Prancis adalah tetangga Inggris yang sangat dicintai dan juga sangat dibenci – yang pertama karena masakan dan fashion-nya yang bagus dan yang kedua karena banyaknya perang antara Kekaisaran Prancis vs Kekaisaran Inggris. Akan tetapi, apa sebenarnya yang membuat Prancis kekaisaran yang kuat? Gulir ke bawah dan cari tahu – atau klik di sini untuk menemukan fakta menarik lainnya tentang Prancis.

Kekaisaran Kolonial Prancis: Bagian Pertama

Selama sebagian besar sejarahnya, Prancis adalah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Raja Prancis pertama adalah Merovech, orang Franka yang hidup di abad ke-5. Meskipun pernah menduduki sebagian besar Eropa tengah (di bawah pimpinan Charlemagne, misalnya), Prancis tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai Kekaisaran sampai pada masa Napoleon. Namun, Prancis merupakan kekuatan kolonial yang penting. Gelombang kolonisasi pertama sebagian besar terjadi pada abad ke-17.

Nouvelle France (Prancis Baru)

Pada abad ke-16, karena hype yang dihasilkan oleh Spanyol setelah penemuan benua Amerika, Prancis melakukan beberapa upaya setengah hati untuk membentuk koloni di Dunia Baru. Koloni yang pertama belum didirikan sampai Port Royal dibangun di daratan baru Acadia pada tahun 1605, yang kemudian disebut Nova Scotia, Kanada. Tiga tahun kemudian pada 1608, Samuel de Champlain mendirikan Québec. Québec menjadi ibu kota koloni Prancis Baru, yang berkembang pesat pada perdagangan bulu. Penjelajah Prancis memperluas wilayahnya di sebelah barat sepanjang sungai St. Lawrence dan kemudian ke selatan melalui Great Lake dan jaringan sungainya (Louisiana, meliputi sebagian besar daratan di sebelah barat Mississippi yang diklaim pada tahun 1699) dan mendirikan pos-pos baru di sepanjang sungai.. Namun, Prancis lebih terfokus untuk menciptakan jaringan perdagangan bulu dengan suku-suku asli dari pemukiman pertanian, sehingga koloni Amerika-nya tidak pernah sampai padat penduduknya.

Di Selatan Khatulistiwa

Di Hindia Barat, pendirian sebuah koloni di St. Kitts pada tahun 1625 (sebuah pulau yang harus dibagi oleh Prancis dengan Inggris) menjadi langkah pertama. Compagnie des Indes d'Amérique didirikan pada tahun 1635 oleh Cardinal de Richelieu untuk menggantikan Compagnie St Christophe yang sudah tidak aktif dan untuk mengambil alih pulau-pulau Karibia untuk membangun perkebunan tembakau. Wilayah ini juga mencakup St Domingue (sebuah pulau yang Prancis bagi dengan Spanyol, yang masing-masing kemudian disebut Haiti dan Republik Dominika), Guadeloupe, dan Martinik. Sedangkan di Amerika Utara, orang Prancis memanfaatkan penduduk setempat untuk menggarap perkebunan di Karibia, pertama tembakau, kemudian tebu, yang sangat bergantung pada perbudakan terhadap penduduk lokal dan perdagangan budak dengan Afrika. Pada kenyataannya, ada serangkaian pemberontakan yang mengarah ke penghapusan etnis seperti Carib Expulsion tahun 1660 yang hampir memusnahkan populasi kaum Carib di Martinik.

Kardinal de Richelieu, mendirikan Compagnie des Îndes d'Amérique
Kardinal de Richelieu, penasihat Raja Louis XIII, mendirikan Compagnie des Îndes d'Amérique.

Mulai 1676, setelah banyak pertempuran melawan penduduk setempat dan kekuatan kolonial lainnya, Prancis mendirikan koloni baru di wilayah yang sekarang menjadi Guyana Prancis, tepat di utara Brasil.

Penyerangan Pertama ke Afrika

Pembentukan pos perdagangan di sepanjang pantai Senegal pada 1664 menandai awal kolonialisme Prancis di Afrika. Mereka memperdagangkan budak dari negara-negara Afrika di pedalaman untuk dikirim ke koloni Karibia. Compagnie des Indes Orientales berhasil membangun pos-pos di La Réunion dan Mauritius pada 1665 (meskipun keduanya sudah lebih dulu telah diklaim oleh Prancis). Mereka digunakan sebagai titik pasokan untuk kapal-kapal yang menuju ke timur. Pada tahun 1719, Prancis memiliki wilayah kekuasaan pertama di India, dan mengambil keuntungan dari jatuhnya Kekaisaran Mughal dengan mendukung penguasa lokal di India melawan Inggris. Karena pada akhirnya dikalahkan, Prancis hanya bisa mempertahankan Pondicherry dan Chantannagar, yang pada akhirnya juga diserahkan ke India yang merdeka pada tahun 1954.

Penurunan Kekaisaran Kolonial Pertama

Perjanjian Utrecht, yang memiliki dampak mendalam pada koloni-koloni Amerika Prancis, sebagina besar dimaksudkan untuk mengatur suksesi Spanyol setelah Raja Charles II dari dinasti Habsburg gagal menunjuk penerus tahta. Perjanjian itu menetapkan cucu Louis XIV sebagai pemilik takhta Spanyol, tetapi terombang-ambing di antara beberapa koloni Prancis. Misalnya, Newfoundland dan Rupert's Land di sekitar Teluk Hudson diserahkan ke Inggris. Selama seratus tahun berikutnya, Prancis perlahan-lahan kehilangan sebagian besar harta kolonialnya, terutama karena perang. Perang Suksesi Austria (1744-1748), Perang Tujuh Tahun – yang oleh orang Amerika disebut French and Indian War – (1756-1763), kemudian Revolusi Prancis (173-1802) menyebabkan Prancis kehilangan sebagian besar Kanada dan sebagian besar dari Karibia yang diambil Kerajaan Inggris. Louisiana diserahkan kepada Spanyol dalam perjanjian rahasia Fountainebleau pada 1762 (tetapi dibeli kembali oleh Prancis pada tahun 1800 dari Spanyol dalam perjanjian Ildefonso yang sama rahasianya).

Kekaisaran Prancis Pertama: Napoleon Bonaparte

Setelah Revolusi Prancis dan penggulingan rezim terdahulu, Prancis melakukan beberapa upaya untuk menemukan bentuk pemerintahan yang tepat. Setelah Pemerintahan Teror, Direktori mencoba untuk menyeimbangkan semuanya, hanya untuk digulingkan oleh Napoleon Bonapart dalam kudeta Brumaire ke-18 (Prancis memiliki kalender yang berbeda untuk sementara, yaitu 9 November 1799). Sebuah Konsulat didirikan dengan tiga Konsul, dan Napoleon merupakan Konsul Pertama. Setelah Peace of Amiens ditandatangani dengan Inggris pada tahun 1802, ia terpilih sebagai Konsul seumur hidup.

selain terkenal Napoleon 1 juga memperkenalkan sistem matrik
Napoleon I ini sebagian besar dikenal karena penaklukannya, tetapi ia juga bertanggung jawab untuk memperkenalkan sistem metrik. Kredit foto: Fæ on Visual Hunt

Sementara itu, di Karibia, sebuah pemberontakan di Haiti yang dipimpin oleh seorang mantan budak Toussaint Louverture memaksa Napoleon untuk menjual wilayah Louisiana kepada Amerika Serikat pada tahun 1803, yang sangat mengurangi koloni Prancis. Pada tahun 1804, parlemen melakukan pemungutan suara untuk membuat Prancis menjadi Kekaisaran, dengan Napoleon sebagai pemimpinnya. Kemudian ia dilantik pada 2 Desember.

Puncak Kekaisaran Prancis

Napoleon telah memulai penaklukannya di bawah Direktori, termasuk:

  • sebagian besar wilayah Italia
  • Swiss
  • Belanda
  • wilayah dari Belgia hingga tepi barat Sungai Rhine.

Sebagai Konsul Pertama, ia melanjutkan penaklukannya atas Italia, memperluas wilayah Prancis di luar Rhine dan sampai ke Hanover dan Cuxhaven di pantai Jerman barat laut. Setelah dinobatkan sebagai Kaisar, ia menganeksasi banyak bagian selatan Jerman (negara bagian Bavaria, Baden, Württemburg dan Saxony) sebagai negara bawahan, dan mulai berkuasa atas penaklukannya atas Spanyol.

Masa-Masa Sulit dan Keruntuhan

Kaisar menghadapi perlawanan yang semakin meningkat dari Spanyol termasuk pemberontak gerilya bernama Junta. Selama beberapa tahun, ia dipukul mundur oleh Jenderal Inggris Wellesley, Adipati Wellington. Sementara itu, Prusia diam-diam mengumpulkan sekutu. Meskipun Napoleon pada mulanya menang di Austerlitz, Rusia yang sebelumnya merupakan sekutunya segera mengumumkan bahwa mereka bergabung dengan koalisi melawan Bonaparte. Napoleon memulai kampanye Rusia-nya pada tahun 1812, sementara banyak pasukannya masih terikat dengan pemberontakan Spanyol. Terlepas dari beberapa tindakan militer yang brilian, Napolean terus dipukul mundur hingga Paris menyerah pada Maret 1814. Napoleon turun tahta pada bulan April, sehingga mengakhiri Perang Napoleon. Dia diasingkan ke pulau Ebla, dan dari sana ia mencoba melakukan kudeta pada tahun 1815 melawan raja yang baru dipulihkan dari “monarki Juli”, Louis XVIII (saudara Louis XVI). Dia memerintah selama sekitar seratus hari sebelum dikalahkan di Waterloo. Dia diasingkan lagi, kali ini ke pulau Saint-Helena, sampai ia meninggal pada tahun 1821.

Kekaisaran Prancis Kedua: Napoleon III

Setelah restorasi Louis XVIII, yang meninggal pada tahun 1824, adiknya Charles X naik takhta. Ia digulingkan pada 1830 dan Louis-Philippe (sepupu Louis XVI) terpilih sebagai Raja Prancis sebagai penggantinya. Setelah revolusi 1848, Louis Philippe turun tahta demi cucunya, tetapi pemerintah Prancis memutuskan untuk kembali menerapkan sistem pemerintahan republik. Mereka memilih Louis Napoléon Bonaparte, keponakan Napoleon I, sebagai Presiden pertama Prancis. Konstitusi tidak mengizinkannya untuk menjalani masa jabatan kedua dan pada tahun 1851 ia mengadakan kudeta dan merayakan penobatannya sebagai Kaisar dengan nama Napoleon III pada tanggal 2 Desember 1852 – hari yang sama dengan pamannya.

dalam era napoleon III seni berkembang pesat
Era Napoleon III dikenal karena perkembangan seni, baik arsitektur maupun dekoratif (termasuk gaya Mesir). Kredit foto: Perpustakaan Umum Boston di Visual Hunt

Dia memimpin hingga tahun 1870 ketika dia menyerah ke Jerman setelah Pertempuran Sedan, pertempuran terakhir dari Perang antara Prancis dan Prusia. Ikuti tautan ini untuk menemukan lebih banyak fakta tentang Prancis.

Kekaisaran Kolonial Prancis: Bagian Kedua

Setelah berakhirnya Perang Napoleon, Inggris mengembalikan sebagian besar wilayahnya yang ada di luar negeri, termasuk:

  • Guyana Prancis
  • Pos perdagangan Senegal
  • Koloni India

- meskipun Inggris tetap ‘mencaplok’ Seychelles dan Mauritius. Charles X mencoba mengembalikan kekuasaan atas Haiti, tetapi pada akhirnya Haiti meraih kemerdekaannya meskipun terpaksa membayar ganti rugi kepada pemilik perkebunan Prancis. Pada tahun 1830, setelah pertempuran antara penguasa Aljazair atas Kekaisaran Ottoman dan konsul Prancis, Prancis menginvasi Aljazair, meskipun tidak sepenuhnya ditaklukkan sampai tahun 1847. Kemudian, di bawah pemerintahan Napoleon III, ekspansionisme Prancis kembali – kali ini, bukan di Eropa, tetapi di koloni. Dia mendirikan koloni-koloni di Kaledonia Baru dan Cochinchina (sebuah wilayah di Vietnam selatan) dan menjadikan sebagian Kamboja sebagai daerah protektorat. Dia melanjutkan penjajahan Afrika, pergi ke pedalaman dari pos perdagangan Senegal dan membangun koloni di sepanjang pantai barat. Praktik perbudakan mulai dilarang pada tahun 1848; sebaliknya, koloni-koloni Afrika yang baru berfokus pada perkebunan-perkebunan karet arab, kacang tanah dan Bambara. Napoleon III mencoba melakukan ekspansi di Amerika Selatan juga. Ketika pemerintahan sementara Meksiko di bawah pimpinan Benito Juarez menolak membayar hutang pemerintah yang digulingkan, pemilik piutang utama yakni Prancis, Inggris, dan Spanyol mengambil jalan militer. Prancis melangkah lebih jauh, menempatkan Archduke Maximilian (saudara Kaisar Austria dan menantu Raja Belgia) sebagai Raja Meksiko. Namun, perlawanan Meksiko segera berkembang dan Napoleon III menarik dukungannya pada tahun 1866. Maximilian I dieksekusi satu tahun kemudian.

Maximilian I dari meksiko
Maximilian I dari Meksiko dan istrinya Queen Carlota (Charlotte). Kredit foto: Luisalvaz (Karya sendiri) https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, melalui Wikimedia Commons

Dekolonisasi

Perbedaan pendapat yang tumbuh di koloni-koloni setelah Perang Dunia I karena kegagalan Prancis untuk mengakui peran mereka dalam perang tidak menghasilkan tindakan apa pun dari pihak pemerintah Prancis, Tidak sampai setelah Perang Dunia II ketika Prancis mulai mengakui hak koloni mereka untuk menjalankan pemerintahan sendiri. Pembentukan Départements d'Outre-Mer (wilayah administrasi luar negeri) pada tahun 1946 memunculkan beberapa koloni yang ingin tetap bersama Prancis dengan hak yang sama dengan warga negara Prancis di Hexagon. Koloni ini meliputi:

  • Guadeloupe
  • Guyana Prancis
  • Martinique
  • La Réunion

Koloni lain memiliki status semi-independen dengan hukum lokal dan pemerintahan sendiri yang terbatas tetapi memiliki lebih sedikit perwakilan, yang disebut Territoires d'Outre-Mer atau TOM. Seiring berjalannya waktu, beberapa TOM meraih kemerdekaan atau berubah menjadi DOM (Mayotte pada 2011). Pada tahun 2003, semua TOM kecuali satu (kepemilikan tidak berpenghuni di Samudra Hindia dan Antartika) menjadi Collectivités d'Outre-Meut yang semi-independen:

  • St-Pierre-et-Miquelon
  • Wallis-dan-Fortuna
  • Polinesia Prancis
  • Mayotte (hingga 2011 ketika bergabung dengan Republik Prancis)

Dekolonisasi Prancis tidak berjalan damai di semua koloni. Pada tahun 1947, sebuah pemberontakan di Madagaskar berkobar selama satu tahun, dan dampak konflik dari Perang Aljazair (1954-1962) masih terasa di kedua sisi. Baca lebih lanjut tentang bagaimana pengaruh kerajaan Prancis yang menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi dari 30 negara. Jika Anda mencari tutor, pencarian kursus bahasa Prancis di Jakarta akan menampilkan hasil terbanyak pada situs Superprof, tetapi ada banyak pilihan lain jika Anda ingin mengambil kursus bahasa Perancis online.

Butuh guru Bahasa Prancis ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5 - 1 suara
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang