Lihatlah ke langit. Benda yang bersinar di sana – atau ‘terbakar dengan ganas’ yang mungkin lebih menggambarkannya – telah melakukan tugasnya selama empat setengah miliar tahun. Sepanjang perjalanan sejarah manusia, benda itu sudah ada di sana sepanjang waktu, membakar dan memberi kehidupan pada planet kita.

4.6 miliar tahun. Itu adalah angka yang bahkan sulit kita bayangkan. Namun, para ilmuwan memperkirakan bahwa Matahari kita sudah setengah jalan dari siklus hidupnya.

Dengan empat miliar tahun berikutnya, Matahari, seperti semua bintang, pada akhirnya ‘mati’ – berubah dari bintang deret utama menjadi supernova atau menjadi apa yang dikenal sebagai nebula planet. Kita tidak akan hidup untuk melihat ini terjadi – dan, kita di sini, maksudnya adalah planet Bumi.

Di sini, kita akan membahas tentang kehidupan bintang. Kita akan membahas gaya yang menyatukannya dan yang pada akhirnya memisahkannya. Dan kita akan membahas tentang hal-hal yang membantunya menjaga bentuk dan ukurannya selama waktu yang sangat lama terjadi di antaranya.

Kita akan membahas tentang hal-hal itu dengan hal-hal yang mungkin pernah Anda dengar sekilas: raksasa merah, bintang neutron, lubang hitam - serta katai putih dan supernova.

Semua hal ini membentuk fase dalam kehidupan sebuah bintang. Namun mari kita lihat lebih dekat.

Sementara itu, cari tahu semua tentang astronomi, dan perbedaan antara astronomi, astrofisika, dan kosmologi.

Tersedia guru-guru Fisika terbaik
Kursus pertama gratis!
Khamid
4,9
4,9 (23 ulasan)
Khamid
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Samhan
5
5 (30 ulasan)
Samhan
Rp30,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Anastasia
4,9
4,9 (13 ulasan)
Anastasia
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis!
M taufiq
5
5 (28 ulasan)
M taufiq
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Lern
4,8
4,8 (30 ulasan)
Lern
Rp69,900
/jam
Kursus pertama gratis!
Fajar
5
5 (19 ulasan)
Fajar
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Vinka
5
5 (9 ulasan)
Vinka
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Siti
5
5 (21 ulasan)
Siti
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Khamid
4,9
4,9 (23 ulasan)
Khamid
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Samhan
5
5 (30 ulasan)
Samhan
Rp30,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Anastasia
4,9
4,9 (13 ulasan)
Anastasia
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis!
M taufiq
5
5 (28 ulasan)
M taufiq
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Lern
4,8
4,8 (30 ulasan)
Lern
Rp69,900
/jam
Kursus pertama gratis!
Fajar
5
5 (19 ulasan)
Fajar
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Vinka
5
5 (9 ulasan)
Vinka
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Siti
5
5 (21 ulasan)
Siti
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis>

Bagaimana Bintang Terbentuk?

Sekarang kita semua cukup familier dengan Matahari – dari jarak jauh setidaknya. Dan, kecuali Anda tinggal di kota terbesar dan tidak pernah mendongak, kemungkinan besar Anda akan melihat beberapa bintang dalam hidup Anda juga.

Namun tahukah Anda apa itu bintang sebenarnya? Terlepas dari kenyataan bahwa itu 'berkelap-kelip' dan berada di 'langit'.

Pusat Tata Surya
Matahari adalah Bintang Induk dipusat tata surya.

Bintang adalah benda yang sangat besar di ruang angkasa, disatukan oleh gaya gravitasi, yang dibedakan dari planet karena luminositasnya – atau fakta bahwa Bintang memproduksi cahaya.

Itu adalah jawaban singkatnya. Sekarang menuju jawaban panjangnya.

Bintang adalah bola plasma dan gas yang memancarkan energi dalam bentuk panas dan cahaya. Pancaran ini karena fusi termonuklir hidrogen menjadi helium yang terjadi pada intinya.

Semua ini tidak akan terjadi jika bintang tidak terlalu besar. Namun, di bawah gaya gravitasi, dan di bawah segala macam gaya molekul lainnya, atom-atom hancur menjadi satu, dan elemen baru terbentuk. Semua ini melepaskan energi. Proses ini, yang kita sebut fusi nuklir, kebetulan adalah sesuatu yang kita harap dapat ditiru di Bumi – karena banyaknya energi yang dihasilkannya.

Tetapi tidak, bintang tidak benar-benar ‘terbakar’ atau ‘tersulut’ atau kata apa pun yang kita gunakan untuk menggambarkannya. Namun, proses yang terjadi artinya matahari jauh lebih panas dan lebih berenergi daripada api mana pun yang pernah kita lihat.

Pelajari lebih lanjut tentang tata surya kita!

Bagaimana Bintang Terbentuk?

Tetapi mengapa semua ini terjadi? Salah satu hal paling menakjubkan dari alam semesta kita yaitu bahwa tidak ada apa pun di dalamnya. Sebagaimana filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz pernah bertanya, bagaimana mungkin ada sesuatu ketimbang tidak ada apa-apa? Pertanyaan ini sedikit relevan jika memikirkan bahwa bintang menghasilkan kondisi yang sangat mendukung kehidupan.

Nebula

Bayangkan ruang yang kosong dan sangat dingin berisi debu dan gas yang merupakan puing-puing planet dan bintang tua. Pembentukan bintang dimulai ketika, pada suhu dingin yang intens ini, semua debu dan gas antarbintang ini perlahan mulai menggumpal. Gas mencapai kepadatan tinggi di suhu dingin, sedangkan atom-atom saling mengikat.

Ini adalah langkah pertama dalam siklus kehidupan bintang: nebula planet, awan-awan molekuler ini yang melayang melintasi alam semesta.

Segera setelah kepadatan tinggi tercapai, gaya gravitasinya semakin kuat, artinya semua gas dan partikel di nebula perlahan mulai berkumpul. Awan-awan molekuler yang sangat besar ini kemudian mulai runtuh dan, ketika awan-awan ini mulai bergerak satu sama lain, panasnya meningkat.

Dengan semua benda ini menggumpal, intinya menjadi apa yang kemudian disebut sebagai bintang – atau seringkali bahkan dua atau tiga tiga bintang dikenal sebagai gugus bintang. Sedangkan, bagian berbeda dari awan tersebut mungkin menjadi planet atau mungkin tetap menjadi debu – seperti di tata surya kita.

(Semua ini, ngomong-ngomong, membutuhkan waktu sekitar sepuluh juta tahun. Sebagai perbandingan, manusia telah muncul kira-kira baru dua ratus ribu tahun.)

Pelajari tentang beberapa penemuan besar astronomi.

Tersedia guru-guru Fisika terbaik
Kursus pertama gratis!
Khamid
4,9
4,9 (23 ulasan)
Khamid
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Samhan
5
5 (30 ulasan)
Samhan
Rp30,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Anastasia
4,9
4,9 (13 ulasan)
Anastasia
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis!
M taufiq
5
5 (28 ulasan)
M taufiq
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Lern
4,8
4,8 (30 ulasan)
Lern
Rp69,900
/jam
Kursus pertama gratis!
Fajar
5
5 (19 ulasan)
Fajar
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Vinka
5
5 (9 ulasan)
Vinka
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Siti
5
5 (21 ulasan)
Siti
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Khamid
4,9
4,9 (23 ulasan)
Khamid
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Samhan
5
5 (30 ulasan)
Samhan
Rp30,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Anastasia
4,9
4,9 (13 ulasan)
Anastasia
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis!
M taufiq
5
5 (28 ulasan)
M taufiq
Rp80,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Lern
4,8
4,8 (30 ulasan)
Lern
Rp69,900
/jam
Kursus pertama gratis!
Fajar
5
5 (19 ulasan)
Fajar
Rp60,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Vinka
5
5 (9 ulasan)
Vinka
Rp35,000
/jam
Kursus pertama gratis!
Siti
5
5 (21 ulasan)
Siti
Rp50,000
/jam
Kursus pertama gratis>

Apa Saja Tujuh Tahap dalam Siklus Kehidupan Bintang?

Sejauh ini kita telah melihat bagaimana bintang tercipta – dari awan debu dan gas besar yang berantakan di alam semesta. Namun apa yang dibuat nebula ini bahkan belum menjadi bintang. Namun, itu adalah protobintang, merupakan awal mula siklus kehidupan bintang.

Awan Antar Bintang "Nebula"
Nebula adalah awan antar bintang yang terdiri dari debu, gas dan plasma. salah satu keindahan yang menakjubkan yang ada di ruang angkasa.

Protobintang

Setelah fase awal sebagai nebula, awal evolusi bintang ada di protobintang. Ini adalah saat bintang pada dasarnya masih tumbuh – saat masih mengumpulkan debu dan material dari awan yang membentuknya.

Protobintang dimulai hanya dengan satu persen dari massa dirinya di masa depan. Namun, dengan semua massa yang ‘jatuh’ karena gravitasi inti, bintang terbentuk dengan relatif cepat.

Hanya ketika fusi termonuklir dimulai di inti, bintang berhenti menjadi protobintang dan menjadi bintang deret utama. Di titik ini massa bintang stabil – karena bintang menghasilkan ‘angin bintang’ yang mencegahnya kejatuhan massa lebih lanjut.

Fase T-Tauri

Ketika angin bintang berhembus, angin bintang tersebut mendorong molekul dan gas yang tersisa sehingga bintang yang baru terbentuk itu berputar dengan cepat. Rotasi penuhnya hanya membutuhkan sekitar 10-12 hari; dibandingkan dengan rotasi matahari, yang membutuhkan sebulan penuh untuk menyelesaikan satu putaran penuh.

Di tahap kehidupan bintang ini, bintang masih muda; hanya sekitar 10,000 tahun. Suhunya terlalu rendah; bintang tersebut tidak menghasilkan cukup panas untuk fusi hidrogen sehingga bergantung pada tarikan gravitasinya untuk berkontraksi ke dalam dirinya sendiri.

Setelah sekitar 100 juta tahun, sebuah bintang akan menyelesaikan fase T-Tauri, bergerak menuju fase ‘deret utama’.

Bintang Deret Utama

Bintang deret utama diidentifikasi dengan warna dan kecerahannya dan tempat bintang tersebut sesuai dengan Diagram Herzsprung-Russell. Kita akan membahas lebih lanjut tentang diagram ini di bagian selanjutnya.

Sebagian besar bintang di alam semesta adalah bintang deret utama; matahari kita juga satu.

Di titik ini dalam kehidupan bintang, bintang telah mencapai stabilitas: tekanan pada inti bintang karena runtuhan gravitasi lapisan luarnya diimbangi dengan tekanan termal internalnya. Tindakan penyeimbangan ini disebut kesetimbangan hidrostatik dan inilah yang membentuk bintang.

Tahap ini membentuk sekitar 90% kehidupan bintang, selama itu akan terus menerus memadukan hidrogen dan membentuk helium untuk memberi makan intinya.

Bintang deret utama juga disebut bintang katai karena ukurannya yang relatif kecil dan luminositas rendah.

Catatan: kata ‘katai’ digunakan untuk menunjuk bintang kecil; di samping bintang katai yang baru kita jelajahi, kita punya bintang katai putih dan merah, serta…

Apa Itu Katai Cokelat?

Jika protobintang tidak menjadi cukup besar – dan yang kami maksud sekitar delapan persen ukuran matahari – protobintang itu tidak benar-benar menjadi bintang. Malah, protobintang tersebut menjadi bintang katai cokelat, semacam bintang yang gagal karena fusi termonuklir tidak terjadi.

Temukan dan ikuti kelas dengan guru matematika fisika di sini.

siklus hidup bintang
Astrofisikawan menggambarkan kehidupan bintang dengan diagram ini.

Memahami Diagram Herzsprung-Russel

Sebelum melangkah lebih jauh di sepanjang jalur evolusi bintang, kita harus memahami bagaimana pertumbuhan, evolusi, dan kematian bintang disajikan – atau, lebih spesifiknya, bagaimana proses tersebut terlacak.

  • Ejnar Herzsprung adalah kimiawan/astronom Denmark yang bekerja di Observatorium Leiden.
  • Henry Norris Russell adalah astronom Amerika yang bekerja di Observatorium Cambridge dan kemudian mengambil posisi di Observatorium Princeton
    • Mr Russell juga dikenal karena kolaborasinya dengan fisikawan Kanada-Amerika Frederick Saunders yang menghasilkan Russell-Saunders Coupling, juga dikenal sebagai LS Coupling.

Survei spektroskopi fotografi bintang-bintang sedang berlangsung – dalam skala yang besar di Harvard College Observatory sejak abad ke-19. Penggambaran skala besar ini menunjukkan klasifikasi spektral untuk ribuan bintang, koleksi yang akhirnya dikenal sebagai Katalog Henry Draper.

Tidak lama bagi astronom untuk menyadari lebar garis spektrum yang ditampilkan katalog.

Herzsprung menyimpulkan bahwa spektrum dengan garis lebih sempir memiliki ‘pergerakan yang tepat’, yang ia artikan lebih terang daripada spektrum bergaris lebih lebar.

Independen dari karya ilmuwan Denmark, Mr Russell menggambar diagram magnitudo tampak bintang terhadap tiga emisi garis spektrum standar untuk menyingkap perkiraan suhu bintang.

Diagram kedua astronom digabungkan menjadi menjadi diagram gambaran luminositas versus suhu bintang.

Saat ini, Diagram Herzsprung-Russell terus membantu para astronom untuk menghitung usia bintang dan letaknya di siklus kehidupannya dengan menggambarkan hubungannya antara luminositas dan suhu.

Diagram ini dikenal dengan banyak nama: Diagram H-R, Diagram HR atau sederhananya HRD dan, sama seperti ada beberapa untuk diagram ini, ada beberapa bentuk secara kasar mengikuti tata letak tertentu.

Sumbu horizontal menampilkan 'jenis' spektral bintang dan nilai mengindikasikan kecerahan atau magnitudo visual pada sumbu vertikal.

Sehingga kami paham bahwa bintang yang sangat terang akan menemukan tempatnya di pojok kiri atas diagram saat lebih tua, bintang yang lebih redup akan ditemukan di sisi kanan bawah.

Sekarang kita punya pemahaman secara kasar tentang bagaimana evolusi bintang dilacak, mari kita lihat apa yang terjadi setelah bintang katai (bintang deret utama) berubah.

Fase Raksasa Merah

Ketika bintang menjadi raksasa merah, bintang tersebut memiliki radius yang besar dan suhu yang relatif rendah. Atmosfer luarnya meningkat secara substansial dan lemah, tidak dapat menahan perluasan inti. Bintang semacam itu biasanya sangat besar dan sangat terang.

Sebelum menelusuri kehidupan bintang lebih jauh, mari kita tinjau apa yang sudah kita pelajari sejauh ini:

  • Seperti pembahasan sebelumnya, bintang terbentuk di awan molekuler. Awan-awan ini utamanya terdiri dari hidrogen dan helium tetapi juga elemen-elemen lain dalam jumlah kecil.
  • Sains mendefinisikan elemen-elemen ini sebagai sesuatu selain hidrogen dan helium; dengan kata lain, sesuatu dengan jumlah atom yang lebih besar dari dua (2).
  • Elemen sedikit ini bercampur rata di seluruh bintang sebagian karena tarikan gravitasi bintang, dan sebagian karena rotasinya.
  • Ketika inti bintang mencapai suhu yang cukup panas untuk memulai fusi hidrogen, katanya telah mencapai fase deret utamanya.

Fase ini bertahan selama bintang terus mengubah hidrogennya menjadi helium. Ketika simpanan hidrogennya hampir habis, bintang tidak mampu membantu proses fusi yang akan menahan berat lapisan terluarnya, ia kehilangan keseimbangan hidrostatisnya.

Inti bintang mulai berkontraksi karena beratnya sendiri, dibantu oleh gravitasi.

Berkebalikan secara intuitif, bintang tidak menyusut selama proses ini, namun, bintang mengalami fase yang digambarkan sebagai ‘prinsip cermin’.

Ketika bintang runtuh, bintang menciptakan ruang untuk tempat hidrogen masuk. Namun, intinya sangat padat pada titik ini sehingga proses fusi dimulai di cangkang yang mengelilingi inti. Ketika proses ini berjalan, lapisan luarnya tumbuh dalam diameter ketika intinya sekarang di bawah tekanan eksternal yang luar biasa, semakin menyusut.

Proses pendinginan dan perluasan simultan inilah yang membuat bintang pada tahap ini dalam hidupnya sangat terang; ini terjadi ketika bintang-bintang itu menjadi bintang sub-raksasa.

Ketika proses fusi berlanjut di dalam cangkang, mendorong tepi luar bintang keluar, bagian luar itu menjadi semakin dingin, menyiapkan proses konvektif – secara efektif mengubah panas fusi ke dalam. Bintang berhenti meluas dan menjadi lebih terang.

Tempat raksasa merah ini cocok di HRD – dan apa yang terjadi di tahap selanjutnya dari evolusi mereka tergantung massa mereka.

Jika tidak terlalu besar – katakanlah sekitar dua kali massa matahari, elektron di intinya akan mengalami banyak degenerasi sehingga keruntuhan lebih lanjut dapat dicegah. Intinya akan terus memanas, hingga cukup panas untuk melakukan fusi helium, proses yang dikenal sebagai helium-flash (kilatan helium).

Bintang dengan inti yang lebih besar akan melakukan degenerasi yang lebih lambat namun akan mencapai suhu yang cukup tinggi untu melakukan fusi helium sebelum degenerasi selesai. Bintang yang besar itu tidak mengalami helium-flash; pembakarannya lebih mulus.

Catatan: Anda dapat menemukan guru Fisika online di Superprof.

Galaksi Bimasakti
Populasi katai merah yang sangat besar diduda di galaksi bimasakti.

Apakah Setiap Bintang Menjadi Raksasa Merah?

Bintang dengan massa inti yang lebih kecil sangat konvektif, artinya bintang-bintang tersebut akan terbakar selama kemungkinan triliunan tahun.

Suhu dan luminositas bintang-bintang itu meningkat seperti bintang yang lebih besar namun karena bintang-bintang itu terbakar lama, suhunya hanya meningkat sekitar 50% dan cahaya yang dipancarkan hanya meningkat dengan faktor sepuluh.

Bintang-bintang semacam itu bisa semakin panas daripada matahari namun masih mencapai tingkat kecerahan itu, meskipun bintang-bintang itu lebih terang di tahap itu daripada ketika terbentuk.

Selama miliaran tahun, cahaya bintang-bintang tersebut akan meredup dan menjadi lebih dingin, akhirnya mendapat klasifikasi sebagai ‘katai putih’.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Tergantung ukuran dan massa bintang.

Seperti yang baru kita sebutkan, sifat dan proses siklus hidup bintang tergantung pada massa bintang tersebut. Sehingga kami akan membagi ini di sini menjadi dua aliran terpisah.

Ada bintang-bintang yang memiliki massa kasaran sebesar Matahari – matahari yang cukup ‘normal’ – berukuran sebesar bintang. Lalu ada bintang-bintang yang jauh lebih besar. Semakin besar bintang, semakin cepat bintang terbakar. Jadi bintang seukuran matahari tetap menjadi bintang deret utama selama sekitar sepuluh miliar tahun, bintang besar tidak akan hidup lama.

Seperti yang disebutkan di atas, sekitar Sembilan puluh persen kehidupan bintang adalah sebagai bintang deret utama – yang akan terus melakukan fusi hidrogen menjadi helium. Ketika hidrogen di intinya habis, inti akan mulai runtuh dan akan menjadi semakin panas.

Ketika suhu inti meningkat, inti mendorong sisa bintang keluar, menyebabkan tepi luarnya menjadi dingin.

Bintang Seukuran Matahari – Secara Kasar

Bintang yang berukuran paling umum adalah bintang sebesar Matahari. Setelah sekitar sepuluh miliar tahun, ketika kehabisan hidrogen, bintang-bintang itu perlahan menjadi katai putih.

Katai Putih

Katai putih adalah benda kecil yang dingin, yang telah membingungkan para ilmuwan meskipun sudah umum. Bayangkan massa matahari semuanya dalam ruang bumi dan Anda berada di katai putih. Dan anehnya, katai putih akan semakin padat jika semakin kecil – artinya bintang yang lebih besar akan membentuk katai putih yang paling kecil.

Katai putih adalah benda yang sangat padat yang menjaga dirinya agar tidak runtuh lebih lanjut karena aktivitas elektron. Namun, tanpa menghasilkan energi, tidak ada yang benar-benar menyatukanya. Sehingga, katai putih mendingin secara bertahap dan cenderung memudar.

Katai Merah

Bintang-bintang ini adalah yang terkecil dan terdingin dari semuanya. Katai merah juga merupakan bintang yang sangat umum di galaksi kita. Katai merah sangat sulit dilihat karena tidak terlalu terang namun satu contoh, khususnya, Proxima Centauri, tergantung sangat dekat dengan matahari.

Jadi, ada sekitar 50 katai lain semacam itu.

Anda tidak bisa melihat katai-katai ini dengan mata telanjang namun beberapa astronom menduga bahwa sepenuhnya tiga perempat dari Bima Sakti terdiri dari katai merah.

Bintang katai merah dan cokelat – terutama katai cokelat besar dengan sifat logam rendah memiliki beberapa karakteristik seperti rentang suhu dan jenis spectral. Gabungan klasifikasi ini bukan kebetulan; istilah katai merah adalah sebutan untuk semua bintang yang tidak memiliki klasifikasi yang jelas dan pasti.

Dalam penggunaan awalnya, label ‘katai merah’ digunakan untuk membedakan antara ‘katai biru’ cerah yang panas dan bintang-bintang yang jauh lebih dingin dan kurang bercahaya. Mendefinisikan bintang dengan cara itu adalah cara yang tidak jelas untuk mempelajari bidang disiplin semacam ini, namun ketika berkaitan dengan katai merah, ketidakjelasan itu berlanjut hingga saat ini.

Bintang Besar

Bintang besar memiliki akhir yang berbeda untuk dirinya.

Jika sebuah bintang berukuran sekitar delapan kali lebih besar daripada matahari, Anda bisa berharap itu akan berakhir dengan ledakan besar yang dikenal dengan supernova.

Ingat bahwa semakin besar bintang, semakin cepat bintang terbakar melalui hidrogen. Dan ketika kehabisan hidrogen, bintang tersebut menghasilkan besi sebagai hasil dari rangkaian panjang reaksi kimiawi. Ketika itu terjadi, inti bintang runtuh dalam sekejap dari lima ribu mil menjadi hanya dua belas mil.

Suhu mencapai seratus miliar derajat dan supernova menjadi lebih terang daripada seluruh galaksi.

Lubang Hitam Pertama
Foto Pertama Lubang Hitam Yang Pernah Di Ambil

Apa Itu Lubang Hitam?

Bintang yang sangat padat menghasilkan salah satu fenomena yang paling menakjubkan di alam semesta ketika mati. Bintang tersebut menjadi lubang hitam.

Ketimbang meledak keluar, bintang-bintang ini meledak di dalam, runtuh satu sama lain hingga membentuk sebuah benda yang sangat padat yang tidak ada satu pun – bahkan cahaya – bisa lepas darinya.

‘Lubang’ ini menarik segala sesuatu yang ada di sekelilingnya ke dalam dirinya sambil memancarkan sejumlah besar radiasi. Batas yang menandai lubang hitam disebut cakrawala peristiwa.

Astrofisikawan terhebat di masa kita, Sir Stephan Hawking, tidak kebal terhadap tarikan lubang hitam. Sejauh tahun 1974, ia menegaskan bahwa efek kuantum di dekat cakrawala lubang hitam pasti memancarkan radiasi – yang kita identifikasikan saat ini sebagai Radiasi Hawking.

Meskipun astrofisikawan modern memperkirakan – memang, beberapa orang mendedikasikan seluruh karir mereka untuk mempelajari fenomena ini, hipotesisnya tidak baru. Sejauh abad ke-18, pemikiran yang tajam bergulat dengan kemungkinan objek yang medan gravitasinya terlalu kuat untuk memungkinkan cahaya lolos.

Dalil tersebut mendapatkan beragam perhatian dari saat itu hingga tahun 1967, ketika astrofisikawan Jocelyn Bell Burnell menemukan bintang neutron – inti bintang super raksasa yang runtuh. Tiba-tiba, benda padat yang sangat padat runtuh secara gravitasi, berpindah dari ranah kemungkinan ke kenyataan yang mungkin terjadi.

Temukan hal semacam ini yang mengarah pada peryanyaan yang lebih mendalam seperti: adalah kehidupan di alam semesta?

Butuh guru Fisika ?

Apakah Anda menyukai artikel nya?

5,00/5 - 1 suara
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang