Sel elektrolisis adalah perangkat yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia melalui proses elektrolisis. Proses ini melibatkan beberapa komponen utama yang bekerja bersama untuk memastikan reaksi berjalan dengan efisien. Memahami fungsi masing-masing komponen ini penting untuk memahami prinsip kerja sel elektrolisis secara keseluruhan.

Salah satu contoh sederhana dari penerapan prinsip kerja elektrosis adalah aki kendaraan bermotor. Aku merupakan komponen penting pada motor maupun mobil, karena keduanya membutuhkan aki agar mesin menyala. Tapi tahukah Anda bagaimana proses pengisian ulang energi kimia pada aki? Jadi, proses pengisian ulang tersebut menggunakan prinsip kerja yang disebut dengan sel elektrolisis. Teruslah membaca untuk mengetahui lebih banyak!

Jika Anda merasa kesulitan dalam mempelajari kimia, ini saat yang tepat untuk Anda bergabung dalam kursus privat Superprof

Cek di sini untuk mempelajari titik didih

Tersedia guru-guru Kimia terbaik
Lern
4.9
4.9 (58 ulasan)
Lern
Rp79,900
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dimas
5
5 (58 ulasan)
Dimas
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fitria
4.9
4.9 (55 ulasan)
Fitria
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Michael
5
5 (34 ulasan)
Michael
Rp110,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anas f
5
5 (22 ulasan)
Anas f
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ryan daniel
5
5 (35 ulasan)
Ryan daniel
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Komang widhi
5
5 (24 ulasan)
Komang widhi
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Joses sambiri st
5
5 (469 ulasan)
Joses sambiri st
Rp350,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Lern
4.9
4.9 (58 ulasan)
Lern
Rp79,900
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dimas
5
5 (58 ulasan)
Dimas
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fitria
4.9
4.9 (55 ulasan)
Fitria
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Michael
5
5 (34 ulasan)
Michael
Rp110,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anas f
5
5 (22 ulasan)
Anas f
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ryan daniel
5
5 (35 ulasan)
Ryan daniel
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Komang widhi
5
5 (24 ulasan)
Komang widhi
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Joses sambiri st
5
5 (469 ulasan)
Joses sambiri st
Rp350,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Mulai

Pengertian Sel Elektrolisis

Komponen elektrolisis
Komponen dari sel elektrolisis adalah elektroda, katoda dan anoda, serta elektrolit.

Sel elektrolisis adalah alat yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi kimia melalui reaksi redoks. Berbeda dengan sel volta yang bisa menghasilkan listrik secara spontan, sel elektrolisis membutuhkan bantuan sumber listrik dari luar agar reaksi dapat berlangsung. Sederhananya, alat ini memanfaatkan arus listrik untuk memicu perubahan kimia yang sebelumnya sulit terjadi secara alami.

Prinsip kerja sel elektrolisis terjadi ketika energi listrik dialirkan ke dalam larutan atau zat elektrolit melalui dua elektroda, yaitu anoda dan katoda. Arus listrik tersebut akan mendorong terjadinya perpindahan elektron sehingga menghasilkan reaksi oksidasi dan reduksi. Dengan proses inilah energi listrik dapat diubah menjadi energi kimia yang tersimpan dalam hasil reaksi.

Dalam proses elektrolisis, pemahaman mengenai komponen sel elektrolisis sangat penting karena setiap bagian memiliki peran yang berbeda. Elektroda menjadi tempat berlangsungnya reaksi kimia, elektrolit berfungsi sebagai media perpindahan ion, sedangkan sumber listrik menyediakan energi yang diperlukan agar reaksi dapat berjalan. Kombinasi ketiga komponen tersebut membuat proses elektrolisis dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari laboratorium hingga industri. Proses elektrosis adalah 'untuk memutuskan' dalam bahasa Yunani, yang artinya dalam hal ini elektrolisis digunakan untuk mengurai zat atau senyawa kimia dengan memanfaatkan arus listrik. Sederhananya, sel elektrolisis merupakan bagian dari sel elektrokimia, yang menggunakan energi listrik untuk menjalankan reaksi redoks tidak spontan.

beenhere
Fakta Menarik!

Elektrolisis berperan penting dalam industri logam, terutama untuk proses penyepuhan (electroplating) dan pemurnian logam. Proses ini digunakan untuk melapisi benda dengan logam seperti emas atau perak serta menghasilkan tembaga murni yang banyak digunakan sebagai penghantar listrik.

Komponen Utama Sel Elektrolisis

Sel elektrolisis tersusun atas beberapa bagian utama yang bekerja secara bersama-sama untuk menghasilkan reaksi kimia. Setiap bagian memiliki fungsi khusus yang menentukan keberhasilan proses elektrolisis. Secara umum, komponen sel elektrolisis terdiri dari elektroda, elektrolit, dan sumber listrik.

Memahami fungsi setiap komponen sel elektrolisis akan membantu dalam mengetahui bagaimana elektron dan ion dapat bergerak selama proses berlangsung. Pergerakan partikel bermuatan tersebut menjadi dasar terjadinya reaksi reduksi di katoda dan reaksi oksidasi di anoda. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing komponen dalam sel elektrolisis.

Elektroda

Elektroda merupakan komponen penghantar listrik yang menjadi tempat berlangsungnya reaksi kimia dalam sel elektrolisis. Elektroda biasanya dibuat dari bahan yang mampu menghantarkan listrik, seperti logam atau material tertentu yang bersifat konduktor. Dalam sel elektrolisis, elektroda terbagi menjadi dua jenis, yaitu katoda dan anoda yang memiliki fungsi berbeda.

  • Katoda
    Katoda adalah elektroda yang memiliki muatan negatif dan menjadi tempat terjadinya reaksi reduksi. Pada bagian ini, elektron dari sumber listrik akan masuk ke katoda dan diterima oleh ion-ion positif (kation) yang terdapat dalam larutan elektrolit. Proses penerimaan elektron tersebut menyebabkan ion mengalami reduksi dan berubah menjadi zat baru, seperti endapan logam yang menempel pada permukaan katoda.
    Jumlah zat yang terbentuk pada katoda dipengaruhi oleh besar arus listrik yang dialirkan selama proses elektrolisis. Semakin banyak elektron yang diterima oleh ion, maka semakin besar pula jumlah hasil reduksi yang dihasilkan. Oleh karena itu, katoda berperan penting dalam menentukan hasil akhir dari reaksi elektrolisis.
  • Anoda
    Anoda merupakan elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi dalam sel elektrolisis. Banyak pelajar sering bertanya mengenai anoda positif atau negatif, terutama ketika membandingkan sel elektrolisis dengan sel volta. Pada sel elektrolisis, anoda memiliki muatan positif karena terhubung dengan kutub positif sumber listrik.
    Pada anoda, ion negatif atau anion akan bergerak menuju elektroda tersebut dan mengalami pelepasan elektron. Proses pelepasan elektron inilah yang disebut sebagai oksidasi. Dalam beberapa reaksi elektrolisis, proses oksidasi di anoda dapat menghasilkan gas seperti oksigen atau klorin yang terlihat dalam bentuk gelembung.
    Jenis bahan anoda juga dapat memengaruhi reaksi yang terjadi. Beberapa anoda bersifat aktif sehingga dapat ikut bereaksi selama proses elektrolisis, sedangkan anoda inert seperti grafit hanya berfungsi sebagai penghantar listrik tanpa mengalami perubahan kimia. Pemilihan jenis anoda perlu disesuaikan dengan tujuan proses elektrolisis yang dilakukan.

Elektrolit

Elektrolit merupakan salah satu komponen sel elektrolisis yang memiliki peran penting dalam mendukung perpindahan ion selama proses elektrolisis berlangsung. Elektrolit adalah zat yang mampu menghantarkan arus listrik karena mengandung ion-ion bebas yang dapat bergerak di dalam larutan atau bentuk lelehannya. Tanpa adanya elektrolit, aliran muatan listrik antara katoda dan anoda tidak dapat terjadi sehingga reaksi elektrolisis akan terhambat.

Dalam proses elektrolisis, ion positif atau kation akan bergerak menuju katoda, sedangkan ion negatif atau anion akan bergerak menuju anoda. Pergerakan ion tersebut terjadi karena adanya pengaruh medan listrik dari sumber listrik eksternal. Melalui perpindahan ion inilah reaksi reduksi di katoda dan oksidasi di anoda dapat berlangsung secara bersamaan.

Jenis elektrolit yang digunakan dapat memengaruhi hasil akhir dari proses elektrolisis. Larutan garam, asam, dan basa merupakan contoh elektrolit yang sering digunakan dalam percobaan maupun penerapan industri. Oleh karena itu, pemilihan elektrolit menjadi bagian penting dalam memahami cara kerja dan fungsi setiap komponen sel elektrolisis.

Sumber Listrik

Sumber listrik merupakan komponen yang menyediakan energi untuk menjalankan proses elektrolisis. Berbeda dengan sel volta yang menghasilkan listrik dari reaksi kimia, sel elektrolisis membutuhkan energi listrik dari luar agar reaksi redoks dapat terjadi. Umumnya, sumber listrik yang digunakan berupa arus searah atau Direct Current (DC), seperti baterai atau alat pemasok listrik lainnya.

Fungsi utama sumber listrik dalam komponen sel elektrolisis adalah menyediakan elektron untuk katoda dan menarik elektron dari anoda. Ketika sumber listrik dihubungkan dengan elektroda, terjadi aliran elektron yang menyebabkan ion-ion dalam elektrolit bergerak menuju elektroda masing-masing. Proses inilah yang memungkinkan reaksi reduksi dan oksidasi dapat terjadi.

Fungsi Masing-Masing Komponen

uji coba
anoda positif atau negatif; freepik

Setiap bagian dalam komponen sel elektrolisis memiliki fungsi yang saling berkaitan untuk menjalankan proses perubahan energi listrik menjadi energi kimia. Sel elektrolisis membutuhkan energi listrik dari luar agar reaksi redoks yang tidak spontan dapat berlangsung. Elektroda berperan sebagai tempat perpindahan elektron, elektrolit menjadi media pergerakan ion, sedangkan sumber listrik menyediakan energi untuk menggerakkan seluruh proses tersebut.

Elektroda

Elektroda merupakan komponen utama yang menjadi tempat terjadinya reaksi kimia dalam sel elektrolisis. Elektroda terdiri dari dua bagian, yaitu katoda dan anoda, yang memiliki fungsi berbeda dalam proses perpindahan elektron. Perbedaan fungsi kedua elektroda ini menjadi salah satu konsep dasar dalam memahami sistem elektrokimia.

Pada sel elektrolisis, katoda berperan sebagai tempat reduksi, sedangkan anoda berperan sebagai tempat oksidasi. Jika melihat gambar sel elektrolisis, biasanya posisi kedua elektroda akan terlihat terhubung dengan sumber listrik melalui kabel yang menunjukkan arah aliran elektron. Ilustrasi tersebut membantu memahami bagaimana energi listrik dapat menggerakkan reaksi kimia.

Katoda

Katoda adalah elektroda yang menjadi tempat terjadinya reaksi reduksi karena menerima elektron dari sumber listrik. Karena terhubung dengan kutub negatif sumber listrik, katoda menerima aliran elektron yang kemudian digunakan untuk mereduksi ion positif (kation) yang bergerak menuju elektroda tersebut.

