Apakah Anda mengambil kursus bahasa Perancis online atau belajar bahasa Prancis sendiri? Ingin tahu lebih banyak tentang negara memesona dengan baguette dan bérets-nya ini? Lanjutkan membaca! Di sini, di Superprof, kami telah mengumpulkan 10 fakta menarik yang mungkin belum Anda ketahui tentang Prancis.

1. Ada gunung berapi di tengah Prancis

Pusat Prancis didominasi oleh Massif Central, sebuah pegunungan yang begitu tua sehingga pegunungan ini tidak lagi seperti Namanya karena di beberapa tempat terjadi erosi yang lumayan parah. Pegunungan ini dipisahkan dari Pegunungan Alpen oleh lembah Rhone. Pegunungan ini juga lebih tua dari pegunungan Alpen dan Pyrenees. Beberapa gunung di sini dulunya merupakan gunung berapi aktif. Tetapi jangan khawatir, letusan terakhirnya terjadi pada tahun 4040 SM, jauh sebelum tulisan tercipta dan jauh sebelum baja pertama kali ditempa.

rantai pegunungan di Prancis dengan gunung api yang tidak aktif
Massif Central adalah rantai pegunungan di Prancis dengan gunung berapi yang sudah tidak aktif. Kredit foto: alpha du centaure di Visualhunt.com

2. Sebelum Orang Romawi datang, bahasa yang digunakan di Prancis adalah bahasa Galia

Julius Caesar menulis memoar tentang ini. Goscinny dan Uderzo juga mengabadikannya dalam komik: orang-orang Romawi menginvasi wilayah yang disebut Gaulia sekitar 58-50 SM, menaklukkan seluruh wilayah yang sekarang menjadi Prancis ini. (Seluruhnya? Tidak, hanya satu desa kecil...) Orang-orang yang tinggal di sana adalah orang Kelt, yang memiliki hubungan jauh dengan orang Celtic dari Inggris dan Irlandia. Galia memiliki dewa yang sama dan menuturkan bahasa yang sama – bahasa Galia. Tetapi bahasa Galia sudah menjadi bahasa tersendiri, mirip dengan bahasa Inggris Kuno, Bahasa Welsh dan Bahasa Cornish, berbeda dari bahasa Celtic yang kemudian menjadi bahasa Manx, Skotlandia, dan Gaelik Irlandia. Bahasa Galia dituturkan di sebagian besar wilayah yang sekarang disebut Prancis, kecuali untuk Aquitaine, tempat seorang pendahulu Basque berbicara. Hanya sedikit jejak bahasa Galia yang bertahan dalam bahasa Prancis (sekitar 150-180 kata, ditambah turunannya), yang hampir seluruhnya didasarkan pada bahasa Latin. Asterix yang malang. Di sisi lain, salah satu kota terbesar di Galia, Lutetia, yang terletak di sepanjang sungai Seine, masih hidup dan berkembang sampai sekarang di kenal dengan nama Paris.

3. Dinasti pertama raja-raja Prancis merupakan penganut poligami

Krena kekacauan pasca runtuhnya Kekaisaran Romawi, berbagai suku Jerman bermigrasi ke seluruh Eropa dan mendirikan negara-negara baru. Yang paling sukses adalah kaum Franka. Mereka membangun sebuah kerajaan yang pada puncak kejayaannya meliputi sebagian besar Prancis dan wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Belgia, Belanda dan Jerman. Dinasti pertama raja-raja Franka disebut Meroving, yang merupakan keturunan Merovech. Dan meskipun mereka adalah orang Kristen setelah cucu Merovech yang bernama Clovis (bentuk awal dari nama Louis) membaptis dirinya sendiri, raja-raja Franka masih tetap menikahi banyak istri. Hal ini agak kontroversial di kalangan cendekiawan, karena sebagian menyarankan mereka untuk menikahi wanita itu satu-satu – menceraikan istri yang sudah dinikahi dulu sebelum menikahi yang lain. Namun, zaman itu sangat mendukung praktik poligami di kerajaan karena banyak ratu pertama yang masih disebutkan setelah raja menikahi wanita yang lain. Praktik ini terus berlanjut hingga Charlemagne melarangnya. Mereka juga sangat menjunjung royal lock – gaya rambut panjang dan bergelombang yang dimiliki oleh raja-raja Franka dan dianggap sebagai perwujudan dari kekuatan kerajaan mereka.

4. Château de Versailles memiliki kamar mandi dan toilet

Carilah “fakta menarik tentang sejarah Prancis” di Internet dan Anda akan menemukan bagian yang membahas bau istana Prancis di bawah kepemimpinan Raja Louis XIV pada abad ke-17. Dia memiliki istana baru yang dibangun di istana Versailles yang terletak agak jauh di luar kota Paris untuk menghindari rakyat Paris yang meneror masa kecilnya ketika dia tinggal di Louvre, dan untuk mengawasi para bangsawan dengan sebaik mungkin. Ini adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Prancis. Seharusnya, ibukota administratif baru Prancis yang berdiri dalam kemegahan perlu meningkatkan kebersihannya. Kita tahu ini dari saksi mata yang menulis tentang bau badan serta air seni dan tinja di sudut-sudut istana dan kebun. Namun, istana Versailles memiliki fasilitas dalam hal lain. Memang benar bahwa orang-orang pada waktu itu tidak mandi setiap hari. Mereka menganggap bahwa berendam terlalu lama di dalam air dapat menyebarkan penyakit. Akan tetapi, mereka biasa membersihkan tubuh dengan handuk basah yang dibasahi air atau parfum, yang seharusnya dibasahi dengan alkohol agar higienis. Mandi merupakan aktivitas yang dianggap menyenangkan, dan raja Prancis memiliki kamar mandi sendiri dan memasang pemandian umum untuk sebagai fasilitas kerajaan.

perhatian Louis XIV terhadap kebersihan istana Versailles
Kebersihan sebenarnya menjadi perhatian besar bagi Louis XIV ketika membangun istana Versailles, dengan dibuatnya kamar mandi umum, kamar mandi, dan selokan. Kredit foto: Jose Losada Foto di VisualHunt.com

Orang-orang tidak perlu lagi buang air di koridor karena ada kamar mandi umum di Versailles untuk 300 orang, dan para tamu selalu bisa memberi tanda kepada pelayan yang lewat untuk membawakan mereka kursi toilet. Toilet pertama dengan air mengalir diciptakan pada tahun 1727, dilengkapi dengan serangkaian drainase dan pipa untuk membuang limbah keluar dari istana dan ke rawa-rawa di sekitarnya. Jadi mengapa Versailles memiliki bau yang tidak sedap? Jika saksi mata (atau hidung) ada di sana ketika ada acara besar, mereka mungkin tidak akan mau menyerahkan tempat mereka dan melewatkan waktu untuk melihat raja hanya untuk menyempatkan buang air. Atau bisa jadi, mereka tidak mengetahui fasilitas ini. Dan hanya karena sesuatu itu pantas, bukan berarti semua orang mempraktikkannya. Ketika Anda mengunjungi Prancis, Anda harus mengunjungi istana Versailles dan melihat tempat tinggal Marie Antoinette. Istana ini sangat berbeda dengan sebuah istana di lembah Loire, Château de Beauregard, sebuah objek wisata lain yang harus Anda kunjungi dalam perjalanan Anda ke Prancis.

5. Ada sekolah-sekolah bahasa Prancis di seluruh dunia

Orang Prancis masih menganggap bahwa bahasa Prancis masih menjadi “lingua franca”, bahasa utama yang digunakan ketika dua orang dari berbagai negara bertemu. Sayangnya, kenyataannya sudah berbeda, namun masih ada banyak sekali penutur bahasa Prancis yang tersebar di seluruh dunia. Sebagian dari mereka tinggal di negara-negara tempat bahasa Prancis masih menjadi bahasa ibu atau setidaknya bahasa resmi. Ada juga yang merupakan diplomat Prancis dan karyawan perusahaan multinasional besar yang mendukung perekonomian Prancis sehingga mereka sering ditempatkan di luar negeri. Bahkan ada sejumlah wilayah yang berbahasa Prancis di kepulauan Channel Inggris. Oleh karena itu, pemerintah Prancis mulai mendirikan sekolah-sekolah bahasa Prancis di luar negeri dengan program belajar mengajar di kelas menggunakan bahasa Prancis, tidak hanya di koloni dan wilayah di luar negeri seperti Martinik, Guadeloupe, Guyana Prancis, dan berbagai negara Afrika, tetapi juga hampir di semua kota besar di seluruh dunia. Perbedaan antara Lycées Français dan sekolah internasional lainnya adalah bahwa semuanya mengikuti kurikulum Prancis, sehingga seorang ekspatriat Prancis bisa pindah dari kota ke kota dan kembali hidup di Prancis, sehingga anaknya tidak perlu lagi bolos sekolah atau terpaksa tinggal kelas dan mengulang. Ini membuat sistem sekolah Prancis sangat populer untuk diplomat lain (misalnya anggota PBB) dan orang yang terpaksa berpindah-pindah secara teratur.

6. Roti panggang Prancis merupakan hasil dari memanfaatkan roti yang sudah lama

Banyak hal yang berlabel “Prancis” tetapi sebenarnya bukan (di Prancis, gaya kepang Prancis justru disebut “natte Africaine”). Sebaliknya, roti panggang Prancis juga bisa ditemukan di negara lain meskipun sangat populer di Prancis. Makanan tradisional Prancis ini disebut “pain perdu”, atau “lost bread”. Makanan juga memiliki nama lain “recovered bread” karena roti ini dibuat dengan cara yang sederhana untuk memulihkan roti yang mengeras, karena kalau tidak, rotinya tentu akan sulit untuk dimakan. Bahkan keluarga yang miskin, setidaknya di negara ini, bisa membeli susu dan telur, sehingga roti yang sudah mengeras akan direndam dalam campuran kedua bahan masakan ini sampai lunak, kemudian digoreng dan disajikan dengan mentega atau madu. Meskipun benar bahwa siput (escargot) dan kaki katak adalah bagian dari masakan Prancis, tidak semua orang suka memakannya. Foie gras adalah masakan untuk acara-acara besar seperti Hari Bastille (hari libur nasional Prancis). Di sisi lain, pain perdu adalah makanan pokok untuk sarapan di Prancis, meskipun makanan ini tidak sepopuler croissant.

7. Eiffel membangun sebuah apartemen “rahasia” di atas Menara Eiffel

Gustave Eiffel terkenal karena menara baja eponymous yang ia buat untuk Pameran Dunia 1889 di ibu kota Paris. Dia juga membangun perancah yang menjaga Patung Liberty tetap tegak dan menjadi kepala dari banyak proyek monumental. Menara Eiffel merupakan salah satu monumen yang identik dengan budaya Prancis (bersama dengan Arc de Triomphe, piramida museum Louvre, keju Prancis, dan anggur Prancis). Akan tetapi, menara ini pada awalnya dimaksudkan untuk dibongkar setelah dua puluh tahun, Eiffel berpikir bahwa memiliki apartemen pribadi di menara ini sehingga ia bisa menerima tamu terhormat yang kebanyakan merupakan ilmuwan dan intelektual (memiliki laboratorium mini sendiri) akan menjadi ide yang sangat cerdas. Menurut laporan, ia menerima tawaran ribuan franc dari orang-orang yang ingin menyewa apartemennya ini, tetapi ia selalu menolak. Apartemennya berada di platform ketiga dan sekarang terbuka untuk umum. Wisatawan dapat mengagumi patung lilin Eiffel dan Thomas Edison (salah satu tamu istimewa) di kamarnya yang nyaman.

8. Opera Paris menjadi rumah budidaya ikan trout dan lebah madu

Berbicara tentang apartemen rahasia, siapa pun yang telah melihat (atau membaca) Phantom of the Opera pasti tahu tentang danau bawah tanah di ruang bawah tanah Paris Opéra Garnier yang terkenal, yang menjadi tempat persembunyian Phantom. Apa yang mungkin tidak diketahui banyak orang adalah bahwa danau itu asli, dan telah digunakan untuk membiakkan ikan trout. Gedung opera (opera house) adalah jenis bangunan yang berat dan membutuhkan fondasi yang tepat. Tetapi permukaan air yang tinggi di daerah Paris pasti akan membanjiri lantai bawah tanah gedung – tempat untuk menyimpan semua alat peraga, kostum, dan backdrop yang mahal. Jadi, arsitek justru membangun area khusus untuk menampung air banjir di dalam gedung. Area tersebut dilengkapi dengan atap kubah yang besar, disangga dengan tiang batu yang kokoh, serta memberikan ruang bagi air ketika permukaan air tinggi, dan gudang penyimpanan yang sebenarnya dibangun di atasnya. Sayangnya, tidak ada apartemen rahasia yang menjadi rumah bagi seorang pria cacat yang menulis musik mengerikan. Anda bisa menyewa Phantom’s box (Nomor 5), untuk menonton pertunjukan yang diakui secara internasional.

terdapat pintu masuk ke tadah air dasar opera garner didalamnya
Pintu masuk ke tadah air di dasar Opéra Garner, tempat Gaston Leroux menetapkan Phantom of the Opera-nya. Oleh FR (Pekerjaan sendiri) melalui Wikimedia Commons

Untuk beberapa lama, tadah air di dasar opera digunakan untuk memelihara ikan trout. Hal ini tampaknya sudah tidak dilakukan, tetapi atapnya masih memiliki sarang lebah – Anda bisa membeli madu di toko oleh-oleh opera. Saat mengunjungi Prancis, Anda pasti ingin mengunjungi gedung opera ini. Tur yang ditawarkan biasanya tidak mencakup tadah air tadi, tetapi mereka menyuguhkan pameran kostum dan arsitektur gedung opera ini sangat indah.

9. Bahasa Prancis dituturkan di beberapa daerah di India

Jika Anda tahu sedikit tentang sejarah dan kolonialisme Prancis, pasti Anda sudah tahu bahwa bahasa Prancis juga digunakan di Afrika dan mungkin di sebagian wilayah Karibia (dan wilayah Quebec di Kanada), tetapi India menjadi milik Inggris, bukan? Ya, sebagian benar. Dengan jatuhnya Kekaisaran Mughal di India dan potensi bisnis teh dan kapas yang menyilaukan mata, banyak kekuatan besar Eropa yang berusaha untuk menaklukkan India, di antaranya adalah Inggris, Belanda, dan juga Prancis. Hal ini didukung juga dihalangi oleh perseteruan antara orang India sendiri sekitar masing-masing penguasa lokal menyatakan dirinya sebagai pewaris sah Mughal Kekaisaran berikutnya. Ini membuat mereka rentan terhadap utusan Eropa yang menyuguhkan emas di hadapan mereka, serta pasukan Eropa yang menawarkan bantuan prajurit. Perang di India yang menjadi pengalaman pertama Wellesly, yang kemudian menjadi Adipati Wellington, banyak terjadi baik di antara sejumlah kekuatan besar Eropa maupun di antara keluarga-keluarga kerajaan India. Dalam kekacauan itu, Inggris besar muncul sebagai pemenang, tetapi Prancis berhasil memperoleh dan mempertahankan daerah-daerah yang sekarang bernama Punducherry dan Chandannagar. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Prancis, kedua wilayah tersebut diberikan kepada India ketika meraih kemerdekaan, tetapi bahasa Prancis tetap menjadi bahasa resmi di wilayah tersebut.

10. Bendera Prancis adalah penghormatan untuk keluarga kerajaan

Ketika kaum revolusioner Prancis pertama kali mengenakan tricolore – simpul pita berwarna biru, putih, dan merah yang kemudian menjadi bendera Prancis – ternyata mereka tidak begitu revolusioner. Pada awalnya, simpul pita ini hanya berwarna biru dan merah, warna dari bendera kota Paris. Jenderal Lafayette menyarankan untuk menambahkan warna putih untuk mewakili kaum bangsawan – pada kenyataannya, tentara kerajaan juga menggunakan warna biru, putih, dan merah, warna yang sering ditemukan dalam bendera Prancis yang dulu.

bendera negara Prancis tidak pernah berganti warna, yaitu biru,putih dan merah
Bendera Prancis yang berwarna merah, putih dan biru tidak revolusioner dalam hal warna. Foto di VisualHunt.com

Meskipun kalimat “à bas les aristos!” menjadi buah bibir untuk revolusi Prancis, pada awalnya semua orang hanya menginginkan perwakilan yang memenuhi syarat di États-Généraux (suatu bentuk parlemen yang sebenarnya hanya diselenggarakan berdasarkan kenyamanan raja) dan harga roti yang terjangkau. Penyerangan pertama terhadap pemerintahan demokrasi ini sejalan dengan monarki konstitusional. Tetapi kebimbangan raja yang tak berkesudahan dan kebangkitan fundamentalisme politik yang mengirim revolusioner yang sama banyaknya dengan bangsawan ke guillotine menyebabkan suasana yang membuat raja takut akan nyawanya dan keluarganya. Tertangkap ketika mencoba melarikan diri ke Austria (seseorang mengenali wajahnya dari koin), ini adalah jeritan terakhir bagi orang-orang Prancis yang merasa bahwa sang raja telah mengkhianati mereka. Raja pun meninggal (meskipun monarki kembali dilembagakan hingga dua kali pada abad berikutnya), tetapi warna kerajaan tetap menggunakan warna bendera Prancis – meskipun sebagian orang berpendapat bahwa warna putih mewakili kerajaan Prancis dan rakyatnya, bukan monarki itu sendiri. Untuk mencari kursus di ibukota, carilah ‘kelas bahasa Prancis di jakarta’.

Butuh guru Bahasa Prancis ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5 - 1 suara
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang