Louvre sejauh ini adalah museum terbesar di Paris serta merupakan museum yang paling banyak dikunjugi di Prancis. Baik koleksi permanen atau pameran temporernya, Louvre adalah rumah bagi ribuan karya seni termasuk contoh-contoh lukisan, patung, barang antik Mesir, dan kesenian Islam yang luar biasa.

Setiap mahakarya, mulai dari Kemenangan Bersayap Samothrace hingga Venus de Milo, layak dilihat. Ada beberapa museum di dunia dengan koleksi yang mengesankan seperti itu.

Anda bisa menemukan Louvre di Arondisemen 1 Paris, di dekat Taman Tuileries dan Istana Tuileries. Ini adalah situs budaya paling populer di Prancis, yang lebih banyak dikunjungi daripada Menara Eiffel dan Notre Dame.

Superprof merekomendasikan karya-karya seni ini jika Anda berada di Museum Louvre.

Tersedia guru-guru Melukis terbaik
Argya
5
5 (46 ulasan)
Argya
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Jihan
4,9
4,9 (18 ulasan)
Jihan
Rp55,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Sheba
5
5 (11 ulasan)
Sheba
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Lydia dumaria
5
5 (13 ulasan)
Lydia dumaria
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anika
5
5 (11 ulasan)
Anika
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fedra
5
5 (14 ulasan)
Fedra
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dayna fitria
5
5 (10 ulasan)
Dayna fitria
Rp100,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Rianti
5
5 (8 ulasan)
Rianti
Rp135,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Argya
5
5 (46 ulasan)
Argya
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Jihan
4,9
4,9 (18 ulasan)
Jihan
Rp55,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Sheba
5
5 (11 ulasan)
Sheba
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Lydia dumaria
5
5 (13 ulasan)
Lydia dumaria
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anika
5
5 (11 ulasan)
Anika
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fedra
5
5 (14 ulasan)
Fedra
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dayna fitria
5
5 (10 ulasan)
Dayna fitria
Rp100,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Rianti
5
5 (8 ulasan)
Rianti
Rp135,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Mulai

Mona Lisa karya Leonardo da Vinci

Tidak ada museum lain di dunia yang memiliki karya seterkenal Mona Lisa karya seniman Italia Leonardo da Vinci.

Senyum misterius La Joconde menyembunyikan lebih dari beberapa rahasia, salah satunya adalah koneksi yang lemah ke Amerika.

Menelaah kata Italia ‘Mona’ lebih dekat, kami menemukan bahwa ini adalah cara yang sopan untuk menyapa wanita; seperti ‘Nyonya’ atau ‘Nona’ dalam bahasa Indonesia. Kata ini berasal dari istilah Italia ‘ma donna’.

ekspresi wajah mona lisa
Anda akan bergumul untuk mendekati Mona Lisa di Louvre tetapi hal itu sepadan. (Sumber Wikimedia Commons)

Penikmat seni Italia merujuk karya ini sebagai Monna Lisa; ejaan kecil ini lebih akurat daripada versi ‘N’ yang dihilangkan agar umum dalam bahasa Inggris.

Ada alasan yang bagus mengapa bangsa Italia lebih suka ejaan ini: ‘Mona’, di beberapa dialek Italia, dianggap vulgar; sebuah cercaan. Terjemahannya adalah ‘monyet’.

Monyet Lisa? Mungkin penutur bahasa Inggris mana pun harus menambahkan ekstra ‘N’...

Subjek lukisan tersebut dan senimannya memiliki darah Italia dan karya tersebut dilukis jauh sebelum siapa pun di Eropa mengetahui tentang Amerika, apa hubungan Monna Lisa dengan Amerika?

Di perpustakaan Universitas Heidelberg terdapat volume cetak yang ditulis oleh filsuf Romawi, Cicero.

Di margin buku itu, di sebelah entri yang merincikan keterampilan artistik pelukis Yunani Kuno Apelles dari Koso, adalah catatan tulisan tangan bahwa keterampilan melukis da Vinci setidaknya sehebat keterampilan seniman Yunani itu. Selanjutnya disebutkan bahwa Leonardo sedang melukis Lisa del Giocondo pada saat itu.

Sedikit teks inilah, yang ditemukan pada tahun 2005, yang memberi kita bukti konklusif bahwa lukisan ini memang karya Leonardo da Vinci.

Penulis catatan kecil itu adalah Agostino Vespucci yang sepupunya, bernama Amergio, merupakan seorang bangsa Eropa yang menginjakkan kaki di Amerika, yang kemudian dinamai menurut namanya.

Ah, rahasia di balik senyum Monna Lisa!

Permata seni Renaisans ini penting jika Anda mengunjungi Louvre. Lukisan tersebut diakuisisi oleh Francis I dari Prancis setelah kematian seniman tersebut karena raja adalah penyokongnya.

Karya ini telah menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang muncul setelah da Vinci. Teknik yang digunakan, senyumannya, tatapannya, latar belakangnya, membuat semua pengamat penasaran selama berabad-abad.

The Coronation of Napoleon karya Jacques-Louis David

The Coronation of Napoleon adalah sebuah karya yang dibuat oleh Jacques-Louis David, seorang pelukis neoklasik asal Prancis, antara tahun 1805 dan 1807.

Karya tersebut menampilkan Napoleon I, Kaisar Prancis, dimahkotai di Notre-Dame de Paris. Anda bisa melihat Napoleon memahkotai Permaisuri Josephine setelah dirinya dimahkotai oleh Paus Pius VII.

Tablo ini sangat besar, tidak diragukan lagi besarnya peristiwa yang digambarkannya. Berukuran lebih dari enam meter kali hampir 10 meter, kanvas tersebut punya banyak ruang untuk menggambarkan keagungan acara tersebut dalam kemegahan penuh.

Aspek penting lain dari karya ini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuatnya.

Napoleon memesannya pada September 1804 namun Tuan David bahkan tidak memulai sketsa awalnya hingga lebih dari setahun kemudian. Ia dan muridnya, Georges Rouget, mengerjakannya selama lebih dari dua tahun sebelum menunukkannya di Spring Salon di Paris.

Lukisan itu muncul lagi di Salon pada 1810, kali ini sebagai penyerahan hadiah sepuluh tahun. Kemudian, Tuan David menyimpannya selama sembilan tahun berikutnya sebelum akhirnya memindahkannya ke Museum Royal Prancis.

Bahkan saat itu belum ditampilkan. Setelah disimpan di ruang penyimpanan selama 27 tahun, lukisan tersebut akhirnya dipasang di 'Chambre Sacrée' di museum Istana Versailles.

Pada 1889, The Coronation of Napoleon akhirnya tiba di Louvre.

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa Napoleon Bonaparte, seorang pria angkuh yang umumnya tidak dikenal sebagai toleran atau murah hati mengizinkan penundaan semacam itu dalam menerima pekerjaan yang telah ditugaskannya, dan mengapa Jean-Louis David menyimpan kanvas besar itu ketimbang menyerahkannya ke pejabat mana pun.

Salah satu alasannya, kaisar Prancis agak berapi-api, ia mendapatkan banyak masalah politik dan sering menjadi sasaran pembunuh. Ia juga menyukai perkelahian yang bagus; kampanye militernya banyak dan legendaris. Mungkin ia sekadar tidak punya waktu untuk menanyakan tentang lukisan penobatannya.

Napoleon wafat pada Mei 1821. Ia telah hidup di pengasingan sejak Desember 1815 di pulau St Helena. Selama masa itu, ia tidak diperbolehkan menerima hadiah yang berkaitan dengan dengan statusnya sebagai kaisar. Begitu juga, tidak ada kenaikan kekuasaannya yang ditampilkan.

Sayang sekali! Lukisan tersebut memiliki simbolisme dan detail yang luar biasa; sebuah harta karun neoklasik sejati.

Ini bukan satu-satuya masa ketika kaisar Prancis muncul dalam karya di Louvre; ada potret Napoleon III yang dilukis oleh Winterhalte dari tahun 1853.

Temukan kelas melukis Bandung di Superprof.

lukisan korban kapal tenggelam
Rakit naas ini menggambarkan semua penderitaan dan tragedi kapal karam. Sumber : Wikipedia

The Raft of the Medusa karya Géricault

"The Raft of the Medusa" karya Géricault, seperti banyak karya-karya lainya di Louvre, menujukkan adegan yang mengesankan. Lukisan tersebut menampilkan kapal karam fregat Medusa, sebuah kapal kolonial Pancis yang tenggelam pada 1816 di dekat Mauritania.

Dari 147 awak kapal, hanya 10 yang selamat. Karya ini menampilkan keputusasaan dalam kelaparan, kehausan, kegilaan, dan kanibalisme berikutnya.

Tidak mengejutkan bahwa Theodore Géricault memilih tema yang mencakup hal seperti itu; lukisan itu mencakup segala hal yang membuatnya terpesona, kuda-kuda yang selamat.

Tuan Géricault terpikat pada berkuda dan, saat melakukan olahraga tersebut, mengalami cedera parah sehingga cedera tersebut berakibat pada kematian dininya. Ia juga menderita tuberkolosis kronis; dua kondisi tersebut membuatnya melemah secara bertahap.

Namun, betapa berbakatnya ia melukis dengan tangan!

Ia bisa melukis kuda dengan begitu hidup sehingga Anda mungkin mengira mereka akan mendengus atau meringkik. Lanskap dan potretnya, dilukis dengan gaya neoklasik, sangat mirip dengan kehidupan sehingga Anda mungkin berbicara dengan orang itu atau berjalan ke dalam lukisan pemandangan tersebut.

Ilmu humaniora membuat para pelukis muda kita terpesona.

Meniru da Vinci dalam daya tarik mengerikannya terhadap tubuh manusia, Géricault mengunjungi kamar mayat untuk mengamati kekakuan rigor mortis dan menangkap warna yang tepat dari daging manusia yang mati.

Ia membawa anggota tubuh yang terputus ke rumah untuk merekam dekomposisinya dan, sekali, di atap studionya ia menyimpan kepala yang dipenggal yang ia lukis berulang kali.

Konsensusnya adalah bahwa dia adalah orang yang harus dihindari bagaimanapun caranya. Penghakiman ini dan akibat perlakuan terhadap dirinya oleh masyarakat membuat kesehatan mentalnya memburuk.

Cukup anehnya, itu terbukti bermanfaat bagi seniman muda yang, menjelang akhir hidupnya, melukis serangkaian lukisan yang disebut Les Monomanes, juga dikenal sebagai Portraits of the Insane.

Sedalam The Insane, karya paling ambisus dan terhebatnya tetaplah The Raft of the Medusa.

Karya tersebut membantu menginspirasi para seniman lainnya termasuk:

  • William Turner
  • Eugène Delacroix
  • Gustave Courbet
  • Édouard Manet

Karya ini dibeli oleh Louvre pada 1824 tidak lama setelah kematian seniman tersebut.

Temukan beberapa les melukis luar biasa di platform bimbingan online kami.

Liberty Leading the People karya Eugène Delacroix

Dibuat pada 1830, karya ini menggambarkan perang saudara dan Revolusi Prancis (Revolusi Juli) dengan warga bersenjata berbaris di belakang seorang wanita, alegori kebebasan. Tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah menunjukkan kekerasan dalam konflik tersebut dan pentingnya pemberontakan.

Ketika Eugène Delacroix mengambil kuas untuk melukis tablo ini, ia sudah menjadi seniman yang mapan; pimpinan sekolah seni Romantis Prancis - kontras yang tajam dari kesempurnaan dan kekakuan neoklasikisme.

Dia baru saja memasuki eranya sendiri ketika Zaman Pencerahan mengembangkan ide-ide dan gaya lukisan baru. Tuan Delacroix dengan semangat tenggelam dalam praktik warna yang ditorehkan dengan bebas ke kanvas; dia menghindari merek seni akademis yang dianut sebagian besar orang di zamannya.

Ia cepat berteman dengan Théodore Géricault namun alih-alih mencari inspirasi yang mengerikan, Delacroix memburu yang eksotis.

Tubuh karyanya melibatkan beberapa komposisi ketelanjangan serta adegan-adegan mistis dan bahkan tokoh-tokoh fiksi seperti Desdemona dan Hamlet. Juga bersemangat mengisi portofolionya dengan macan dan jaguar, Arabian Fantasy, dan Women of Algiers.

Terlepas dari perjalanannya yang tampak ekstensif – ke Amerika untuk melukis orang-orang Natchez, ke Maroko untuk melukis beberapa adegan, dan ke Yunani untuk menggambarkan reruntuhannya dengan akurat, hatinya selamanya berada di Prancis.

Ketka melukis Liberty, ia menulis kepada saudara laki-lakinya: “Dan jika aku belum berjuang untuk negeriku, setidaknya aku akan melukis untuknya.”

Gagasan Liberty (Kebebasan) adalah bagian penting dari sejarah abad ke-19 dan mencapainya melalui pertempuran bersenjata seringkali tampak sebagai cara yang paling efektif.

Temukan kursus melukis minyak Jakarta di Superprof.

karya seni seni terbaik di louvre
Tidak mengejutkan bahwa ini adalah karya yang populer di Prancis. (Sumber Wikimedia Commons)

“Kita hanya punya satu kebebasan: kebebasan untuk memperjuangkan kebebasan.” - Henri Jeanson

Baru pada tahun 1874 karya itu dipindahkan ke Louvre tempat lukisan itu menjadi salah satu karya yang paling banyak dikunjungi. Luisan tersebu seringkali dianggap sebagai lambang revolusi Prancis serta demokrasi Prancis.

Temukan “kelas melukis di dekat saya” di Superprof untuk mulai melukis.

Tersedia guru-guru Melukis terbaik
Argya
5
5 (46 ulasan)
Argya
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Jihan
4,9
4,9 (18 ulasan)
Jihan
Rp55,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Sheba
5
5 (11 ulasan)
Sheba
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Lydia dumaria
5
5 (13 ulasan)
Lydia dumaria
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anika
5
5 (11 ulasan)
Anika
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fedra
5
5 (14 ulasan)
Fedra
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dayna fitria
5
5 (10 ulasan)
Dayna fitria
Rp100,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Rianti
5
5 (8 ulasan)
Rianti
Rp135,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Argya
5
5 (46 ulasan)
Argya
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Jihan
4,9
4,9 (18 ulasan)
Jihan
Rp55,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Sheba
5
5 (11 ulasan)
Sheba
Rp75,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Lydia dumaria
5
5 (13 ulasan)
Lydia dumaria
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anika
5
5 (11 ulasan)
Anika
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fedra
5
5 (14 ulasan)
Fedra
Rp90,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dayna fitria
5
5 (10 ulasan)
Dayna fitria
Rp100,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Rianti
5
5 (8 ulasan)
Rianti
Rp135,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Mulai

The Wedding at Cana

The Wedding Feast at Cana adalah sebuah lukisan karya pelukis Venesia, Paolo Veronese, dari tahun 1563 yang menggambarkan kisah Alkitab dari Perjanjian Baru ketika Yesus mengubah air menjadi anggur. Karya tersebut mencakup tokoh-tokoh Alkitab dan orang-orang sezaman Venesia dari abad ke-16.

Biksu-biksu dari Order of Saint Benedict memesan lukisan yang sangat besar untuk menutupi dinding belakang ruang makan mereka yang baru dibangun di Basilica San Giorgio Maggiore.

Tuan Veronese dibayar sebesar 324 dukat atas upayanya dan diberi makan di biara. Kontrak pesanan itu lebih jauh menetapkan bahwa ia akan dibayar untuk pengeluaran pribadi dan rumah tangganya serta dilengkapi dengan satu tong anggur.

Dengan bantuan saudara laki-lakinya, Tuan Veronese menyelesaikan lukisan yang diminta, dan selama 235 tahun, lukisan tersebut menghiasi dinding yang dimaksud.

Tentara Revolusioner Prancis Napoleon merebut tablo tersebut sebagai penjarahan perang, memotngnya menjadi bagian-bagian yang dapat diatur dan menggulungnya seperti karpet untuk perjalanan panjang dengan berlayar ke Paris. Setelah Perang era Napoleon berakhir sekitar 17 tahun kemudian, Paus Piius menunukpemahat Antonio Canova untuk menegosiasika pemulangan lukisan tersebut.

Vivant Denon, kurator museum Prancis berpendapat bahwa kanvas tersebut terlalu rapuh untuk melakukan perjalannyang begitu panjang; negosiator Italia itu kemudian meninggalkan keinginan untuk mengumpulkan lukisan tersebut.

Denon tidak benar-benar mengatakan yang sesungguhnya.

Selama lebih dari 450 tahun, lukisan tersebut telah digulung, dikemas, dan dikirim ke penjuru Prancis untuk membuatnya tetap aman selama berbagai perang. Jelas, lukisan tersebut tidak serapuh itu.

Louvre akhirnya melunasi hutang Prancis terhadap Italia pada 2007 dengan berkontribusi pada penggantian digital dari tablo ini, yang saat ini digantung di tempat asalnya.

The Wedding at Cana dianggap sebagai salah satu karya terpenting seniman tersebut. Namun, lukisan ini bukan satu-satunya yang menggambarkan kisah itu. Giotto, Gérard David, dan Giuseppe Maria Crespi juga telah melukisnya.

Karya tersebut sekarang dapat ditemukan di Louvre, tepat di seberang Mona Lisa.

Temukan berbagai kelas melukis di dekat saya di sini di Superprof.

François I of France karya Jean Clouet

Raja François I dari Prancis direpresentasikan oleh Jean Clouet, dilukis pada 1530. Raja ini merupakan salah satu penyokong terbesar dari seni tersebut di era awal modern; ia memainkan peran penting dalam sejarah Louvre setelah memperoleh karya-karya seperti Mona Lisa.

François I mendanai para seniman untuk menegaskan kekuatannya dan menunjukkan apresiasinya terhadap seni; Jean Clouet hanyalah salah satu dari para pelukis stabil di istananya, meskipun tidak ada yang sepenasaran dirinya.

Ada sedikit misteri yang mengelilingi seniman ini, terutama asalnya.

Catatan istana tahun kedua pemerintahan raja ini merincikan bahwa Tuan Clouet memang dipekerjakan sebagai seniman istana. Nmaun, catatan selanjutnya tentang akta tanah yang diwariskan kepada putranya mengungkap fakta bahwa Tuan Clouet bukan orang Prancis maupun pernah dinaturalisasi ke Prancis.

Tentu saja, memiliki pelukis yang berasal dari negeri lain sebagai pelukis istana cukup umum. Kontroversinya bermula dari penyitaan tanah.

Meskipun banyak tubuh karya telah dikaitkan dengan Jean Clouet, ada keraguan bahwa beberapa karya itu memang buatannya karena tidak ada sketsa ataupun lukisan yang ditandatangani.

Namun, penemuan Portrait of Guillaume Budé, bersamaan dengan teks yang ditulis oleh Budé sendiri yang menyatakan bahwa Clouet melukis potret tersebut membantu mengidentifikasi gaya seniman tersebut, menmungkinkan pengesahan karya-karyanya.

Komunitas seni sekarang bisa mengatakan dengan otoritas Jean ‘Janet’ Clouet adalah seorang miniaturis yang brilian dan produktif yang unggul dalam melukis potret.

Kebetulan, ada juga lukisan raja-raja Prancis lainnya di Louvre termasuk Louis XIII, Louis XIV, dan Louis XVIII.

Temukan les melukis akrilik terbaik di Indonesia berkat Superprof.

lukisan Grande odalesque
Karya Ingres adalah perpaduan realisme anatomi dan keindahan feminin. (Sumber Wikimedia Commons)

Grande Odalisque

Jean Auguste Dominique Ingres mungkin adalah salah satu pelukis Prancis paling terkenal di abad ke-19. Karyanya La Grande Odalisque dari tahun 1814 adalah contoh kualitas karyanya.

Karya tersebut dipesan oleh Caroline Murat, saudari Napoleon I dan permaisuri Napoli. Namun, dengan runtuhnya Kekaisaran, ratu tidak pernah membayar pesanan itu.

Selama karier panjangnya, Tuan Ingres menerima banyak pujian dan jebakan. Selain tidak dibayar, La Grande Odalisque mungkin merupakan karya yang menyaksikannya dipenuhi hinaan dan cemoohan.

Aspek paling mengkhawatirkan dari tablo ini adalah proporsi selir. Lengan kirinya jauh lebih pendek daripada lengan kanannya, punggungnya sangat panjang dan panggulnya dipelintir dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia karet sekalipun.

Kemudian pencahayaannya. Sosok yang terditorsi itu memiliki tone yang sama dari telapak kakinya hingga wajahnya yang tanpa ekspresi. Sebuah kritik mengatakan, setelah meninjaunya di Salon 1819 Paris: “Lukisan ini tidak memiliki tulang maupun otot, darah maupun kehidupan.”

Meski dikritik keras, La Grande Odalisque dipuji sebagai langkah pertama Tuan Ingres menuju romantisme eksotis.

Ironisnya, ia melihat dirinya sendiri sebagai pembela ortodoksi akademis dalam seni, menentang gaya lukisan Romantis yang baru lahir. Karyanya dipuji sebagai romantis pasti menjadi pukulan yang kejam baginya.

Tanpa model langsung yang sangat proporsional, ia menggambar karya Giorgione and Titian untuk pose berbaring sementara tampilan di atas bahu itu berasal dari mentornya, karya Jacques-Louis David yang berjudul Madame Récamier.

Seniman tersebut membuat beberapa karya terkenal lainnya:

  • Bonaparte, First Consul (1803-1804)
  • Napoleon I on His Imperial Throne (1806)
  • Jupiter and Thetis (1811)
  • Roger Freeing Angelica (1819)
  • Oedipus Explaining the Enigma of the Sphinx (1827)
  • Louise de Broglie, Countess d’Haussonville (1845)
  • The Princesse de Broglie (1853)
  • Joan of Arc at the Coronation of Charles VII (1854)
  • The Turkish Bath (1859-1863)

Ingres menerapkan gaya neoklasik yang membuat karya-karyanya menjadi benar-benar karya seni dan saat ini dirawat dengan hati-hati di Louvre.

Museum MET New York juga memiliki pameran besar!

The Card Sharp with the Ace of Diamonds karya La Tour

The Card Sharp with the Ace of Diamonds adalah lukisan karya pelukis Prancis Georges de la Tour, dilukis pada 1636-1638. Sebagai salah satu karya paling terkenal dari seniman Prancis ini, lukisan ini adalah daya tarik Louvre yang wajib dilihat.

Lukisan tersebut menggambarkan 3 orang yang bermain kartu dan seorang pelayan. Jelas bahwa salah satu dari mereka berencana curang karena mereka mereka menyembunyikan kartu As wajik di balik punggungnya. Namun, pelayan tersebut bisa dengan mudah mengungkap rahasia mereka.

De La Tour terinspirasi oleh tema Caravaggio, termasuk penipu tersebut serta orang-orang yang dilihat dari sudut tertentu.

Jika ada kata atau frasa yang bisa mendefinisikan Tuan de la Tour, kata itu adalah ‘kontradiksi’.

Dia kebanyakan melukis adegan-adegan religius namun karya ini, dikenal sebagai The Cheater dalam bahasa Prancis menggambarkan tema yang jelas sekuler. Karya awalnya dilukis dalam gaya Caravaggio namun dia tidak mempelajari teknik-teknik itu di Italia dan, sementara dia dilaporkan cukup produktif, sangat sedikit karyanya yang tersisa.

Kanvas-kanvas miliknya yang telah selamat itu seringkali salah dikaitkan pada pelukis Belanda, Johannes Vermeer, dirinya adalah seniman yang sering terlupakan hingga karya-karyanya ditemukan kembali pada abad ke-19.

Untuk semua karya de la Tour yang sebagian besar tidak dikenali selama berabad-abad, dia pastilah seniman yang lebih dari cukup. Dia diberi gelar ‘Painter to the King’ (Pelukis untuk Raja) dan sering mendapat pesanan dari tuan tanah untuk melukis mereka. Namun, pendapatan utamanya berasal dari penyokong kaya setempat.

Mungkin kurangnya kemasyhuran de la Tour adalah karena epidemi yang membunuh dirinya dan seluruh keluarganya. Dengan tanpa seorang pun yang mempromosikan karyanya, dia jatuh ke dalam ketidakjelasan segelap chiaroscuros-nya kemudian.

Jika Anda berada di Madrid, lihatlah seni luar biasa di Prado.

The History of Alexander (beberapa karya) oleh Charles Le Brun

The History of Alexander adalah serangkaian karya oleh Charles Le Brun yang menggambarkan epos Alexander Agung termasuk perangnya melawan Darius dan Persia.

Karya monumental ini dibuat dari beberapa karya yang berbeda:

  • Battle of the Granicus (1665)
  • Entry of Alexander into Babylon (1665)
  • The Battle of Arbela (1669)
  • Alexander and Porus (1665-1673)

Serangkaian karya Alexander miliknya mewakili puncak pencapaiannya tetapi itu bukan satu-satunya bukti ketenarannya.

Bakat artistiknya yang luar biasa membuatnya mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya adalah gelar First Painter to the King (Pelukis Pertama untuk Raja). Dia juga menjadi Kanselir seumur hidupnya di Royal Academy of Painting and Sculpture dan raja menjadikannya seorang bangsawan.

Pada 1668, dia diangkat menjadi Rektor Keabadian Royal Academy of Painting di Paris. Itu setelah ia menjadi pendiri Academy of Prance di Roma.

Seseorang tidak akan membuat kemajuan semacam itu di dunia seni tanpa tahu cara menggoreskan kuas.

Ketika ia baru berusia 11 tahun, ia ‘ditemukan’ oleh Kanselir Prancis, yang menempatkannya dalam magang di bawah Simon Vouet. Dia memperoleh pesanan pertamanya dari Cardinal Richelieu ketika ia berusia 15 tahun, mengumpulkan perhatian dari pelukis Barok utama, Nicolas Poussin.

Bukankah mengherankan mengapa Raja Louis XIV menyatakan Charles le Brun sebagai pelukis Prancis terhebat sepanjang masa?

Le Brun tidak hanya melukis kerajaan dan kekunoan, tetapi juga melukis tema-tema religius, mitologi, militer dan sejarah, serta menghasilkan sejumlah besar gambar.

Cari tahu lebih lanjut tentang karya luar biasa di Musée d'Orsay.

lukisan David dan Goliath
Jika Anda pikir Anda sudah melihat semuanya, Anda harus memeriksa sisi lain karya ini. (Sumber: Wikimedia Commons)

David and Goliath

Lukisan di batu tulis karya Daniele Ricciarelle ini, juga dikenal sebagai Daniele da Volterra, merupakan karya menarik yang dapat Anda nikmati kedua sisinya.

Seniman ini ingin menunjukkan kekuatan melukis dengan membebaskannya di dua dimensi kanvas. Pada saat bersamaan, Anda bisa melihat kisah dari Perjanjian Lama tentang Daud Ibrani yang mengalahkan Goliat Filistin.

Daniele hampir kehilangan pengakuan yang sangat layak ia dapatkan atas kreasi Mannerist yang unik ini.

Sampai restorasinya, lukisan itu dianggap sebagai karya Michelangelo - kesalahan yang jujur mengingat Daniele de Volterra dilatih di bawah guru besar ini.

Awal mula De Volterra terjun ke dunia seni memungkiri kesuksesannya sebagai pelukis.

Sebagai anak laki-laki, dia dikirim untuk berlatih di bawah dua master Siena. Catatan menunjukkan dia tidak diterima dengan baik. Dia segera meninggalkannya, mungkin ke Roma – karya lukisnya telah diidentifikasi dalam lukisan dinding Istana Massimo yang dilukis pada 1535.

Kemudian, ia bertemu pelukis Italia Perin del Vaga. Melalui kerjasamanya, Tuan de Volterra menjadi ramah dengan para pengikut Michelangelo, yang pada akhirnya mengarah pada semacam kemitraan produktif, dengan Michelangelo menggunakan pengaruhnya untuk mengamankan pesanan-pesanan untuk teman mudanya.

Tidak heran bahwa mereka menikmati percakapan panjang tentang konsep-konsep dalam seni, yang terkandung dalam karya unik ini.

Setelah perjalanan visual singkat mengelilingi Louvre, Anda mungkin ingin melihat mahakarya-mahakarya ini untuk diri sendiri, serta objek-objek dari Mesopotamia, Carrousel du Louvre yang terkenal, dan piramida kaca yang juga menjadi pintu masuk museum.

Tiket masuknya gratis di Hari Sabtu pertama setiap bulan jadi mungkin ada baiknya merencanakan perjalanan ke Paris karena Anda dapat menikmati seni-seni dekoratif dengan anggaran terbatas.

Jika Anda tidak bisa datang ke Musée du Louvre untuk menikmati banyak pamerannya, Anda bisa mempelajari lebih lanjut tentang sejarah seni dari salah satu guru privat berbakat di Superprof.

Ada tiga jenis bimbingan yang tersedia: bimbingan tatap muka, online, dan kelompok.

Bimbingan tatap muka hanya ada Anda dan guru dan bisa dibilang yang mengeluarkan biaya paling banyak.

Bimbingan online juga sama, namun alih-alih guru berada di ruangan yang sama dengan Anda, mereka mengajari Anda melalui webcam menggunakan software seperti Skype.

Bimbingan kelompok lebih seperti kelas seni konvensional dengan pengecualian bahwa Anda dan sekelompok teman bisa berbagi biaya guru sekaligus menikmati les privat dari mereka.

Yang perlu Anda lakukan adalah menemukan guru yang tepat dan Anda siap belajar!

>

Platform yang menghubungkan para pengajar dengan para pelajar

Kursus pertama gratis

Apa Anda menyukai artikel ini? Berikan penilaian Anda

5,00 (1 nilai)
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang