Bimbingan Akademik Musik Seni dan hobi Bahasa Olahraga dan kesehatan
Bagikan

Mitos Matematika: Apakah laki-laki lebih unggul daripada perempuan?

Oleh , dipublikasikan pada 12/04/2019 Blog > Bimbingan Akademik > Matematika > Adakah Pengaruh Gender Terhadap Perbedaan Penyerapan Materi Pelajaran

Apakah kinerja anak laki-laki lebih baik dari perempuan dalam pelajaran matematika?

Mengapa hanya ada beberapa perempuan saja yang memilihi pelajaran dasar sains?

Meskipun telah memasuki abad 21, pertanyaan mengenai apakah ada perbedaan kemampuan dari setiap gender masih kerap dipertanyakan.

Berdasarkan klise tersebut, perempuan kurang dalam kemampuan praktis dan kemampuan untuk berpikir logis – mutu yang dibandingkan dengan para murid laki-laki.

Meskipun, sebuah studi dari University of Provence Aix-Marseille menunjukkan bahwa murid perempuan hanya segelintir yang melakukan dengan baik dalam pelajaran sains sehingga guru dan orang tua tidak mengharapkan mereka untuk mampu meraih tingkatan pemahaman yang sama seperti rekan laki-lakinya, dan mereka tidak mendapatkan pengarahan yang sesuai.

Bisakah siapapun menjadi seorang ahli matematika? mari lihat lebih dekat potensi yang berbeda dalam mempelajari matematika dan cara untuk mengatasinya.

Apakah salah satu gender harus lebih baik dalam matematika?

Di Perancis

Di Perancis, diperkirakan dalam sebuah kelas berisikan anak-anak berumur 14-15 tahun, mendekati 82% perempuan memiliki nilai tinggi dalam Bahasa Perancis, jika dibandingkan dengan laki-laki hanya 68%.

Namun, kemampuan matematika anak laki-laki sedikit di atas kemampuan anak perempuan dengan 87% laki-laki menunjukkan dasar matematika yang bagus dibandingkan dengan 86.8% murid perempuan.

Jadi, anak laki-laki unggul dengan beda tipis, tidak ada yang perlu di banggakan, walaupun jika mereka lebih suka belajar dengan seorang tutor matematika untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah matematika meliputi perkalian dan pembagian panjang, penambahan dan pengurangan, penempatan nilai, soal cerita matematika, penalaran, grafik, latihan pengertian angka, kalkulus, mengubah pecahan menjadi desimal, probabilitas, aritmatik, teori pitagoras, trigonometri, pertidaksamaan, faktorisasi persamaan aljabar, lancar dalam perkalian dan permainan mendidik untuk anak-anak atau puzzle seperti Sudoku.

Di Amerika

Sebuah studi diterbitkan dalam ulasan sains menunjukkan jika selain apa yang dipercaya masyarakat, kemampuan seorang pelajar untuk memahami matematika tidak berhubungan dengan gender mereka.

Tidak peduli laki-laki atau perempuan, di dalam kelas akan diberikan pembelajaran yang sama Apakah perempuan dan laki-aki memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan. Sumber : Pixabay

Namun, gagasan yang mengatakan jika matematika dan pelajaran sains khusus untuk murid laki-laki dan sastra untuk perempuan masih dipegang oleh beberapa orang tua dan juga guru.

Namun, kepercayaan ini tidak berdasarkan fakta ilmiah dan hanya stereotipe lama yang tidak membenarkan bahwa kurang mewakili murid matematika perempuan, insinyur, atau ilmuwan.

Studi ini telah mensurvei 7 juta orang dalam 10 negara bagian dalam standar ujian tahunan yang diadakan diseluruh AS.

Jadi, sudah jelas hasilnya: ketika saatnya matematika untuk anak-anak, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, berapapun usianya, tahun sekolah, dan asal etnis.

Perlukah kita mencoba mengurangi angka anak laki-laki dalam mempelajari matematika untuk memberikan anak perempuan sebuah kesempatan?

Budaya dari pelajaran matematika

Apakah matematika memiliki gender?

Sekali melihat, akan kelihatan bahwa pembagian gender dalam kelas matematika menurun ke pilihan murid-murid , dengan anak laki-laki cenderung untuk memilih praktis dan pelajaran ilmiah dan anak perempuan akan memilih sastra, sejarah dan seni.

Yang perlu kita lakukan adalah melihat langsung ke tempat kerja:

  • Industri semacam keperawatan, peduli sosial dan mengajar telah didominasi oleh wanita
  • Ada perbandingan tinggi antara pria dan wanita di sekolah insinyur dan lapangan kerja ilmiah

Apakah otak matematis milik laki-laki atau perempuan?

Selain perbedaan berikut ini, perlu diketahui bahwa perempuanlah yang memiliki nilai tertinggi dalam pendidikan secara keseluruhan.

Dari awal perjalanan akademik mereka, baik laki-laki maupun perempuan mempertahankan hubungan yang berbeda dengan matematika. Dalam 2 tahun, walaupun mereka telah menguasai dasar seperti berhitung, membedakan angka genap dan ganjil, penjumlahan, perbandingan, pembulatan, simetris, menjelaskan waktu dan menyortir angka puluhan dan satuan, perempuan memilih untuk lebih memfokuskan diri pada pelajaran lain seperti Bahasa Inggris, sedangkan laki-laki sebagian besar memilih matematika dan melakukan proses yang lebih cepat.

Anak yang mendapat guru les yang terpercaya dapat lebih unggul daripada anak lain Siapa yang unggul dalam matematika?. Sumber : Pexels

Menurut Kementerian Pendidikan di Perancis, hanya 28% perempuan mengikuti pendidikan sains, jika dibandingkan dengan laki-laki sebanyak 41%, sedangkan 17% perempuan mengambil pendidikan literasi dengan laki-laki hanya 5% yang mengambil pendidikan serupa.

Bagaimana bisa menjelaskan fenomena ini? Mengapa perempuan kurang berminat untuk memilih matematika?

Kenangan masakecil

Dua peneliti, Isabelle Régner dan Pascal Huguet, telah mempelajari ketidaksetaraan gender dalam matematika dengan melihat reputasi wanita di profesi matematis dan ilmiah dan bagaimana hal ini mempengaruhi cara belajar anak dan nilai mereka.

Di Amerika Serikat, Claude Steele , seorang psikologis terkenal dan professor di Stanford University, mempelajari alasan wanita memiliki nilai lebih rendah dalam matematika saat tes masuk kuliah jika dibandingkan dengan laki-laki sebayanya.

Dia menjalankan studinya dengan menciptakan situasi tersebut dalam sebuah laboratorium, walaupun, saat ini, dia memberikan ujian dengan cara yang netral. Memastikan cukup, hasil tes tersebut menyatakan ketika tekanan dalam matematika di hilangkan, baik laki-laki maupun perempuan akan menghasilkan nilai yang sama.

Hasil dari studi ini menunjukkan kurangnya representasi wanita dalam matematika merendah karena kurang percaya diri untuk mempelajari pendidikan sains.

Pengalaman baru

Régner dan Huguet terinspirasi dengan hasil dari investigasi ini dan memilih menguji penemuan mereka dengan pendekatan praktis.

Mereka bertanya pada 100 anak-anak dengan usia 11-13 tahun berkelompok untuk menggambar sebuah wajah. Setengah dari grup tersebut diminta menggambar secara geometris, dan sisanya diminta menggambar dengan seni.

Hasil dari uji tersebut:

  • Anak perempuan dari kelompok geometris memiliki nilai rendah daripada anak laki-laki
  • Anak laki-laki dari kelompok seni memiliki nilai rendah daripada anak perempuan

Kedua peneliti tersebut menyimpulkan bahwa meskipun gagasan dari kemampuan matematika cukup untuk menghilangkan keseimbangan antar perempuan.

Jelas, mereka mengalami ketakutan bawah sadar untuk menghadapi stereotip masyarakat.

Jadi, mempertanyakan prestasi dalam matematika tidak diturunkan pada gender, walaupun, anak-anak sering mengalami kesusahan dengan pelajaran tersebut jika mereka memiliki kebutuhan khusus seperti disleksia.

Pengaruh dari Budaya dan Keluarga

Sebagian besar pengetahuan kita dapatkan saat di masa kecil kita. Cara belajar pun dapat dibedakan berdasarkan gender walaupun berada di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK), sebagaimana anak-anak mulai untuk mengerti pentingnya prestasi di kurikulum matematika sekolah di masa mendatang.

adakah pengaruh gender terhadap kemampuan penyerapan pelajaran matematika bagi anak apakah kemampuan untuk belajar matematika dipengaruhi oleh gender. Sumber : Pixabay

Pada awalnya, anak laki-laki ditarik untuk mempelajari matematika termasuk membentuk dan mengelompokkan kegiatan berhitung yang mengembangkan kesadaran spasial, sedangkan anak perempuan diketahui condong memilih bermain didalam ruangan dimana mereka bisa menciptakan suasana sosial tradisional (bermain rumah-rumahan atau pasaran), yang melatih kemampuan berkomunikasi mereka.

Bermain adalah cara bagi anak-anak untuk mengerti dunia sekitar mereka. Para guru dan orang tua dapat mengambil keuntungan dari ini dan mendorong anak-anak untuk bermain permainan matematika untuk membantu mereka memahami tabel perkalian, garis bilangan, pola angka dan memperkuat hal yang telah mereka pelajari sebelumnya di kelas.

Meskipun pembedaan yang jelas ini bisa tutup seiring waktu, dapat menjelaskan perbedaan yang muncul nanti, contohnya ketika memilih pelajaran tingkat lanjut.

Bisakah Hal-Hal tersebut berubah dalam pelajaran matematika?

Jika banyak hal bisa berubah, haruskah tetap berubah?

Kebanyakan orang akan berkata, “tentu saja!”

Bagaimanapun, perempuan harusnya tidak merasa tertekan melakukan pekerjaan yang tidak mereka suka untuk menyesuaikan stereotip.

Jadi, bagaimana Anda akan mengubahnya? dari usia sedini mungkin, anak perempuan dan anak laki-laki harus diberitahu jika faktor dari pilihan personal mereka adalah hasil dari pendidikan matematika dan latar belakangnya, tapi, sejauh pendidikan dan bimbingan kejuruan dikhawatirkan, ini terserah mereka untuk memutuskan jalan yang akan mereka tempuh.

Seorang anak perempuan bisa menjadi dokter, pengacara, peneliti, astronot sama seperti anak laki-laki yang memilih sastra maupun mengajar.

Jika kalian ingin mengubah hal lebih dalam, perubahan terjadi seiring generasi dalam keluarga.

Saat anak-anak melihat orang tua mereka membagikan pekerjaan rumah secara adil, mendengar orang tua saling memuji dan menawarkan bantuan untuk pekerjaan rumah, ini akan menjadi normal dan hampir menjelaskan jika tidak ada “pekerjaan pria” dan “pekerjaan perempuan” dan yang terpenting adalah menyelesaikan pekerjaannya.

Gender tidak berpengaruh terhadap kemampuan belajar, tapi minat para perempuan dalam sains sangat sedikit hanya ada sedikit perempuan yang bergabung dalam sains. Sumber : Pexels

Cara berpikir seperti ini berlaku di semua aspek kehidupan, termasuk matematika di sekolah. Jika anak perempuan mempelajarinya dari saat umur mereka masih sangat muda bahwa mereka mampu melakukan apapun seperti yang dapat dilakukan oleh anak laki-laki, mereka tidak akan terbatasi oleh rasa takut karena tidak menyesuaikan dengan stereotip ideal.

Agar bisa unggul dalam matematika, baik murid laki-laki maupun murid perempuan membutuhkan guru matematika yang berdedikasi atau tutor matematika untuk belajar memotivasi diri mereka, berkonsentrasi dan menghargai peran matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai aturan umum, anak perempuan secara keseluruhan lebih baik karena mereka lebih mudah untuk berkonsentrasi pada pelajaran dan masuk pada pembelajaran mereka.

Hal yang sama terkadang bisa diterapkan pada matematika, dimana anak perempuan mendapatkan individu yang lebih tinggi daripada anak laki-laki sedangkan kinerja anak laki-laki akan terlihat lebih baik saat berada dalam kelompok.

Mungkin anak laki-laki lebih baik dalam konsep matematika seperti geometri dan nilai yang lebih tinggi di permainan logika karena kesadaran spasial mereka yang meningkat, bagaimanapun, pragmatic anak perempuan terbukti bermanfaat dalam pelajaran seperti aljabar.

Satu hal yang pasti: anak-anak lebih memilih belajar di rumah dengan dukungan orang tua mereka atau dengan tutor privat. Menghapus praktik matematika dari tekanan ruangan kelas dengan secara teratur memainkan game matematika online atau aplikasi matematika gratis dapat menunjukkan pada anak sisi menyenangkan dari matematika.

Ada banyak sumber gratis matematika online seperti lembaran cetak matematika dan permainan gratis bagi anak-anak untuk melatih berhitung dan melakukan kuis.

Matematika menunjukkan bahwa apapun bisa diraih. Jadi, apapun gendernya, selama Anda mencoba sebaik mungkin pada pelajaran ini dan bekerja keras, pintu menuju matematika dan profesi ilmiah akan terbuka lebar untuk Anda.

Bagikan

Para pembaca kami menyukai artikel ini
Apa artikel ini berguna untuk mu?

Tidak ada informasi yang bergunaOke, namun masih harus ditingkatkanArtikel ini cukup bermanfaatTerima kasih! Artikel ini sangat bermanfaatPuas sekali dengan artikel ini (Berikan penilaian anda)
Loading...
avatar