software, kamu bisa mengambil kelas AutoCAD dan SketchUp; menjelang lulus, ada program mentoring siap kerja.

Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah mentoring ini bertentangan dengan arahan dosen? Tidak. Dosen tetap menjadi penentu arah dan penilai tugasmu. Peran saya membantu kamu memahami arahan itu lebih dalam dan menerjemahkannya menjadi langkah kerja. Kalau ada perbedaan pendapat, yang kita latih adalah cara berdiskusi dengan dosen secara dewasa, bukan cara melawannya.

Saya kuliah di kampus lain, bukan UI. Apakah tetap bisa? Tentu. Prinsip berpikir desain dan logika praktik berlaku di mana pun kamu kuliah. Kita akan menyesuaikan pendampingan dengan kurikulum, format studio, dan gaya penilaian di kampusmu.

Bagaimana kalau saya merasa tidak berbakat? Pertanyaan ini lebih sering muncul daripada yang kamu kira. Dalam pengalaman saya, banyak yang merasa tidak berbakat sebenarnya hanya belum punya metode. Bakat membantu, tetapi metode, latihan, dan umpan balik yang tepat jauh lebih menentukan siapa yang bertahan dan berkembang di dunia arsitektur.

Berapa lama sampai terasa hasilnya? Biasanya perubahan pertama terasa dalam beberapa sesi, terutama dalam cara kamu menyusun konsep dan menjawab kritik. Perubahan yang lebih dalam, seperti sikap desain dan rasa percaya diri, tumbuh seiring waktu dan latihan. Mentoring bukan sulap, tetapi arahnya akan terasa jauh lebih jelas sejak awal.

Apakah orang tua boleh ikut di sesi pertama? Boleh, dan seringkali itu justru membantu. Orang tua bisa mendengar langsung bagaimana pendampingan berjalan, apa targetnya, dan bagaimana mereka bisa mendukung anaknya di rumah tanpa harus ikut memahami semua istilah arsitektur.

Bisakah mentoring dilakukan hanya menjelang tugas besar atau tugas akhir? Bisa. Sebagian mahasiswa memilih pendampingan rutin sepanjang semester, sebagian lagi memilih intensif menjelang presentasi akhir atau sidang tugas akhir. Kita tentukan bersama di sesi perkenalan, sesuai kebutuhan dan kemampuanmu.

Yang perlu kamu siapkan sebelum sesi pertama
Agar sesi pertama langsung bermakna, bawalah tugas studio yang sedang kamu kerjakan, sekalipun masih berantakan. Sketsa coretan, denah setengah jadi, atau maket yang belum selesai justru sangat berguna, karena dari situ saya bisa melihat cara berpikirmu yang sebenarnya.

Bawa juga catatan kritik dosen terakhir, kalau ada. Kalimat-kalimat yang terasa membingungkan itu akan menjadi bahan diskusi pertama kita. Terakhir, siapkan satu pertanyaan yang paling mengganjal di kepalamu tentang kuliah arsitektur, sekecil atau sebesar apa pun.
Kamu tidak perlu datang dengan karya yang sempurna. Kamu cukup datang dengan kejujuran tentang di mana posisimu sekarang. Dari titik itulah kita mulai berjalan.

Arsitek hebat jarang tumbuh sendirian
Hampir setiap arsitek yang saya kenal punya satu atau dua orang yang mengubah cara mereka melihat desain. Seorang senior di kantor, seorang dosen yang mau meluangkan waktu, atau seorang praktisi yang mau menjawab pertanyaan bodoh tanpa menghakimi.
Kamu juga layak punya orang seperti itu, sekarang, saat masih kuliah, bukan nanti setelah semuanya terlambat.

Kalau kamu, atau anak Anda, sedang berada di malam-malam panjang sebelum asistensi dan butuh teman berpikir, hubungi RAW Arch Studio melalui Instagram @raw_architects atau @studio_raw.arch, atau kunjungi therawarchitects.com untuk menjadwalkan sesi perkenalan.
Kuliah arsitektur memang berat. Tapi tidak harus dijalani sendirian.

Di jendela sebelahnya, SketchUp terbuka. Modelnya terlihat bagus dari satu sudut, tetapi begitu diputar, atapnya bolong, dindingnya menembus lantai, dan file-nya sudah 400 MB karena ribuan komponen sofa yang diunduh sembarangan.

Kalau cerita ini terasa akrab, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang yang belajar software arsitektur melewati malam seperti itu. Masalahnya bukan kurang rajin. Masalahnya, mereka diajari tombol, bukan cara berpikir.

Software bukan tujuan, bangunan adalah tujuan
Saya Agung Widiono. Saya berpraktik sebagai arsitek sejak 2007, lulusan Arsitektur Universitas Indonesia, anggota IAI, dan memegang STRA. Saat ini saya menjabat Manager Arsitek dan Senior Architect di RUMAH KLASIK, sebuah firma arsitek sekaligus kontraktor, dan menjalankan studio saya sendiri, RAW Arch Studio, di Bekasi.
Selama hampir dua dekade itu, AutoCAD dan SketchUp adalah alat kerja harian saya. Bukan untuk latihan, bukan untuk tugas kuliah, tetapi untuk gambar yang dibawa tukang ke lapangan, dibaca mandor, dihitung estimator, dan akhirnya berdiri menjadi rumah yang ditinggali keluarga.

Di dunia nyata, satu garis yang salah di gambar kerja bisa berarti kusen yang tidak muat, tangga yang terlalu curam, atau balok yang menabrak jendela. Kesalahan seperti itu tidak dibayar dengan nilai C. Ia dibayar dengan uang klien, waktu tukang, dan reputasi arsitek.
Itulah yang membedakan kursus ini. Saya tidak mengajarkan AutoCAD dan SketchUp sebagai software. Saya mengajarkannya sebagai bahasa untuk membangun.

Kenapa banyak orang sudah kursus tapi tetap bingung
Tutorial di YouTube jumlahnya ribuan, dan banyak yang bagus. Lembaga kursus komputer juga ada di mana-mana. Lalu kenapa masih banyak yang merasa "bisa software" tapi tidak bisa menghasilkan gambar yang layak dipakai?
Jawabannya sederhana: kebanyakan materi diajarkan oleh orang yang menguasai software, tetapi tidak setiap hari memakai software itu untuk proyek bangunan. Mereka tahu letak menu, tetapi tidak selalu tahu kenapa tebal garis dinding potong harus berbeda dengan garis tampak, atau kenapa denah untuk klien berbeda dengan denah untuk tukang.

Akibatnya, peserta pulang dengan hafalan perintah tetapi tanpa sistem. Mereka bisa menggambar satu denah, tetapi kewalahan saat harus menyusun satu set gambar lengkap yang konsisten dari denah, tampak, potongan, sampai detail.

Di kelas saya, setiap perintah selalu datang bersama alasannya. Anda tidak hanya tahu cara membuat layer, Anda tahu layer apa saja yang dipakai kantor arsitek, kenapa namanya disusun begitu, dan bagaimana sistem itu menyelamatkan Anda saat revisi datang jam sembilan malam dari klien.

Apa yang Anda pelajari di kelas AutoCAD
AutoCAD adalah tulang punggung gambar kerja di Indonesia. Kontraktor, konsultan, dan pemerintah daerah masih membaca gambar dalam format DWG. Menguasainya dengan benar adalah tiket masuk ke dunia kerja konstruksi.

Materi AutoCAD disusun mengikuti alur sebuah proyek rumah tinggal, dari nol sampai siap cetak:
1. Persiapan file seperti kantor profesional. Template, satuan, sistem layer, gaya teks dan dimensi, serta pengaturan tebal garis yang dipakai di praktik.
2. Denah yang benar secara konstruksi. Grid as kolom, tebal dinding sesuai material, kusen, arah bukaan pintu, dan penomoran ruang yang rapi.
3. Tampak dan potongan yang konsisten. Menurunkan ketinggian dari denah, membaca level lantai, plafon, dan atap tanpa menebak-nebak.
4. Detail yang bisa dibangun. Detail tangga, kusen, kamar mandi, dan sambungan sederhana yang benar-benar dipakai tukang di lapangan.
5. Layout, skala, dan plotting. Menyusun lembar gambar dengan kop, skala yang tepat, dan hasil cetak yang tebal-tipisnya terbaca jelas, baik untuk PDF maupun kertas.
6. Kecepatan kerja. Block, xref, dan kebiasaan kecil yang memangkas jam kerja tanpa mengorbankan ketelitian.

Di akhir kelas, target saya bukan Anda hafal 200 perintah. Target saya, Anda bisa menyerahkan satu set gambar yang kalau dibawa ke tukang, mereka mengerti tanpa harus menelepon Anda berkali-kali.
Apa yang Anda pelajari di kelas SketchUp

Kalau AutoCAD adalah bahasa untuk tukang, SketchUp adalah bahasa untuk klien. Di sinilah ide berubah menjadi sesuatu yang bisa dilihat, diputar, dan dirasakan sebelum satu bata pun dipasang.
Tapi model 3D yang baik bukan sekadar terlihat cantik di screenshot. Model yang baik bisa direvisi dengan cepat, ringan dibuka, dan akurat terhadap gambar kerja. Materi SketchUp mencakup:
1. Modeling dari gambar CAD. Mengimpor denah DWG dan membangun massa dengan ukuran yang tepat, bukan kira-kira.
2. Disiplin group dan component. Kebiasaan yang membuat model tetap rapi, tidak saling menempel, dan mudah diubah saat klien minta jendela digeser.
3. Tags dan scenes. Mengatur tampilan untuk presentasi: eksterior, interior, potongan, dan tahap pembangunan.
4. Material dan pencahayaan dasar. Memilih tekstur yang realistis tanpa membuat file membengkak.
5. Fasad dan interior. Membuat detail fasad, kanopi, railing, dan furnitur sederhana dengan proporsi yang benar.
6. Persiapan untuk render dan presentasi. Menyiapkan model agar siap dipakai di software render, serta menyusun gambar presentasi yang meyakinkan klien.

Yang paling sering membuat peserta terkejut adalah betapa cepatnya pekerjaan mereka setelah punya sistem. Revisi yang dulu makan satu malam bisa selesai dalam satu jam, karena modelnya tersusun dengan benar sejak awal.

Belajar dari proyek nyata, bukan latihan kosong
Salah satu hal yang paling saya pegang dalam mengajar adalah: latihan harus terasa seperti pekerjaan sungguhan. Karena itu, materi kelas berangkat dari tipe proyek yang benar-benar kami tangani di RAW Arch Studio dan di lapangan, misalnya rumah tinggal dua lantai, renovasi, atau fasad rumah klasik.

Anda akan melihat bagaimana sebuah ide sketsa berubah menjadi model SketchUp untuk presentasi, lalu diturunkan menjadi gambar kerja AutoCAD, lalu dibaca di lapangan. Rantai inilah yang jarang diajarkan di kursus biasa, padahal inilah yang dipakai setiap hari di kantor arsitek dan kontraktor.

Saya juga akan berbagi kesalahan. Kesalahan saya sendiri di awal karier, dan kesalahan yang sering saya temukan saat memeriksa gambar arsitek muda. Belajar dari kesalahan orang lain jauh lebih murah daripada mengalaminya sendiri di proyek.

Lima kesalahan yang paling sering saya temukan
Setiap kali memeriksa gambar mahasiswa, drafter baru, atau arsitek muda, ada kesalahan yang muncul berulang kali. Kesalahan ini kecil di layar, tetapi bisa mahal di lapangan. Di kelas, kita akan membongkarnya satu per satu.

1. Menggambar tanpa skala yang jelas. Banyak orang menggambar dengan angka sembarang, lalu mencoba "menyesuaikan" saat mencetak. Hasilnya, teks terlalu kecil, dimensi tidak terbaca, dan ukuran di kertas tidak bisa dipercaya. Di kelas, Anda akan menggambar di skala 1:1 dan mengatur skala hanya di layout, seperti yang dilakukan kantor profesional.

2. Semua objek di satu layer. Dinding, furnitur, teks, dan dimensi bercampur jadi satu. Begitu klien minta denah tanpa furnitur, Anda harus menghapus satu per satu. Dengan sistem layer yang benar, perubahan seperti itu cukup satu klik.

3. Denah, tampak, dan potongan yang tidak saling bicara. Jendela di denah lebarnya 120 cm, di tampak 100 cm. Tinggi lantai di potongan berbeda dengan tampak. Kesalahan seperti ini membuat kontraktor bingung dan bisa memicu biaya tambahan. Kita akan berlatih menurunkan gambar dari satu sumber agar semuanya konsisten.

4. Model SketchUp yang "lengket". Garis dan bidang saling menempel karena tidak dikelompokkan. Begitu satu dinding dipindah, lantai ikut tertarik dan atap ikut rusak. Disiplin group dan component sejak garis pertama akan menyelamatkan Anda dari jam-jam frustrasi.

5. Mengejar cantik sebelum benar. Material dan render dikerjakan lebih dulu, padahal ukuran dan proporsinya belum tepat. Akibatnya, setiap revisi kecil berarti mengulang render dari awal. Urutan yang benar adalah benar dulu, lalu rapi, baru cantik.
Kalau Anda membaca daftar ini dan merasa "itu saya banget", jangan khawatir. Kesalahan-kesalahan ini sangat wajar, dan semuanya bisa diperbaiki dengan kebiasaan yang tepat. Justru karena itulah kelas ini dibuat.

Untuk siapa kursus ini?

Kursus ini cocok untuk Anda yang:
• Mahasiswa arsitektur atau desain interior yang ingin tugas studionya lebih rapi, lebih cepat, dan lebih meyakinkan di depan dosen.
• Fresh graduate yang ingin portofolio dan keterampilannya siap dipakai di hari pertama kerja.
• Drafter atau staf teknik di kontraktor atau developer yang ingin naik kelas, dari sekadar menggambar menjadi memahami gambar.
• Pemilik usaha konstruksi, interior, atau properti yang ingin bisa membaca dan merevisi gambar sendiri.
• Siapa pun yang sedang beralih karier ke dunia desain dan bangunan, dan ingin mulai dengan fondasi yang benar.
Anda tidak perlu jago komputer. Yang Anda perlukan hanya laptop yang cukup kuat, kemauan untuk berlatih, dan kesediaan untuk bertanya.

Kelas kecil, perhatian penuh
Saya sengaja tidak membuat kelas besar. Dalam kelas yang ramai, peserta yang tertinggal sering diam karena malu, dan akhirnya pulang tanpa benar-benar paham. Di kelas kecil atau privat, saya bisa melihat layar Anda, memperbaiki kebiasaan yang keliru saat itu juga, dan menyesuaikan kecepatan dengan kemampuan Anda.
Setiap peserta akan pulang dengan file kerja sendiri yang bisa dijadikan template, catatan langkah kerja, dan, yang paling penting, rasa percaya diri saat membuka file kosong.

Yang berubah setelah kursus
Bayangkan kembali mahasiswa tadi, jam dua pagi. Sekarang skenarionya berbeda.
Ia membuka template yang sudah tersusun. Layer-nya rapi, dimensinya otomatis menyesuaikan skala. Model SketchUp-nya ringan dan setiap bagian bisa digeser tanpa merusak bagian lain. Ketika dosen bertanya tebal dinding, ia menjawab tanpa ragu, karena ia tahu persis dari mana angka itu berasal.

Ia tidur jam sebelas malam. Bukan karena tugasnya lebih sedikit, tetapi karena cara kerjanya sudah benar.
Itulah yang saya tawarkan. Bukan janji jadi ahli dalam seminggu, tetapi sistem kerja yang akan Anda pakai selama bertahun-tahun ke depan.

Kenapa belajar dengan RAW Arch Studio
• Diajar langsung oleh arsitek berlisensi. Ar. R. Agung Widiono, S.Ars, IAI, pemegang STRA, berpraktik sejak 2007.
• Berbasis proyek nyata. Materi diambil dari alur kerja kantor arsitek dan kontraktor, bukan dari buku manual software.
• Dua software, satu alur. AutoCAD dan SketchUp diajarkan saling terhubung, seperti cara keduanya dipakai di praktik.
• Kelas kecil atau privat. Perhatian personal, kecepatan disesuaikan.
• Bisa lanjut ke mentoring. Peserta yang ingin melangkah lebih jauh bisa melanjutkan ke program mentoring karier arsitektur.
Detail kelas
• Format: privat atau kelompok kecil (maksimal 2 orang)
• Lokasi: janji temu atau online
• Durasi: 8 pertemuan × 2 jam (total 16 jam)
• Yang perlu dibawa: laptop dengan AutoCAD dan SketchUp terpasang

Mulai dari file kosong yang tidak lagi menakutkan
Setiap arsitek pernah menatap layar kosong dan tidak tahu harus mulai dari mana. Bedanya, arsitek yang punya sistem tahu langkah pertamanya, lalu langkah kedua, lalu seterusnya, sampai gambarnya selesai dan siap dibangun.

Kalau Anda siap berhenti menebak-nebak dan mulai bekerja dengan cara yang dipakai para profesional, hubungi RAW Arch Studio melalui Instagram @raw_architects atau @studio_raw.arch, atau kunjungi therawarchitects.com untuk menjadwalkan kelas pertama Anda.
Garis pertama Anda yang benar dimulai dari sini.

Lihat lebih banyak

Tarif

Tarif

  • Rp900,000

Tarif paket

  • 5 jam: Rp4,500,000
  • 10 jam: Rp9,000,000

online

  • Rp 900,000/jam

Lebih Detil

Bisa mentoring bulanan atau semesteran untuk mendampingi Mahasiswa menghadapi mata kuliah perancangan

Guru Desain lain yang ada di Kecamatan Bekasi Utara