Ketika kation menerima elektron di katoda, ion tersebut akan mengalami perubahan menjadi bentuk yang lebih stabil, seperti atom logam atau zat tertentu. Contohnya, ion logam dalam larutan elektrolit dapat berubah menjadi endapan logam yang menempel pada permukaan katoda. Oleh karena itu, katoda memiliki peran penting dalam menghasilkan produk akhir dari proses reduksi.

Dalam berbagai aplikasi industri, katoda sering digunakan sebagai tempat pengendapan logam melalui proses elektroplating. Proses ini memanfaatkan prinsip bahwa ion logam dalam larutan elektrolit dapat direduksi dan membentuk lapisan baru pada permukaan benda. Oleh karena itu, memahami katoda adalah bagian penting dalam mempelajari prinsip kerja sel elektrolisis.

Anoda

Anoda merupakan elektroda yang menjadi tempat berlangsungnya reaksi oksidasi dalam sel elektrolisis. Banyak orang masih mengalami kebingungan mengenai anoda positif atau negatif, terutama karena sifatnya berbeda antara sel elektrolisis dan sel volta. Pada sel elektrolisis, anoda memiliki muatan positif karena terhubung dengan kutub positif sumber listrik.

Pada anoda, ion negatif akan melepaskan elektron sehingga terjadi proses oksidasi. Elektron yang dilepaskan kemudian mengalir melalui rangkaian listrik menuju sumber listrik dan diteruskan kembali ke katoda. Dalam beberapa proses elektrolisis, reaksi di anoda dapat menghasilkan gas seperti oksigen atau klorin yang muncul dalam bentuk gelembung di sekitar elektroda.

Elektrolit

Elektrolit memiliki fungsi sebagai penghantar listrik yang memungkinkan ion bergerak bebas selama proses elektrolisis. Dalam komponen sel elektrolisis, elektrolit berperan sebagai penghubung antara katoda dan anoda melalui perpindahan ion. Tanpa adanya elektrolit, sumber listrik tidak dapat mengalirkan muatan melalui larutan.

Selain sebagai penghantar listrik, elektrolit juga menyediakan ion-ion yang akan mengalami reaksi selama proses elektrolisis. Jenis elektrolit yang digunakan dapat memengaruhi hasil akhir reaksi, karena setiap zat memiliki ion penyusun yang berbeda. Contoh elektrolit yang sering digunakan dalam proses elektrolisis adalah larutan garam, asam, dan basa yang dapat terurai menjadi ion-ion bebas.

Jenis elektrolit yang digunakan akan menentukan zat yang dihasilkan selama proses elektrolisis. Misalnya, larutan garam dapat menghasilkan gas klorin dan hidrogen dalam kondisi tertentu, sedangkan larutan logam tertentu dapat menghasilkan endapan logam pada katoda. Karena itu, pemilihan elektrolit menjadi bagian penting dalam penerapan metode elektrolisis.

Sumber Listrik

lampu
sumber listrik bagian dari komponen uta sel elektrolisis; freepik

Sumber listrik menjadi salah satu komponen sel elektrolisis yang berfungsi menyediakan energi agar reaksi kimia dapat berlangsung. Berbeda dengan sel volta yang menghasilkan listrik dari reaksi kimia, sel elektrolisis membutuhkan pasokan energi listrik dari luar agar reaksi redoks yang tidak spontan dapat terjadi. Sumber listrik yang digunakan biasanya berupa arus searah atau Direct Current (DC), seperti baterai maupun power supply.

Fungsi utama sumber listrik adalah memberikan elektron ke katoda dan menarik elektron dari anoda. Aliran elektron tersebut menciptakan perbedaan potensial listrik yang menyebabkan ion-ion dalam elektrolit bergerak menuju elektroda masing-masing. Dengan adanya energi listrik yang terus mengalir, proses reduksi dan oksidasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Besarnya arus listrik yang diberikan juga berpengaruh terhadap jumlah zat yang dihasilkan selama elektrolisis. Semakin besar jumlah listrik yang dialirkan dalam kondisi tertentu, semakin banyak pula elektron yang terlibat dalam reaksi sehingga produk elektrolisis yang terbentuk dapat meningkat.

Prinsip Kerja dan Penerapannya

Contoh penerapan prinsip kerja elektrolisis
Penyepuhan logam adalah salah satu penerapan prinsip kerja sel elektrolisis.

Sel elektrolisis mempunyai dua elektroda bersifat negatif dan positif. Cara kerja sel elektrolisis yaitu dengan menghubungkan sumber arah dari kutub negatif ke katoda dan kutub positif ke anoda.

Kemudian terjadi over potential yang mendorong reaksi reduksi dan oksidasi non-spontan dapat berjalan. Sehingga elektron dapat mengalir dari katoda ke anoda dan ion-ion positif cenderung ke katoda lalu tereduksi. Sementara ion-ion negatif tertarik ke anoda dan teroksidasi.

Secara umum, elektrolisis lelehan senyawa ionik melibatkan reaksi redoks yang lebih sederhana. Hal ini dikarenakan tanpa adanya air, kation akan direduksi di katoda dan anion akan dioksidasi di anoda. Sebagai contoh, pada elektrolisis lelehan NaCl, ion Na+ akan tereduksi di katoda membentuk logam Na dan ion Cl− akan teroksidasi di anoda membentuk gas Cl2.

Namun, jika reaksi elektrolisis berlangsung dalam sistem larutan, ada beberapa reaksi redoks yang bersaing sehingga reaksi cenderung kompleks.

Cek di sini jika sedang ingin mempelajari struktur atom

Perbedaan Sel Elektrolisis dan Sel Volta

Sel elektrolisis dan sel volta merupakan bagian dari sel elektrokimia yang sama-sama melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi (redoks). Meskipun memiliki komponen yang hampir sama, seperti elektroda dan elektrolit, kedua sel ini memiliki cara kerja yang berbeda. Perbedaan utama antara sel elektrolisis dan sel volta dapat dilihat dari arah perubahan energi serta sifat reaksi yang terjadi.

Sel elektrolisis dan sel volta memiliki perbedaan yang cukup terlihat jelas. Seperti dilansir laman Chemistry LibreTexts, perbedaan utama singkat sel volta dan sel elektrolisis yaitu:

1. Definisi sel volta adalah sel elektrokimia yang mengubah reaksi kimia menjadi listrik, mengandung anoda negatif dan katoda positif, pada reaksi redoks sel volta menampilkan reaksi spontan. Fungsi sel volta sendiri yaitu mengubah energi kimia jadi energi listrik melalui suatu reaksi elektrokimia redoks spontan. Fungsi tersebut telah banyak dimanfaatkan  dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pembuatan jenis baterai, seperti sel kering, baterai alkali, sel aki, dan baterai litium. 

2. Sedangkan sel elektrolisis adalah sel elektrokimia yang mengubah arus listrik jadi energi kimia, reaksi redoks nya non-spontan, dan mengandung anoda positif dan katoda negatif.

Periksa di sini untuk mempelajari tentang termokimia

Arah Energi

Perbedaan paling mendasar antara sel elektrolisis dan sel volta adalah arah perubahan energi yang berlangsung selama proses reaksi. Kedua sel ini memiliki mekanisme yang saling berkebalikan dalam memanfaatkan energi.

Sel Elektrolisis

Sel elektrolisis merupakan sistem yang menggunakan energi listrik dari sumber eksternal untuk menjalankan reaksi kimia. Karena reaksi yang terjadi bersifat tidak spontan, diperlukan energi tambahan agar perpindahan elektron dapat berlangsung sesuai arah yang diinginkan.

Pada proses elektrolisis, elektron dialirkan menuju katoda sehingga ion positif dalam elektrolit mengalami reduksi. Sementara itu, ion negatif bergerak menuju anoda dan mengalami oksidasi. Jika diamati melalui gambar sel elektrolisis, arah perpindahan elektron dan pergerakan ion akan menunjukkan bagaimana energi listrik digunakan untuk menghasilkan perubahan kimia.

Penerapan sel elektrolisis dapat ditemukan dalam berbagai bidang, seperti penyepuhan logam, pemurnian logam, dan pembuatan bahan kimia tertentu. Contohnya adalah proses elektroplating yang menggunakan prinsip elektrolisis untuk melapisi permukaan benda dengan logam tertentu agar lebih tahan terhadap korosi.

Sel Volta

Berbeda dengan sel elektrolisis, sel volta mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Pada sel ini, reaksi kimia yang terjadi secara alami menghasilkan perpindahan elektron dari satu elektroda ke elektroda lainnya.

Elektron yang dihasilkan dari reaksi oksidasi di anoda akan mengalir melalui rangkaian luar menuju katoda. Aliran elektron tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai arus listrik yang dapat digunakan untuk menyalakan berbagai perangkat elektronik.

Salah satu contoh sel volta yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah baterai. Baterai dapat menghasilkan energi listrik karena adanya reaksi kimia di dalamnya yang berlangsung secara spontan tanpa membutuhkan sumber listrik tambahan dari luar.

Reaksi

Selain arah perubahan energi, perbedaan sel elektrolisis dan sel volta juga dapat dilihat dari sifat reaksi redoks yang terjadi. Perbedaan ini menentukan apakah suatu sel membutuhkan energi tambahan atau justru menghasilkan energi listrik.

Sel Elektrolisis

Pada sel elektrolisis, reaksi yang terjadi bersifat non-spontan atau tidak dapat berlangsung dengan sendirinya. Artinya, reaksi kimia membutuhkan bantuan energi dari luar agar dapat berjalan.

Sumber energi listrik berfungsi untuk memberikan dorongan agar elektron dapat berpindah sesuai arah yang dibutuhkan. Tanpa adanya aliran listrik dari sumber eksternal, reaksi oksidasi dan reduksi pada elektroda tidak akan terjadi.

Dalam proses ini, sumber listrik berperan penting untuk mempertahankan reaksi dengan cara memasok elektron ke katoda dan menarik elektron dari anoda. Oleh karena itu, sel elektrolisis hanya dapat bekerja selama masih mendapatkan pasokan energi listrik.

Sel Volta

Pada sel volta, reaksi yang berlangsung bersifat spontan, yaitu reaksi dapat terjadi secara alami tanpa bantuan energi dari luar. Reaksi redoks yang terjadi menghasilkan energi listrik sebagai akibat dari perpindahan elektron.

Dalam sel volta, anoda menjadi tempat terjadinya oksidasi yang menghasilkan elektron, sedangkan katoda menjadi tempat terjadinya reduksi dengan menerima elektron tersebut. Pergerakan elektron dari anoda ke katoda melalui rangkaian luar inilah yang menghasilkan arus listrik.

Karena mampu menghasilkan energi listrik secara mandiri, sel volta banyak digunakan sebagai sumber daya pada berbagai alat elektronik portabel, seperti baterai pada jam, kalkulator, remote, dan perangkat lainnya.

Berikut perbandingan antara sel volta dan sel elektrolisis:

ParameterSel Volta (Galvani)Sel Elektrolisis
Perubahan EnergiMengubah energi kimia menjadi energi listrikMengubah energi listrik menjadi energi kimia
Sifat ReaksiReaksi spontan dan dapat berlangsung tanpa sumber listrik tambahanReaksi tidak spontan sehingga membutuhkan energi listrik dari luar
KatodaBermuatan positif (+) dan menjadi tempat reaksi reduksiBermuatan negatif (-) dan menjadi tempat reaksi reduksi
AnodaBermuatan negatif (-) dan menjadi tempat reaksi oksidasiBermuatan positif (+) dan menjadi tempat reaksi oksidasi
Potensial Sel (E°)Bernilai positif karena menghasilkan energi listrikBernilai negatif karena membutuhkan energi tambahan
Jembatan GaramDibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ion dalam larutanUmumnya tidak diperlukan karena menggunakan sumber listrik eksternal
Contoh PenggunaanBaterai, aki (accu), dan sel bahan bakarPenyepuhan logam, pemurnian logam, dan produksi bahan kimia
Tersedia guru-guru Kimia terbaik
Lern
4.9
4.9 (58 ulasan)
Lern
Rp79,900
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dimas
5
5 (58 ulasan)
Dimas
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fitria
4.9
4.9 (55 ulasan)
Fitria
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Michael
5
5 (34 ulasan)
Michael
Rp110,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anas f
5
5 (22 ulasan)
Anas f
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ryan daniel
5
5 (35 ulasan)
Ryan daniel
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Komang widhi
5
5 (24 ulasan)
Komang widhi
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Joses sambiri st
5
5 (469 ulasan)
Joses sambiri st
Rp350,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Lern
4.9
4.9 (58 ulasan)
Lern
Rp79,900
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dimas
5
5 (58 ulasan)
Dimas
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Fitria
4.9
4.9 (55 ulasan)
Fitria
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Michael
5
5 (34 ulasan)
Michael
Rp110,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Anas f
5
5 (22 ulasan)
Anas f
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ryan daniel
5
5 (35 ulasan)
Ryan daniel
Rp70,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Komang widhi
5
5 (24 ulasan)
Komang widhi
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Joses sambiri st
5
5 (469 ulasan)
Joses sambiri st
Rp350,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Mulai

Contoh Reaksi Elektrolisis

Elektrolisis dapat ditemukan dalam berbagai proses kimia, baik dalam pembelajaran di laboratorium maupun dalam penerapan industri. Proses ini terjadi ketika energi listrik digunakan untuk memicu reaksi redoks yang tidak dapat berlangsung secara spontan. Pada sel elektrolisis, reaksi reduksi selalu terjadi di katoda, sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di anoda.

Untuk memahami cara kerja metode elektrolisis, penting untuk mengetahui bagaimana ion bergerak menuju elektroda dan mengalami perubahan. Setiap jenis elektrolit dapat menghasilkan produk yang berbeda tergantung pada jenis ion yang terkandung di dalamnya. Berikut beberapa contoh reaksi elektrolisis yang sering dipelajari.

Elektrolisis Larutan KI dengan Elektroda Grafit

Salah satu contoh reaksi elektrolisis adalah elektrolisis larutan kalium iodida (KI) menggunakan elektroda grafit. Dalam larutan tersebut, senyawa KI akan terurai menjadi ion kalium (K⁺) dan ion iodida (I⁻) yang bergerak menuju elektroda masing-masing ketika dialiri arus listrik.

Reaksi ionisasi yang terjadi:

KI(aq)K+(aq)+I(aq)KI(aq) → K⁺(aq) + I⁻(aq)

Elektroda grafit digunakan karena bersifat inert, yaitu tidak mudah bereaksi selama proses elektrolisis berlangsung. Oleh karena itu, elektroda hanya berfungsi sebagai penghantar listrik yang membantu terjadinya reaksi pada larutan elektrolit.

Reaksi di Katoda (Reduksi)

Katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi karena menerima elektron dari sumber listrik. Pada elektrolisis larutan KI, ion positif seperti K⁺ akan bergerak menuju katoda untuk menerima elektron. Elektron yang masuk ke katoda akan mereduksi ion-ion positif yang ada di sekitar katoda, yang akhirnya membentuk endapan logam atau gas tertentu. Sebagai contoh, pada elektrolisis lelehan NaCl, ion Na+ akan tereduksi di katoda membentuk logam Na.

Reaksi yang terjadi:

K++eKK⁺ + e⁻ → K

Pada reaksi tersebut, ion kalium mengalami reduksi karena menerima elektron dan berubah menjadi logam kalium (K). Namun, pada kondisi larutan berair, molekul air biasanya lebih mudah mengalami reduksi dibandingkan ion kalium karena kalium termasuk logam yang sangat reaktif.

Reaksi di Anoda (Oksidasi)

Anoda merupakan elektroda bermuatan positif yang menjadi tempat berlangsungnya reaksi oksidasi. Ion iodida (I⁻) akan bergerak menuju anoda dan melepaskan elektron. Ion-ion negatif yang mendekati anoda akan kehilangan elektron dan menghasilkan gas atau senyawa lain. Sebagai contoh, pada elektrolisis NaCl, ion Cl− akan teroksidasi di anoda membentuk gas Cl2.

Reaksi yang terjadi:

2II2+2e2I⁻ → I₂ + 2e⁻

Pada proses ini, ion iodida mengalami oksidasi dan berubah menjadi molekul iodin (I₂). Hasil reaksi biasanya dapat terlihat sebagai perubahan warna larutan menjadi kecokelatan karena terbentuknya iodin.

Penyepuhan Logam

Selain digunakan untuk menghasilkan zat baru, prinsip elektrolisis juga banyak dimanfaatkan dalam proses penyepuhan logam atau elektroplating. Penyepuhan merupakan proses melapisi permukaan suatu logam dengan logam lain menggunakan bantuan energi listrik.

Dalam proses penyepuhan, benda yang akan dilapisi biasanya digunakan sebagai katoda, sedangkan logam pelapis digunakan sebagai anoda. Larutan elektrolit harus mengandung ion dari logam pelapis agar ion tersebut dapat bergerak menuju katoda dan mengalami reduksi. Prinsip ini menunjukkan bagaimana komponen sel elektrolisis bekerja secara bersamaan untuk menghasilkan lapisan logam baru.

