Dalam bisnis, penjualan tinggi belum tentu berarti keuntungan besar. Setiap usaha perlu mengetahui kapan pendapatan mampu menutup seluruh biaya operasionalnya. Break Even Point (BEP) membantu menentukan batas minimum penjualan agar bisnis tidak mengalami kerugian.

Break Even Point (BEP) adalah titik ketika total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga bisnis tidak memperoleh laba maupun mengalami kerugian. Untuk menghitung BEP kamu dapat menggunakan rumus berikut:

Jenis PerhitunganRumus BEP
Rumus BEP unitBEP Unit = Biaya Tetap ÷ (Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit)
Rumus BEP rupiah/penjualanBEP Rupiah = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi
Rasio margin kontribusi(Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit) ÷ Harga Jual per Unit

Jika penjualan masih berada di bawah angka BEP, bisnis masih mengalami kerugian. Sebaliknya, jika penjualan sudah melewati titik BEP, pendapatan tambahan mulai berpotensi menjadi keuntungan selama struktur biaya dan harga jual tetap sama.

Tersedia guru-guru Akuntansi terbaik
Shinta
5
5 (102 ulasan)
Shinta
Rp179,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Andriadi fauzi
4.9
4.9 (72 ulasan)
Andriadi fauzi
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Arpa
5
5 (26 ulasan)
Arpa
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Amanda
5
5 (99 ulasan)
Amanda
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Elshabyta auditya
5
5 (118 ulasan)
Elshabyta auditya
Rp175,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dani syahputra,ca
5
5 (31 ulasan)
Dani syahputra,ca
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Gema
5
5 (35 ulasan)
Gema
Rp65,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ghina
5
5 (61 ulasan)
Ghina
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Shinta
5
5 (102 ulasan)
Shinta
Rp179,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Andriadi fauzi
4.9
4.9 (72 ulasan)
Andriadi fauzi
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Arpa
5
5 (26 ulasan)
Arpa
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Amanda
5
5 (99 ulasan)
Amanda
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Elshabyta auditya
5
5 (118 ulasan)
Elshabyta auditya
Rp175,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dani syahputra,ca
5
5 (31 ulasan)
Dani syahputra,ca
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Gema
5
5 (35 ulasan)
Gema
Rp65,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ghina
5
5 (61 ulasan)
Ghina
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Mulai

Break Even Point Adalah Titik Impas dalam Bisnis

Apa Itu BEP?

Banyak orang mengenal BEP sebagai istilah “balik modal”. Dalam dunia bisnis dan akuntansi, break even point adalah kondisi ketika pendapatan yang diperoleh perusahaan sama dengan total biaya yang dikeluarkan.

Pada titik ini:

  • Total pendapatan = total biaya.
  • Laba = Rp0.
  • Kerugian = Rp0.

Misalnya, sebuah usaha minuman mengeluarkan biaya operasional Rp6 juta per bulan. Jika seluruh pendapatan dari penjualan minuman tepat mencapai Rp6 juta, maka usaha tersebut berada pada posisi BEP.

Namun, BEP bukan berarti bisnis sudah menghasilkan keuntungan.

Fungsi BEP adalah hanya untuk menunjukkan bahwa bisnis sudah berhasil menutup seluruh biaya. Keuntungan baru mulai diperoleh setelah penjualan melewati titik tersebut.

Karena itu, BEP dapat dianggap sebagai batas awal perjalanan menuju profitabilitas.

Mengapa BEP Penting bagi Usaha?

Memahami Break Even Point (BEP) membantu pemilik usaha membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan kondisi keuangan bisnis. BEP tidak hanya menunjukkan kapan bisnis mencapai titik impas, tetapi juga menjadi alat untuk merencanakan strategi dan mengelola risiko.

Beberapa Manfaat BEP untuk Usaha
Menentukan target penjualan minimum

BEP membantu mengetahui jumlah produk atau nilai penjualan yang harus dicapai agar seluruh biaya bisnis dapat tertutup. Dengan informasi ini, pemilik usaha dapat menetapkan target penjualan yang realistis.

Menilai kelayakan harga jual

Melalui analisis BEP, bisnis dapat melihat apakah harga jual yang ditetapkan sudah mampu menutup biaya dan memberikan margin keuntungan yang sesuai. Harga yang terlalu rendah dapat membuat bisnis membutuhkan volume penjualan lebih besar untuk mencapai titik impas.

Mengontrol biaya tetap dan biaya variabel

Perhitungan BEP membantu bisnis memahami pengaruh biaya terhadap keuntungan. Jika biaya tetap atau biaya variabel terlalu tinggi, pemilik usaha dapat mencari strategi efisiensi agar titik impas dapat dicapai lebih cepat.

Membantu menyusun anggaran serta proyeksi keuntungan

Dengan mengetahui BEP, bisnis dapat membuat perencanaan keuangan yang lebih akurat, termasuk memperkirakan jumlah penjualan yang dibutuhkan untuk mencapai target laba tertentu.

Mengurangi risiko pengambilan keputusan tanpa data

BEP memberikan gambaran kondisi keuangan sebelum bisnis mengambil keputusan penting, seperti menambah produksi, membuka cabang, atau melakukan investasi baru.

Membandingkan berbagai skenario bisnis

Analisis BEP dapat digunakan untuk melihat dampak perubahan kondisi usaha, seperti kenaikan harga bahan baku, pemberian diskon, perubahan harga jual, atau peningkatan biaya operasional terhadap keuntungan bisnis.

Komponen yang Harus Disiapkan Sebelum Menghitung BEP

Sebelum menggunakan rumus BEP, kamu harus memahami angka-angka yang digunakan dalam perhitungan. Ada empat komponen utama yang perlu disiapkan, yaitu biaya tetap, biaya variabel, harga jual per unit, dan margin kontribusi.

Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya relatif tidak berubah meskipun jumlah produksi atau penjualan mengalami perubahan dalam periode tertentu.

Artinya, biaya ini tetap harus dibayar meskipun bisnis sedang tidak menghasilkan produk.

Contoh biaya tetap antara lain:

  • Sewa tempat usaha
  • Gaji karyawan tetap
  • Asuransi
  • Penyusutan peralatan
  • Lisensi atau langganan perangkat lunak
  • Biaya administrasi tetap

Misalnya, sebuah kedai kopi tetap harus membayar sewa tempat Rp3 juta per bulan meskipun jumlah pelanggan sedang sedikit.

Biaya tersebut tetap masuk dalam perhitungan BEP karena harus ditutup oleh pendapatan bisnis.

Biaya Variabel (Variable Cost)

Berbeda dengan biaya tetap, biaya variabel adalah biaya yang berubah mengikuti jumlah produksi atau penjualan.

Semakin banyak produk yang dibuat atau dijual, semakin besar biaya variabel yang muncul.

Contohnya:

  • Bahan baku
  • Kemasan
  • Komisi penjualan
  • Ongkos kirim per pesanan jika ditanggung penjual
  • Upah tenaga kerja borongan
  • Biaya produksi per unit

Pada usaha minuman, misalnya, dalam sejarah setiap gelas membutuhkan kopi, gula, susu, dan kemasan. Biaya tersebut akan meningkat ketika jumlah minuman yang diproduksi bertambah.

warning
Ingat Ini!

Jangan memasukkan biaya tetap ke dalam biaya variabel atau sebaliknya, karena hasil BEP akan menyesatkan.

Harga Jual per Unit

Harga jual per unit adalah harga yang diterima bisnis dari setiap produk yang terjual.

Dalam menghitung BEP, gunakan harga jual yang realistis.

Jika bisnis sering memberikan diskon, potongan marketplace, atau biaya transaksi tertentu, sebaiknya gunakan harga jual bersih setelah pengurangan tersebut.

Menggunakan harga jual yang terlalu tinggi dapat membuat hasil BEP terlihat lebih rendah dibandingkan kondisi sebenarnya.

Margin Kontribusi

Margin kontribusi adalah jumlah uang yang tersisa dari setiap penjualan setelah dikurangi biaya variabel.

Nilai ini digunakan untuk menutup biaya tetap terlebih dahulu. Setelah biaya tetap tertutup, margin kontribusi berikutnya akan menjadi keuntungan.

Rumus margin kontribusi:

Margin Kontribusi per Unit = Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit

Contoh:

Harga jual sebuah produk = Rp20.000
Biaya variabel = Rp8.000

Maka:

Rp20.000 − Rp8.000 = Rp12.000

Artinya, setiap produk memberikan kontribusi Rp12.000 untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.

Rumus BEP Unit dan Cara Menghitungnya

Salah satu cara paling umum untuk menghitung titik impas adalah menggunakan rumus BEP unit.

BEP unit digunakan ketika kamu ingin mengetahui berapa jumlah produk minimal yang harus dijual agar bisnis tidak mengalami kerugian.

Rumus BEP Unit

Rumusnya adalah:

BEP Unit = Biaya Tetap ÷ (Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit)

Setiap bagian dalam rumus memiliki arti:

  • Biaya tetap: seluruh pengeluaran tetap per periode.
  • Harga jual per unit: harga satu produk/jasa.
  • Biaya variabel per unit: biaya yang muncul untuk menghasilkan atau menjual satu unit.
  • Selisih harga jual dan biaya variabel: margin kontribusi per unit.

Contoh Perhitungan Rumus BEP Unit

Misalnya kamu memiliki usaha minuman dengan data berikut:

  • Biaya tetap per bulan: Rp6.000.000
  • Harga jual per gelas: Rp20.000
  • Biaya variabel per gelas: Rp8.000

Langkah pertama adalah menghitung margin kontribusi.

Margin Kontribusi = Harga Jual − Biaya Variabel

Rp20.000 − Rp8.000 = Rp12.000

Selanjutnya gunakan rumus BEP unit:

BEP Unit = Rp6.000.000 ÷ Rp12.000

Hasilnya adalah
500

Gelas per bulan

Artinya, usaha minuman tersebut harus menjual minimal 500 gelas per bulan agar mencapai titik impas.

Jika penjualan masih 400 gelas, bisnis belum mampu menutup seluruh biaya.

Namun, ketika berhasil menjual lebih dari 500 gelas, penjualan tambahan mulai memberikan kontribusi terhadap keuntungan.

Cara Membulatkan Hasil BEP Unit

Dalam praktiknya, hasil perhitungan BEP unit bisa menghasilkan angka desimal.

Misalnya:

BEP = 500,4 unit

Karena bisnis tidak mungkin menjual setengah produk, angka tersebut harus dibulatkan ke atas menjadi:

501 unit

Pembulatan ke atas diperlukan agar target penjualan benar-benar mampu menutup seluruh biaya.

Rumus BEP Rupiah dan Cara Menghitung Target Penjualan

Selain menghitung jumlah produk yang harus terjual, kamu juga dapat menghitung BEP berdasarkan nilai penjualan atau omzet. Perhitungan ini disebut sebagai BEP rupiah.

BEP rupiah biasanya lebih mudah digunakan oleh bisnis yang memiliki banyak produk dengan harga berbeda-beda. Dengan mengetahui nilai omzet minimum, pemilik usaha dapat lebih mudah memantau apakah target penjualan sudah mencapai titik impas atau belum.

Rumus BEP Rupiah

Rumus BEP rupiah adalah:

BEP Rupiah = Biaya Tetap ÷ Rasio Margin Kontribusi

Sebelum menghitung BEP rupiah, kamu perlu mengetahui rasio margin kontribusi.

Rumusnya:

Rasio Margin Kontribusi = (Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit) ÷ Harga Jual per Unit

Rasio ini menunjukkan berapa persen dari setiap penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan keuntungan.

Contoh Cara Hitung BEP Rupiah

Gunakan contoh usaha minuman sebelumnya:

  • Biaya tetap per bulan: Rp6.000.000
  • Harga jual per gelas: Rp20.000
  • Biaya variabel per gelas: Rp8.000

Pertama, hitung margin kontribusi:

Rp20.000 − Rp8.000 = Rp12.000

Kemudian hitung rasio margin kontribusi:

Rp12.000 ÷ Rp20.000 = 0,6 atau 60%

Setelah itu, gunakan rumus BEP rupiah:

BEP Rupiah = Rp6.000.000 ÷ 0,6

Hasilnya:

Rp10.000.000

Artinya, usaha minuman tersebut harus mencapai penjualan minimal Rp10.000.000 per bulan agar berada pada kondisi impas.

Jika omzet masih di bawah angka tersebut, bisnis belum mampu menutup seluruh biaya. Sebaliknya, jika omzet sudah melewati Rp10.000.000, bisnis mulai menghasilkan keuntungan.

Kapan Menggunakan BEP Unit dan BEP Rupiah?

Kedua jenis perhitungan BEP memiliki fungsi yang berbeda.

Gunakan BEP Unit JikaGunakan BEP Rupiah Jika
Bisnis menjual satu produk utamaBisnis memiliki banyak produk atau variasi harga
Target operasional diukur dari jumlah barangTarget kinerja lebih sering diukur berdasarkan omzet
Biaya per produk mudah dihitungProduk dijual dalam paket, bundling, atau kategori berbeda

Untuk usaha kecil dengan satu jenis produk, BEP unit biasanya lebih mudah dipahami.

Namun, untuk bisnis seperti toko online, restoran, atau usaha dengan banyak produk, BEP rupiah sering lebih praktis karena pemilik usaha lebih sering memantau omzet harian atau bulanan.

Tersedia guru-guru Akuntansi terbaik
Shinta
5
5 (102 ulasan)
Shinta
Rp179,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Andriadi fauzi
4.9
4.9 (72 ulasan)
Andriadi fauzi
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Arpa
5
5 (26 ulasan)
Arpa
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Amanda
5
5 (99 ulasan)
Amanda
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Elshabyta auditya
5
5 (118 ulasan)
Elshabyta auditya
Rp175,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dani syahputra,ca
5
5 (31 ulasan)
Dani syahputra,ca
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Gema
5
5 (35 ulasan)
Gema
Rp65,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ghina
5
5 (61 ulasan)
Ghina
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Shinta
5
5 (102 ulasan)
Shinta
Rp179,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Andriadi fauzi
4.9
4.9 (72 ulasan)
Andriadi fauzi
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Arpa
5
5 (26 ulasan)
Arpa
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Amanda
5
5 (99 ulasan)
Amanda
Rp200,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Elshabyta auditya
5
5 (118 ulasan)
Elshabyta auditya
Rp175,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Dani syahputra,ca
5
5 (31 ulasan)
Dani syahputra,ca
Rp150,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Gema
5
5 (35 ulasan)
Gema
Rp65,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Ghina
5
5 (61 ulasan)
Ghina
Rp130,000
/jam
Gift icon
Kursus pertama gratis!
Mulai

Langkah-Langkah Cara Menghitung BEP dengan Benar

Menghitung BEP sebenarnya tidak sulit jika data yang digunakan sudah tepat. Berikut langkah yang bisa kamu ikuti.

Tentukan Periode Perhitungan

Pilih periode perhitungan, misalnya bulanan.

Kelompokkan Biaya Bisnis

Pisahkan biaya tetap dan biaya variabel.

Hitung Biaya Variabel per Unit

Hitung biaya untuk menghasilkan satu produk.

Tentukan Harga Jual Bersih

Gunakan harga setelah potongan atau biaya transaksi.

Hitung Margin Kontribusi

Kurangi harga jual dengan biaya variabel.

Terapkan Rumus BEP

Hitung BEP unit atau BEP rupiah sesuai kebutuhan.

Evaluasi Berkala

Perbarui BEP jika biaya atau harga berubah.

1. Tentukan Periode Perhitungan

Langkah pertama adalah menentukan periode yang akan digunakan.

Umumnya, bisnis menghitung BEP dalam periode bulanan karena biaya operasional seperti sewa, gaji, dan utilitas biasanya dihitung setiap bulan.

Pastikan seluruh data menggunakan periode yang sama agar hasil perhitungan tidak keliru.

Misalnya, biaya tetap dihitung per bulan, maka target penjualan juga harus dihitung per bulan.

2. Catat dan Kelompokkan Seluruh Biaya

Setelah menentukan periode, pisahkan seluruh biaya bisnis menjadi dua kelompok utama:

  • Biaya tetap.
  • Biaya variabel.

Biaya tetap seperti sewa dan gaji karyawan tetap harus dipisahkan dari biaya yang bisa berubah mengikuti produksi seperti bahan baku dan kemasan.

Kesalahan dalam mengelompokkan biaya merupakan salah satu penyebab hasil BEP tidak akurat.

3. Hitung Biaya Variabel per Unit

Selanjutnya, hitung berapa biaya yang diperlukan untuk menghasilkan satu produk.

Misalnya sebuah usaha makanan memiliki biaya:

  • Bahan baku: Rp5.000
  • Kemasan: Rp1.500
  • Biaya produksi langsung: Rp1.500

Maka biaya variabel per unit:

Rp5.000 + Rp1.500 + Rp1.500 = Rp8.000

Angka inilah yang akan dimasukkan ke dalam rumus BEP nanti.

4. Tentukan Harga Jual Bersih

Harga jual yang digunakan dalam perhitungan BEP sebaiknya adalah harga yang benar-benar diterima bisnis.

Jika produk sering mendapatkan diskon, potongan marketplace, atau biaya transaksi, gunakan harga setelah pengurangan tersebut.

Misalnya:

Harga produk di marketplace: Rp25.000

Potongan platform dan biaya transaksi: Rp2.000

Maka harga jual bersih yang lebih tepat:

Rp23.000

Menggunakan harga jual kotor dapat membuat BEP terlihat lebih rendah dari kondisi sebenarnya.

5. Hitung Margin Kontribusi

Setelah mengetahui harga jual dan biaya variabel, langkah berikutnya adalah menghitung margin kontribusi.

Rumus:

Margin Kontribusi = Harga Jual − Biaya Variabel

Nilai ini menunjukkan berapa bagian dari setiap penjualan yang digunakan untuk membayar biaya tetap.

6. Terapkan Rumus BEP yang Tepat

Setelah semua data tersedia, pilih metode perhitungan sesuai kebutuhan.

Gunakan BEP unit jika ingin mengetahui jumlah produk yang harus dijual.

Gunakan BEP rupiah jika ingin mengetahui target omzet minimum.

Pemilihan metode yang tepat membuat hasil analisis lebih mudah diterapkan dalam pengambilan keputusan.

7. Evaluasi dan Perbarui Secara Berkala

BEP bukan angka yang berlaku selamanya.

Perubahan harga bahan baku, kenaikan sewa, perubahan gaji, diskon, atau strategi pemasaran dapat mengubah nilai BEP.

Karena itu, bisnis perlu melakukan evaluasi secara berkala agar target penjualan tetap sesuai kondisi terbaru.

Contoh Analisis BEP untuk Pengambilan Keputusan Bisnis

Banyak keputusan bisnis yang dapat diambil ketika mengetahui nilai BEP, source: Pixabay

BEP tidak hanya digunakan untuk mengetahui titik impas. Hasil perhitungan BEP juga dapat membantu kamu membuat keputusan bisnis yang lebih strategis dan ber-etika.

Skenario 1: Harga Jual Naik

Ketika harga jual meningkat, margin kontribusi per unit juga akan meningkat.

Akibatnya, jumlah produk yang harus dijual untuk mencapai BEP dapat menjadi lebih rendah.

Namun, kenaikan harga harus dipertimbangkan dengan kondisi pasar.

Jika pelanggan merasa harga terlalu tinggi dan jumlah penjualan turun drastis, keuntungan bisnis belum tentu meningkat.

Karena itu, keputusan menaikkan harga harus mempertimbangkan daya beli pelanggan dan nilai produk yang diberikan.

Skenario 2: Biaya Bahan Baku Naik

Kenaikan harga bahan baku akan meningkatkan biaya variabel.

Ketika biaya variabel naik, margin kontribusi menjadi lebih kecil.

Akibatnya, bisnis harus menjual lebih banyak produk untuk mencapai BEP.

Contohnya, jika biaya bahan baku kopi meningkat, kedai kopi dapat mempertimbangkan beberapa pilihan:

  • Mencari pemasok dengan harga lebih kompetitif.
  • Mengurangi pemborosan bahan.
  • Menaikkan harga jual secara bertahap.

Skenario 3: Biaya Tetap Bertambah

Penambahan biaya tetap seperti membuka cabang baru, membeli mesin, atau merekrut karyawan tetap akan meningkatkan beban operasional.

Ketika biaya tetap meningkat, BEP juga akan naik.

Artinya, bisnis membutuhkan target penjualan lebih besar agar dapat kembali mencapai titik impas.

Sebelum melakukan ekspansi, pemilik usaha perlu menghitung apakah tambahan pendapatan yang diperoleh mampu menutup peningkatan biaya tersebut.

Skenario 4: Pemberian Diskon

Diskon sering digunakan untuk meningkatkan jumlah pelanggan.

Namun, diskon juga dapat memengaruhi BEP karena menurunkan harga jual bersih.

Jika harga turun terlalu besar, margin kontribusi menjadi lebih kecil sehingga bisnis membutuhkan penjualan lebih banyak untuk mencapai titik impas.

Karena itu, promosi harus dihitung dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap BEP.

Diskon yang meningkatkan jumlah transaksi belum tentu menguntungkan jika keuntungan per produk terlalu kecil.

Faktor mana yang paling sering menaikkan BEP usaha Anda?

Bahan Baku0%
Sewa0%
Diskon0%
Komisi Platform0%

Kesalahan Umum Saat Menghitung Break Even Point

Meskipun rumus BEP terlihat sederhana, hasil perhitungan dapat menjadi tidak akurat jika data yang digunakan tidak tepat. Banyak bisnis melakukan kesalahan saat menghitung BEP karena kurang teliti dalam mengelompokkan biaya atau menggunakan asumsi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

warning
Perhatian!

Hindarilah kesalahan-kesalahan dibawah ini.

1. Mencampur Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Kesalahan pertama adalah tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel.

Misalnya, biaya sewa tempat termasuk biaya tetap karena jumlahnya tidak berubah berdasarkan jumlah produksi. Sementara itu, bahan baku termasuk biaya variabel karena nilainya meningkat ketika jumlah produksi bertambah.

Jika kedua jenis biaya tersebut tercampur, hasil hitung BEP akan menjadi tidak akurat.

2. Tidak memasukkan komisi marketplace, biaya transaksi, atau biaya kemasan

Beberapa bisnis hanya menghitung biaya produksi utama, tetapi lupa memasukkan biaya lain seperti:

  • Komisi marketplace.
  • Biaya transaksi pembayaran.
  • Biaya kemasan.
  • Biaya pengiriman tertentu.
  • Biaya administrasi.

Padahal, biaya tersebut tetap memengaruhi margin kontribusi dan jumlah penjualan minimum yang dibutuhkan.

Perhitungan BEP yang baik harus menggambarkan kondisi bisnis sebenarnya. Terkadang akuntan dibutuhkan.

3. Menggunakan harga jual sebelum diskon sebagai dasar perhitungan

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menggunakan harga jual normal sebagai dasar perhitungan, padahal bisnis sering memberikan promo.

Misalnya, harga produk sebenarnya Rp50.000, tetapi setelah diskon dan biaya platform, pendapatan bersih hanya Rp43.000.

Jika menggunakan angka Rp50.000, hasil BEP akan terlihat lebih rendah dari kondisi nyata.

Karena itu, gunakan harga jual bersih yang benar-benar diterima bisnis.

4. Mengabaikan Perubahan Harga Bahan Baku

Harga bahan baku dapat berubah sewaktu-waktu.

Kenaikan harga bahan baku akan meningkatkan biaya variabel dan menurunkan margin kontribusi.

Jika bisnis tetap menggunakan perhitungan BEP lama, target penjualan yang dibuat bisa terlalu rendah dan menyebabkan perkiraan keuntungan tidak sesuai kenyataan.

5. Menganggap BEP sebagai Target Laba

Salah satu kesalahan pemahaman yang paling umum adalah menganggap BEP sebagai target keuntungan.

Padahal, BEP hanya menunjukkan kondisi ketika bisnis tidak mengalami kerugian maupun keuntungan.

Setelah melewati BEP, bisnis baru mulai menghasilkan laba.

Karena itu, pemilik usaha sebaiknya menjadikan BEP sebagai batas minimum, bukan sebagai tujuan akhir.

6. Tidak Membulatkan BEP Unit ke Atas

Jika hasil perhitungan BEP unit menghasilkan angka desimal, angka tersebut harus dibulatkan ke atas.

Contohnya:

BEP = 750,5 unit

Maka target minimal penjualan adalah:

751 unit

Hal ini karena bisnis tidak dapat mencapai titik impas dengan menjual kurang dari jumlah minimum tersebut.

7. Menggunakan Data dari Periode yang Berbeda

Perhitungan BEP harus menggunakan data dalam periode yang sama.

Misalnya, biaya tetap menggunakan data bulan Januari, tetapi biaya variabel menggunakan data bulan Maret.

Perbedaan periode dapat membuat hasil analisis tidak menggambarkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

8. Menghitung BEP Multiproduk Tanpa Memperhatikan Komposisi Penjualan

Untuk bisnis yang menjual banyak produk, perhitungan BEP tidak cukup hanya menggunakan satu produk sebagai dasar.

Misalnya, sebuah toko menjual pakaian, sepatu, dan aksesori. Masing-masing produk memiliki harga jual dan margin kontribusi yang berbeda.

Jika ingin menghitung BEP bisnis secara keseluruhan, perlu mempertimbangkan bauran penjualan (sales mix) dari setiap produk.

Cara Menggunakan Hasil BEP untuk Menentukan Target Laba

Setelah BEP dapat dikatakan suatu bisnis itu profit, source: Pixabay
Setelah BEP dapat dikatakan suatu bisnis itu profit, source: Pixabay

Banyak bisnis berhenti setelah mengetahui titik impas.

Padahal, fungsi BEP tidak hanya untuk mengetahui kapan usaha tidak rugi, tetapi juga dapat digunakan untuk menentukan target keuntungan.

Setelah mengetahui margin kontribusi, kamu dapat menghitung berapa jumlah produk yang harus dijual untuk mendapatkan bidang laba tertentu.

Rumus Target Penjualan untuk Mendapatkan Laba

Rumusnya:

Target Unit untuk Laba = (Biaya Tetap + Target Laba) ÷ Margin Kontribusi per Unit

Rumus ini membantu menjawab pertanyaan penting dalam bisnis:

“Berapa banyak produk yang harus saya jual agar mendapatkan keuntungan yang saya inginkan?”

Misalnya, Kamu memiliki usaha minuman dengan biaya tetap Rp6.000.000 per bulan dan menargetkan laba Rp3.000.000.

Harga jual setiap gelas adalah Rp20.000 dengan biaya variabel Rp8.000, sehingga margin kontribusinya:

Rp20.000 − Rp8.000 = Rp12.000

Dengan rumus:

Target Unit = (Biaya Tetap + Target Laba) ÷ Margin Kontribusi

Maka:

(Rp6.000.000 + Rp3.000.000) ÷ Rp12.000 = 750 gelas

Artinya, Kamu harus menjual minimal 750 gelas per bulan untuk menutup biaya sekaligus memperoleh laba Rp3.000.000.

Indikator Tindak Lanjut Setelah Mengetahui BEP

Setelah mendapatkan hasil BEP, langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi bisnis.

Jika nilai BEP terlalu tinggi, artinya bisnis membutuhkan penjualan besar untuk mencapai titik impas.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Mengurangi biaya tetap.
  • Mencari bahan baku dengan harga lebih efisien.
  • Meningkatkan margin keuntungan.
  • Mengevaluasi kembali harga jual.

Jika volume penjualan masih sulit mencapai BEP, bisnis dapat mempertimbangkan strategi seperti:

  • Meningkatkan promosi.
  • Membuat paket produk.
  • Meningkatkan nilai transaksi rata-rata pelanggan.
  • Mengembangkan saluran penjualan baru.

Sebaliknya, jika BEP sudah mudah dicapai, bisnis dapat mulai menetapkan target laba yang lebih tinggi dan menyiapkan cadangan kas untuk pengembangan usaha.

Kesimpulan

Rumus BEP membantu bisnis mengetahui batas minimum penjualan agar tidak mengalami kerugian. Dengan memahami biaya tetap, biaya variabel, harga jual, dan margin kontribusi, kamu dapat menghitung BEP unit untuk mengetahui jumlah produk yang harus terjual atau BEP rupiah untuk menentukan target omzet.

Cobalah untuk menggunakan data biaya bulan berjalan untuk menghitung BEP usahamu, lalu bandingkan hasilnya dengan penjualan aktual saat ini, apakah usahamu sudah mencapai BEP?

Ringkaskan dengan AI

Apa Anda menyukai artikel ini? Berikan penilaian Anda

5.00 (1 nilai)
Loading...

Kurniawan

Seseorang yang senang berbagi ilmu dan pengetahuan yang diharapkan akan bermanfaat bagi banyak orang