Agung - Guru autocad - Kecamatan Bekasi Utara
Agung - Guru autocad - Kecamatan Bekasi Utara

Profil Agung dan detail kontaknya telah diverifikasi oleh pakar kami

Agung

  • Tarif Rp200,000
  • Respon 24 jam
  • Murid

    Jumlah murid yang Agung ajar sejak bergabung dengan Superprof

    6

    Jumlah murid yang Agung ajar sejak bergabung dengan Superprof

Agung - Guru autocad - Kecamatan Bekasi Utara
  • 5 (6 ulasan)

Rp200,000/jam

Reservasi kursus
  • AutoCAD
  • SketchUp

Gambar yang Dibangun, Bukan Sekadar Digambar: Belajar AutoCAD & SketchUp Langsung dari Arsitek Praktisi

  • AutoCAD
  • SketchUp

Lokasi kursus

    • Online
    • Di rumah Anda atau di tempat publik : Bisa berpergian sampai 40 km dari Kecamatan Bekasi Utara

Direkomendasikan

Agung adalah seorang guru yang sangat dihargai oleh komunitas nya. Dia direkomendasikan karena keseriusannya, metode pengajarannya, dan kualitas kursusnya. Pilihan yang tepat untuk Anda untuk dapat berkembang dengan percaya diri.

Tentang Agung

Ar. R. Agung Widiono adalah arsitek lulusan Arsitektur Universitas Indonesia yang telah berpraktik sejak 2007. Ia anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan pemegang Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA).

Selama hampir dua dekade, ia menangani beragam proyek, terutama rumah tinggal, dari tahap konsep hingga bangunan berdiri di lapangan.
Saat ini Agung menjabat Manager Arsitek dan Senior Architect di RUMAH KLASIK, firma arsitek sekaligus kontraktor. Ia juga mendirikan dan memimpin RAW Arch Studio di Bekasi.

Karena bekerja di dua sisi, meja gambar dan lapangan, ia memandang desain bukan sekadar gambar yang indah. Baginya, desain adalah keputusan yang harus bisa dibangun, terjangkau, dan nyaman ditinggali.

Di luar praktik, Agung aktif membimbing generasi arsitek berikutnya. Ia mengajar AutoCAD dan SketchUp berbasis proyek nyata, mendampingi mahasiswa arsitektur dalam studio dan portofolio, serta menyiapkan lulusan baru agar siap bekerja. Prinsipnya sederhana: arsitek hebat jarang tumbuh sendirian, dan pengalaman paling berharga adalah pengalaman yang dibagikan.

Lihat lebih banyak

Tentang kursus ini

  • Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas XII
  • Diploma-3 (D3)
  • Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
  • +9
  • tingkat :

    Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas XII

    Diploma-3 (D3)

    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

    Sarjana

    Magister

    Diploma-4 (D4)

    Doktor

    Pemula

    Menengah

    Mahir

    Profesional

    Anak-anak

  • Inggris
  • Indonesia

Tersedia semua bahasa di kursus ini :

Inggris

Indonesia

Gambar yang Dibangun, Bukan Sekadar Digambar: Belajar AutoCAD & SketchUp Langsung dari Arsitek Praktisi

Kursus AutoCAD dan SketchUp di Bekasi bersama Ar. R. Agung Widiono, IAI — arsitek praktisi sejak 2007. Belajar software dengan logika proyek nyata, bukan hafalan menu.

Jam dua pagi, layar penuh garis
Bayangkan seorang mahasiswa arsitektur, jam dua pagi, tiga hari sebelum pengumpulan tugas studio. Di layarnya terbuka AutoCAD dengan ratusan garis yang saling tumpang tindih. Ia tahu perintah LINE, OFFSET, dan TRIM, tetapi gambarnya tetap kacau.

Layer-nya hanya satu. Skala kertas berubah setiap kali ia mencetak. Dimensinya tidak cocok antara denah dan tampak. Ketika dosen bertanya, "Ini tebal dindingnya berapa?", ia harus mengukur ulang dengan tangan gemetar.

Di jendela sebelahnya, SketchUp terbuka. Modelnya terlihat bagus dari satu sudut, tetapi begitu diputar, atapnya bolong, dindingnya menembus lantai, dan file-nya sudah 400 MB karena ribuan komponen sofa yang diunduh sembarangan.

Kalau cerita ini terasa akrab, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang yang belajar software arsitektur melewati malam seperti itu. Masalahnya bukan kurang rajin. Masalahnya, mereka diajari tombol, bukan cara berpikir.

Software bukan tujuan, bangunan adalah tujuan
Saya Agung Widiono. Saya berpraktik sebagai arsitek sejak 2007, lulusan Arsitektur Universitas Indonesia, anggota IAI, dan memegang STRA. Saat ini saya menjabat Manager Arsitek dan Senior Architect di RUMAH KLASIK, sebuah firma arsitek sekaligus kontraktor, dan menjalankan studio saya sendiri, RAW Arch Studio, di Bekasi.

Selama hampir dua dekade itu, AutoCAD dan SketchUp adalah alat kerja harian saya. Bukan untuk latihan, bukan untuk tugas kuliah, tetapi untuk gambar yang dibawa tukang ke lapangan, dibaca mandor, dihitung estimator, dan akhirnya berdiri menjadi rumah yang ditinggali keluarga.
Di dunia nyata, satu garis yang salah di gambar kerja bisa berarti kusen yang tidak muat, tangga yang terlalu curam, atau balok yang menabrak jendela. Kesalahan seperti itu tidak dibayar dengan nilai C. Ia dibayar dengan uang klien, waktu tukang, dan reputasi arsitek.

Itulah yang membedakan kursus ini. Saya tidak mengajarkan AutoCAD dan SketchUp sebagai software. Saya mengajarkannya sebagai bahasa untuk membangun.
Kenapa banyak orang sudah kursus tapi tetap bingung
Tutorial di YouTube jumlahnya ribuan, dan banyak yang bagus. Lembaga kursus komputer juga ada di mana-mana. Lalu kenapa masih banyak yang merasa "bisa software" tapi tidak bisa menghasilkan gambar yang layak dipakai?

Jawabannya sederhana: kebanyakan materi diajarkan oleh orang yang menguasai software, tetapi tidak setiap hari memakai software itu untuk proyek bangunan. Mereka tahu letak menu, tetapi tidak selalu tahu kenapa tebal garis dinding potong harus berbeda dengan garis tampak, atau kenapa denah untuk klien berbeda dengan denah untuk tukang.

Akibatnya, peserta pulang dengan hafalan perintah tetapi tanpa sistem. Mereka bisa menggambar satu denah, tetapi kewalahan saat harus menyusun satu set gambar lengkap yang konsisten dari denah, tampak, potongan, sampai detail.
Di kelas saya, setiap perintah selalu datang bersama alasannya. Anda tidak hanya tahu cara membuat layer, Anda tahu layer apa saja yang dipakai kantor arsitek, kenapa namanya disusun begitu, dan bagaimana sistem itu menyelamatkan Anda saat revisi datang jam sembilan malam dari klien.

Apa yang Anda pelajari di kelas AutoCAD
AutoCAD adalah tulang punggung gambar kerja di Indonesia. Kontraktor, konsultan, dan pemerintah daerah masih membaca gambar dalam format DWG. Menguasainya dengan benar adalah tiket masuk ke dunia kerja konstruksi.

Materi AutoCAD disusun mengikuti alur sebuah proyek rumah tinggal, dari nol sampai siap cetak:
1. Persiapan file seperti kantor profesional. Template, satuan, sistem layer, gaya teks dan dimensi, serta pengaturan tebal garis yang dipakai di praktik.
2. Denah yang benar secara konstruksi. Grid as kolom, tebal dinding sesuai material, kusen, arah bukaan pintu, dan penomoran ruang yang rapi.
3. Tampak dan potongan yang konsisten. Menurunkan ketinggian dari denah, membaca level lantai, plafon, dan atap tanpa menebak-nebak.
4. Detail yang bisa dibangun. Detail tangga, kusen, kamar mandi, dan sambungan sederhana yang benar-benar dipakai tukang di lapangan.
5. Layout, skala, dan plotting. Menyusun lembar gambar dengan kop, skala yang tepat, dan hasil cetak yang tebal-tipisnya terbaca jelas, baik untuk PDF maupun kertas.
6. Kecepatan kerja. Block, xref, dan kebiasaan kecil yang memangkas jam kerja tanpa mengorbankan ketelitian.
Di akhir kelas, target saya bukan Anda hafal 200 perintah. Target saya, Anda bisa menyerahkan satu set gambar yang kalau dibawa ke tukang, mereka mengerti tanpa harus menelepon Anda berkali-kali.
Apa yang Anda pelajari di kelas SketchUp

Kalau AutoCAD adalah bahasa untuk tukang, SketchUp adalah bahasa untuk klien. Di sinilah ide berubah menjadi sesuatu yang bisa dilihat, diputar, dan dirasakan sebelum satu bata pun dipasang.
Tapi model 3D yang baik bukan sekadar terlihat cantik di screenshot. Model yang baik bisa direvisi dengan cepat, ringan dibuka, dan akurat terhadap gambar kerja. Materi SketchUp mencakup:
1. Modeling dari gambar CAD. Mengimpor denah DWG dan membangun massa dengan ukuran yang tepat, bukan kira-kira.
2. Disiplin group dan component. Kebiasaan yang membuat model tetap rapi, tidak saling menempel, dan mudah diubah saat klien minta jendela digeser.
3. Tags dan scenes. Mengatur tampilan untuk presentasi: eksterior, interior, potongan, dan tahap pembangunan.
4. Material dan pencahayaan dasar. Memilih tekstur yang realistis tanpa membuat file membengkak.
5. Fasad dan interior. Membuat detail fasad, kanopi, railing, dan furnitur sederhana dengan proporsi yang benar.
6. Persiapan untuk render dan presentasi. Menyiapkan model agar siap dipakai di software render, serta menyusun gambar presentasi yang meyakinkan klien.
Yang paling sering membuat peserta terkejut adalah betapa cepatnya pekerjaan mereka setelah punya sistem. Revisi yang dulu makan satu malam bisa selesai dalam satu jam, karena modelnya tersusun dengan benar sejak awal.

Belajar dari proyek nyata, bukan latihan kosong
Salah satu hal yang paling saya pegang dalam mengajar adalah: latihan harus terasa seperti pekerjaan sungguhan. Karena itu, materi kelas berangkat dari tipe proyek yang benar-benar kami tangani di RAW Arch Studio dan di lapangan, misalnya rumah tinggal dua lantai, renovasi, atau fasad rumah klasik.
Anda akan melihat bagaimana sebuah ide sketsa berubah menjadi model SketchUp untuk presentasi, lalu diturunkan menjadi gambar kerja AutoCAD, lalu dibaca di lapangan. Rantai inilah yang jarang diajarkan di kursus biasa, padahal inilah yang dipakai setiap hari di kantor arsitek dan kontraktor.

Saya juga akan berbagi kesalahan. Kesalahan saya sendiri di awal karier, dan kesalahan yang sering saya temukan saat memeriksa gambar arsitek muda. Belajar dari kesalahan orang lain jauh lebih murah daripada mengalaminya sendiri di proyek.
Lima kesalahan yang paling sering saya temukan

Setiap kali memeriksa gambar mahasiswa, drafter baru, atau arsitek muda, ada kesalahan yang muncul berulang kali. Kesalahan ini kecil di layar, tetapi bisa mahal di lapangan. Di kelas, kita akan membongkarnya satu per satu.

1. Menggambar tanpa skala yang jelas. Banyak orang menggambar dengan angka sembarang, lalu mencoba "menyesuaikan" saat mencetak. Hasilnya, teks terlalu kecil, dimensi tidak terbaca, dan ukuran di kertas tidak bisa dipercaya. Di kelas, Anda akan menggambar di skala 1:1 dan mengatur skala hanya di layout, seperti yang dilakukan kantor profesional.
2. Semua objek di satu layer. Dinding, furnitur, teks, dan dimensi bercampur jadi satu. Begitu klien minta denah tanpa furnitur, Anda harus menghapus satu per satu. Dengan sistem layer yang benar, perubahan seperti itu cukup satu klik.
3. Denah, tampak, dan potongan yang tidak saling bicara. Jendela di denah lebarnya 120 cm, di tampak 100 cm. Tinggi lantai di potongan berbeda dengan tampak. Kesalahan seperti ini membuat kontraktor bingung dan bisa memicu biaya tambahan. Kita akan berlatih menurunkan gambar dari satu sumber agar semuanya konsisten.
4. Model SketchUp yang "lengket". Garis dan bidang saling menempel karena tidak dikelompokkan. Begitu satu dinding dipindah, lantai ikut tertarik dan atap ikut rusak. Disiplin group dan component sejak garis pertama akan menyelamatkan Anda dari jam-jam frustrasi.
5. Mengejar cantik sebelum benar. Material dan render dikerjakan lebih dulu, padahal ukuran dan proporsinya belum tepat. Akibatnya, setiap revisi kecil berarti mengulang render dari awal. Urutan yang benar adalah benar dulu, lalu rapi, baru cantik.

Kalau Anda membaca daftar ini dan merasa "itu saya banget", jangan khawatir. Kesalahan-kesalahan ini sangat wajar, dan semuanya bisa diperbaiki dengan kebiasaan yang tepat. Justru karena itulah kelas ini dibuat.

Untuk siapa kursus ini?
Kursus ini cocok untuk Anda yang:
* Mahasiswa arsitektur atau desain interior yang ingin tugas studionya lebih rapi, lebih cepat, dan lebih meyakinkan di depan dosen.
* Fresh graduate yang ingin portofolio dan keterampilannya siap dipakai di hari pertama kerja.
* Drafter atau staf teknik di kontraktor atau developer yang ingin naik kelas, dari sekadar menggambar menjadi memahami gambar.
* Pemilik usaha konstruksi, interior, atau properti yang ingin bisa membaca dan merevisi gambar sendiri.
* Siapa pun yang sedang beralih karier ke dunia desain dan bangunan, dan ingin mulai dengan fondasi yang benar.

Anda tidak perlu jago komputer. Yang Anda perlukan hanya laptop yang cukup kuat, kemauan untuk berlatih, dan kesediaan untuk bertanya.
Kelas kecil, perhatian penuh

Saya sengaja tidak membuat kelas besar. Dalam kelas yang ramai, peserta yang tertinggal sering diam karena malu, dan akhirnya pulang tanpa benar-benar paham. Di kelas kecil atau privat, saya bisa melihat layar Anda, memperbaiki kebiasaan yang keliru saat itu juga, dan menyesuaikan kecepatan dengan kemampuan Anda.

Setiap peserta akan pulang dengan file kerja sendiri yang bisa dijadikan template, catatan langkah kerja, dan, yang paling penting, rasa percaya diri saat membuka file kosong.
Yang berubah setelah kursus
Bayangkan kembali mahasiswa tadi, jam dua pagi. Sekarang skenarionya berbeda.

Ia membuka template yang sudah tersusun. Layer-nya rapi, dimensinya otomatis menyesuaikan skala. Model SketchUp-nya ringan dan setiap bagian bisa digeser tanpa merusak bagian lain. Ketika dosen bertanya tebal dinding, ia menjawab tanpa ragu, karena ia tahu persis dari mana angka itu berasal.

Ia tidur jam sebelas malam. Bukan karena tugasnya lebih sedikit, tetapi karena cara kerjanya sudah benar.
Itulah yang saya tawarkan. Bukan janji jadi ahli dalam seminggu, tetapi sistem kerja yang akan Anda pakai selama bertahun-tahun ke depan.

Kenapa belajar dengan RAW Arch Studio
* Diajar langsung oleh arsitek berlisensi. Ar. R. Agung Widiono, S.Ars, IAI, pemegang STRA, berpraktik sejak 2007.
* Berbasis proyek nyata. Materi diambil dari alur kerja kantor arsitek dan kontraktor, bukan dari buku manual software.
* Dua software, satu alur. AutoCAD dan SketchUp diajarkan saling terhubung, seperti cara keduanya dipakai di praktik.
* Kelas kecil atau privat. Perhatian personal, kecepatan disesuaikan.
* Bisa lanjut ke mentoring. Peserta yang ingin melangkah lebih jauh bisa melanjutkan ke program mentoring karier arsitektur.

Mulai dari file kosong yang tidak lagi menakutkan
Setiap arsitek pernah menatap layar kosong dan tidak tahu harus mulai dari mana. Bedanya, arsitek yang punya sistem tahu langkah pertamanya, lalu langkah kedua, lalu seterusnya, sampai gambarnya selesai dan siap dibangun.

Kalau Anda siap berhenti menebak-nebak dan mulai bekerja dengan cara yang dipakai para profesional, hubungi RAW Arch Studio melalui Instagram @raw_architects atau @studio_raw.arch, atau kunjungi therawarchitects.com untuk menjadwalkan kelas pertama Anda.
Garis pertama Anda yang benar dimulai dari sini.

Lihat lebih banyak

Tarif

Tarif

  • Rp200,000

Tarif paket

  • 5 jam: Rp1,000,000
  • 10 jam: Rp2,000,000

online

  • Rp 200,000/jam

Guru AutoCAD lain yang ada di Kecamatan Bekasi Utara