Contohnya, pada penyepuhan emas, benda seperti cincin atau perhiasan logam dijadikan sebagai katoda, sedangkan emas murni digunakan sebagai anoda. Ion emas dalam larutan elektrolit akan menerima elektron di katoda sehingga berubah menjadi lapisan emas yang menempel pada permukaan benda.

Reaksi yang terjadi di katoda:

Au3++3eAuAu³⁺ + 3e⁻ → Au

Melalui proses ini, permukaan logam dapat menjadi lebih menarik, tahan terhadap korosi, dan memiliki nilai estetika yang lebih tinggi. Penyepuhan logam menjadi salah satu contoh nyata bahwa elektrolisis tidak hanya digunakan dalam teori kimia, tetapi juga memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari dan industri.

Cara Menentukan katoda dan Anoda pada Sel Elektrolisis

Dalam proses elektrolisis, sangat penting untuk mengetahui cara menentukan katoda dan anoda agar reaksi elektrokimia dapat berlangsung dengan benar. Katoda dan anoda adalah dua elektroda utama dalam sel elektrolisis yang berfungsi untuk melakukan reaksi redoks. Untuk menentukan katoda dan anoda, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami sifat-sifat elektroda tersebut. Katoda adalah elektroda yang bermuatan negatif dan merupakan tempat terjadinya reaksi reduksi, di mana ion positif dari larutan akan menerima elektron dan tereduksi menjadi unsur atau senyawa yang lebih sederhana. Sebaliknya, anoda adalah elektroda yang bermuatan positif dan merupakan tempat terjadinya reaksi oksidasi, di mana ion negatif akan melepaskan elektron dan teroksidasi menjadi gas atau senyawa lainnya. Proses cara menentukan katoda dan anoda dapat ditentukan dengan melihat arah aliran arus listrik.

  • Arus listrik selalu mengalir dari kutub positif ke kutub negatif, sehingga pada sumber listrik, kutub positif akan terhubung dengan anoda, dan kutub negatif akan terhubung dengan katoda.
  • Pada elektrolisis, ion-ion dari larutan akan bergerak menuju elektroda yang sesuai dengan muatan lawannya. Sebagai contoh, pada elektrolisis air, ion H+ akan tereduksi di katoda membentuk gas hidrogen, sedangkan ion OH− akan teroksidasi di anoda membentuk gas oksigen. Oleh karena itu, untuk mempermudah pemahaman, dapat disimpulkan bahwa cara menentukan katoda dan anoda berkaitan erat dengan sifat muatan elektroda dan jenis reaksi yang terjadi di masing-masing elektroda.

Gambar dan Skema Sel Elektrolisis

Untuk memahami proses kerja elektrolisis dengan lebih mudah, diperlukan visualisasi mengenai susunan komponen dan arah perpindahan elektron. Gambar sel elektrolisis biasanya menunjukkan hubungan antara sumber listrik, elektroda, dan larutan elektrolit dalam sebuah rangkaian.

Melalui gambar sel elektrolisis, pembaca dapat melihat bagaimana arus listrik mengalir dari sumber listrik menuju elektroda. Ilustrasi tersebut juga membantu menjelaskan posisi katoda dan anoda, termasuk memahami konsep anoda positif atau negatif pada sistem elektrolisis.

Berikut beberapa contoh reaksi elektrolisis yang dapat membantu memahami cara kerja setiap komponen dalam sel elektrolisis.

1. Gambar Sel Elektrolisis

ilustrasi sel
Ilustrasi komponen utama dan alur reaksi dalam sel elektrolisis

Komponen utama :

  • Sumber Arus DC: Baterai di bagian atas sebagai sumber energi listrik untuk memaksa reaksi tak spontan
  • Anoda (+): Elektroda sebelah kanan, terhubung ke kutub positif. Tempat terjadi oksidasi
rumus
Terlihat ada gelembung gas Cl₂ terbentuk
  • Katoda (-): Elektroda sebelah kiri, terhubung ke kutub negatif. Tempat terjadi reduksi 
rumus
Terlihat ada gelembung gas H₂ terbentuk
  • Elektrolit: Larutan NaCl berisi ion Na⁺ dan Cl⁻ dalam bejana elektrolisis
  • Bejana Elektrolisis: Gelas kimia sebagai wadah reaksi

2. Gambar Rangkaian Sel Elektrolisis

rangkaian
rangkaian sel elektrolisis

Selain menunjukkan posisi komponen dalam larutan, gambar rangkaian sel elektrolisis menggambarkan hubungan antara sumber listrik dan elektroda dalam sebuah rangkaian tertutup. Diagram ini menunjukkan bagaimana arus listrik dapat mengalir sehingga reaksi elektrolisis dapat berlangsung.

Pada gambar rangkaian sel elektrolisis, beberapa koneksi utama yang terlihat antara lain:

  • Sumber Listrik DC: Simbol baterai dengan kutub positif (+) di kiri dan kutub negatif (-) di kanan
  • Saklar: Tertutup, sehingga rangkaian terhubung dan arus mengalir
  • Anoda (+): Terhubung langsung ke kutub positif sumber DC melalui kabel
  • Katoda (-): Terhubung langsung ke kutub negatif sumber DC melalui kabel
  • Elektrolit: Larutan dalam bejana elektrolisis yang menghubungkan anoda dan katoda secara ionik

Pemahaman melalui gambar rangkaian sel elektrolisis sangat membantu dalam mempelajari arah aliran elektron. Dengan mengetahui hubungan setiap komponen, konsep mengenai komponen sel elektrolisis menjadi lebih mudah dipahami, terutama bagi siswa yang baru mempelajari elektrokimia.

00:00

Metode Elektrolisis

Metode elektrolisis merupakan proses penguraian suatu senyawa menggunakan energi listrik untuk menghasilkan zat baru. Dalam proses ini, arus listrik dialirkan melalui zat yang mampu menghantarkan listrik sehingga terjadi reaksi oksidasi dan reduksi. Metode ini banyak digunakan dalam bidang kimia, industri logam, hingga produksi bahan tertentu.

Secara umum, metode elektrolisis dibedakan berdasarkan bentuk zat elektrolit yang digunakan, yaitu elektrolisis lelehan dan elektrolisis larutan. Perbedaan bentuk zat tersebut dapat memengaruhi jenis ion yang bereaksi serta hasil akhir yang terbentuk selama proses berlangsung.

Pemahaman mengenai metode elektrolisis sangat penting karena setiap metode memiliki karakteristik yang berbeda. Faktor seperti keberadaan air, jenis ion, dan bahan elektroda dapat menentukan produk yang dihasilkan dalam reaksi elektrolisis.

Elektrolisis Lelehan

Elektrolisis lelehan adalah salah satu metode elektrolisis yang dilakukan menggunakan senyawa ionik dalam bentuk cair atau lelehan. Pada proses ini, senyawa ionik dipanaskan hingga mencair agar ion-ion penyusunnya dapat bergerak bebas dan menghantarkan arus listrik.

Karena tidak terdapat molekul air dalam sistem, ion positif (kation) dan ion negatif (anion) dari senyawa tersebut akan langsung mengalami reaksi pada elektroda. Kation akan bergerak menuju katoda untuk menerima elektron dan mengalami reduksi, sedangkan anion akan bergerak menuju anoda untuk melepaskan elektron dan mengalami oksidasi.

Contoh elektrolisis lelehan adalah elektrolisis natrium klorida (NaCl) cair. Pada proses ini, ion natrium (Na⁺) akan bergerak menuju katoda dan mengalami reduksi menjadi logam natrium, sedangkan ion klorida (Cl⁻) akan menuju anoda dan mengalami oksidasi menghasilkan gas klorin.

Reaksi yang terjadi:

Katoda (-):

Na++eNaNa⁺ + e⁻ → Na

Anoda (+):

2ClCl2+2e2Cl⁻ → Cl₂ + 2e⁻

Elektrolisis lelehan banyak digunakan dalam industri untuk memperoleh logam yang sulit diekstraksi menggunakan metode biasa, seperti produksi logam natrium, magnesium, dan aluminium.

Elektrolisis Larutan

Elektrolisis larutan merupakan metode elektrolisis yang menggunakan zat elektrolit dalam bentuk larutan. Dalam proses ini, senyawa dilarutkan dalam air sehingga menghasilkan ion-ion yang dapat bergerak bebas menuju elektroda.

Ketika arus listrik dialirkan, ion positif (kation) akan bergerak menuju katoda dan mengalami reaksi reduksi, sedangkan ion negatif (anion) akan bergerak menuju anoda dan mengalami reaksi oksidasi. Namun, karena terdapat molekul air dalam larutan, air juga dapat ikut mengalami reaksi sehingga hasil elektrolisis tidak selalu berasal langsung dari ion elektrolit.

Contohnya adalah elektrolisis larutan NaCl atau larutan garam. Dalam proses ini, air dapat mengalami reduksi di katoda menghasilkan gas hidrogen, sedangkan ion klorida mengalami oksidasi di anoda menghasilkan gas klorin.

Reaksi yang terjadi:

Katoda (-):

2H2O+2eH2+2OH2H₂O + 2e⁻ → H₂ + 2OH⁻

Anoda (+):

2ClCl2+2e2Cl⁻ → Cl₂ + 2e⁻

Penerapan metode elektrolisis larutan dapat ditemukan dalam berbagai bidang, seperti penyepuhan logam, pemurnian logam, produksi bahan kimia, serta pengolahan air. Perbedaan utama antara elektrolisis lelehan dan elektrolisis larutan terletak pada keberadaan air yang dapat memengaruhi jalannya reaksi.

Fungsi Sel Elektrolisis dalam Kehidupan Sehari-hari

Sel elektrolisis memiliki berbagai manfaat dalam kehidupan sehari-hari dan dunia industri. Dengan memanfaatkan energi listrik untuk menjalankan reaksi kimia, sel ini dapat digunakan untuk menghasilkan logam, melapisi permukaan benda, hingga memproduksi gas tertentu.

Pemanfaatan komponen sel elektrolisis yang tepat membuat proses perubahan energi listrik menjadi energi kimia dapat berlangsung secara efektif. Elektroda, elektrolit, dan sumber listrik bekerja bersama untuk menghasilkan reaksi sesuai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai prinsip kerja sel elektrolisis sangat penting dalam berbagai aplikasi teknologi modern.

Berikut beberapa contoh fungsi sel elektrolisis yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan industri.

Produksi Logam Murni

logam ukir
Material logam murni dikenal sebagai penghantar panas dan listrik yang sangat baik, berkilau, serta bersifat ulet atau mudah ditempa. Contohnya termasuk emas (Au), perak (Ag), dan tembaga (Cu); freepik

Sel elektrolisis digunakan untuk menghasilkan logam dengan tingkat kemurnian tinggi melalui proses pemisahan ion logam. Salah satu contohnya adalah produksi aluminium dari bauksit yang dilakukan dengan cara elektrolisis senyawa aluminium oksida (Al₂O₃).

Melalui proses ini, ion aluminium akan menerima elektron di katoda dan berubah menjadi aluminium murni yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.

Selain aluminium, metode elektrolisis juga digunakan dalam pemurnian logam seperti tembaga. Dalam proses pemurnian tersebut, logam dengan tingkat kemurnian rendah digunakan sebagai anoda, sedangkan logam murni akan terbentuk pada katoda. Proses ini menunjukkan bagaimana katoda adalah bagian penting dalam menghasilkan logam hasil elektrolisis.

Penyepuhan Logam

Penyepuhan logam merupakan proses melapisi suatu logam dengan logam lain menggunakan prinsip elektrolisis. Tujuannya adalah meningkatkan ketahanan terhadap korosi sekaligus membuat tampilan logam menjadi lebih menarik.

Contoh penyepuhan dapat ditemukan pada pelapisan perhiasan dengan emas, pelapisan besi menggunakan krom, atau pelapisan komponen industri agar lebih tahan terhadap korosi. Penerapan ini menjadi bukti bahwa metode elektrolisis tidak hanya dipelajari dalam teori, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam kehidupan.

Produksi Gas Industri

Sel elektrolisis juga digunakan untuk menghasilkan gas tertentu, seperti hidrogen dan oksigen melalui proses elektrolisis air. Dalam proses ini, molekul air diuraikan oleh energi listrik menjadi gas hidrogen di katoda dan gas oksigen di anoda.

Dalam proses tersebut, air mengalami reaksi reduksi di katoda sehingga menghasilkan gas hidrogen. Sementara itu, reaksi oksidasi terjadi di anoda dan menghasilkan gas oksigen. Jika diamati melalui gambar sel elektrolisis, arah pembentukan gas pada kedua elektroda dapat terlihat dengan jelas.

Gas hidrogen memiliki banyak manfaat, seperti digunakan sebagai bahan bakar alternatif dan bahan baku industri kimia. Sementara itu, gas oksigen banyak digunakan dalam bidang medis, pengelasan, serta berbagai proses industri lainnya.

Cek di sini untuk mempelajari tentang pengenceran larutan

Contoh Soal Elektrokimia

soal-soal
latihan soal-soal sel elektrolisis; freepik

Untuk memahami konsep elektrokimia, terutama pada proses elektrolisis, diperlukan latihan soal yang berkaitan dengan perhitungan hasil reaksi. Perhitungan dalam elektrolisis biasanya menggunakan konsep jumlah muatan listrik, massa zat yang terbentuk, serta volume gas yang dihasilkan selama proses berlangsung.

Berikut beberapa contoh soal elektrokimia yang sering digunakan dalam pembelajaran.

1. Menghitung Massa Logam yang Diendapkan pada Katoda

Soal:
Larutan tembaga(II) sulfat (CuSO₄) dielektrolisis menggunakan arus listrik sebesar 2 ampere selama 30 menit. Jika massa atom relatif tembaga (Cu) adalah 63,5 dan 1 Faraday = 96.500 C, hitung massa tembaga yang mengendap di katoda!

Penyelesaian:

Diketahui:

  • Arus listrik (I) = 2 A
  • Waktu (t) = 30 menit = 1.800 detik
  • Ar Cu = 63,5
  • Elektron Cu²⁺ = 2
  • 1 Faraday = 96.500 C

Gunakan rumus hukum Faraday:

m=(Ar×I×t)/(n×F)m = (Ar × I × t) / (n × F)

Keterangan:

  • m = massa zat yang dihasilkan (gram)
  • Ar = massa atom relatif
  • I = kuat arus listrik (ampere)
  • t = waktu (detik)
  • n = jumlah elektron
  • F = konstanta Faraday

Maka:

m = (63,5 × 2 × 1.800) / (2 × 96.500)

m = 1,18 gram

Jadi, massa tembaga yang mengendap pada katoda adalah sekitar 1,18 gram.

2. Menentukan Volume Gas yang Dihasilkan di Anoda

Soal:
Elektrolisis larutan NaCl menghasilkan gas klorin (Cl₂) di anoda. Jika arus listrik sebesar 5 ampere dialirkan selama 1 jam, tentukan volume gas klorin yang terbentuk pada kondisi STP!

Penyelesaian:

Diketahui:

  • Arus listrik (I) = 5 A
  • Waktu (t) = 1 jam = 3.600 detik
  • Volume molar gas STP = 22,4 liter/mol

Reaksi anoda:

2ClCl2+2e2Cl⁻ → Cl₂ + 2e⁻

Jumlah elektron yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 mol Cl₂ = 2 mol elektron.

Hitung jumlah muatan listrik:

Q = I × t

Q = 5 × 3.600

Q = 18.000 C

Jumlah mol elektron:

mol e⁻ = Q / F

mol e⁻ = 18.000 / 96.500

mol e⁻ = 0,186 mol

Karena 2 mol elektron menghasilkan 1 mol Cl₂:

mol Cl₂ = 0,186 / 2

mol Cl₂ = 0,093 mol

Volume gas:

V = mol × 22,4

V = 0,093 × 22,4

V = 2,08 liter

Jadi, volume gas klorin yang dihasilkan di anoda adalah sekitar 2,08 liter.

Melalui contoh soal tersebut, dapat diketahui bahwa jumlah zat yang dihasilkan dalam proses elektrolisis dipengaruhi oleh besar arus listrik dan lama waktu elektrolisis. Semakin besar muatan listrik yang dialirkan, semakin banyak pula zat yang terbentuk.

Belajar kimia tentu akan lebih mudah dengan memahami konsep dan mencoba beberapa latihan soal. Anda juga dapat belajar bersama guru privat kimia untuk membangun suasana belajar yang lebih mudah dan menyenangkan. Temukan guru yang tepat di sekitar Anda hanya pada situs web online Superprof.

Ringkaskan dengan AI

Apa Anda menyukai artikel ini? Berikan penilaian Anda

5.00 (2 nilai)
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang