Ketika mendengar istilah bahasa Jermanik Barat, seringkali yang terlintas di benak kita adalah bahasa Jerman saja. Padahal, tahukah Anda bahwa sebenarnya bahasa Inggris dan Belanda juga termasuk dalam rumpun bahasa Jermanik Barat? Selain itu, bahasa Jermanik Barat juga hanya sebagian kecil dari rumpun bahasa Jermanik, yang juga terdiri dari bahasa-bahasa Jermanik Utara dan Timur.
Perbedaan paling mencolok dari ketiga rumpun tersebut adalah bahasa Jermanik Barat adalah rumpun yang terbesar, karena di dalamnya terdapat bahasa Inggris yang merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Sejarah dan Karakteristiknya
Bahasa Jermanik Barat termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, sebuah rumpun bahasa asli Eurasia barat dan selatan. Rumpun ini sebagian besar terdiri dari bahasa-bahasa Eropa, dan bahasa Jermanik Barat berkembang di daerah Laut Utara, Rhine-Weser, dan Elbe.
Selama ini, para ilmuwan kesulitan untuk memastikan keterkaitan antara ketiga rumpun bahasa Jermanik (Barat, Timur, dan Utara) dikarenakan minimnya peninggalan bukti dan naskah kuno yang ada. Akan tetapi, bahasa-bahasa Jermanik Barat memiliki karakterisktik tersendiri yang berkembang sejak Awal Abad Pertengahan seperti dari segi inovasi fonologi, morfologi, dan leksikal yang tidak ada pada bahasa-bahasa Jermanik Utara dan Timur.
“Dari sekian banyak dialek lokal Jermanik Barat, bahasa Inggris, Frisian, Belanda, Afrika, Jerman, dan Yiddish adalah bahasa-bahasa modern yang lahir dari rumpun ini. Setiap bahasa tersebut berkembang di daerah yang berbeda dan telah melalui berbagai evolusi sehingga menjadi bahasa yang kita kenal saat ini. Berikut ini adalah ringkasan mengenai keenam bahasa yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Jermanik Barat tersebut.
Protobahasa Jermanik Barat
Mengenai keberadaan protobahasa Jermanik Barat, yang konon terjadi di antara abad ke-1 dan ke-2 sebelum masehi setelah bahasa Jermanik Timur terpecah, masih menjadi perdebatan di kalangan para ilmuwan.. Perpecahan ini kemudian menghimpun bahasa-bahasa Jermanik Barat Laut dan membentuk tiga kelompok bahasa yang disebut ‘Bahasa Jermanik Barat” yang terdiri dari:
- Bahasa Jermanik Laut Utara, terdiri dari bahasa Anglo-Frisian dan Old Saxon.
- Bahasa Jermanik Weser-Rhine, terdiri dari bahasa Belanda.
- Bahasa Jermanik Elbe, terdiri dari bahasa Upper German dan sebagian besar dialek Jerman Tengah dari Old High German.
Di antara karakteristik yang membedakannya dengan bahasa Jermanik Timur adalah inovasi linguistik sebagai berikut:
- Adanya umlaut (ä, ë, ï, ö, ü)
- Perubahan bunyi [z] menjadi [r].
- Kemunculan kata ganti tunjuk, yang dalam bahasa Inggris modern dikenal dengan ’this’.
Karena minimnya bukti tertulis, keberadaan periode ini sangat kontroversial di kalangan para ahli bahasa. Namun demikian, perbedaan antara bahasa Jermanik Timur, Utara, dan Barat memang jelas adanya dan bisa ditemukan hingga saat ini yang nampak pada perbedaan dan kemiripan bahasa pada negara-negara Eropa Tengah, Timur, atau Utara.
Bahasa Inggris
Bahasa internasional ini berasal dari Inggris melalui orang-orang Jermanik kuno yang bermigrasi ke Britania Raya. Bahasa Inggris erat kaitannya dengan bahasa Frisian dan Low Saxon dan juga telah banyak dipengaruhi oleh bahasa lainnya seperti Prancis dan Latin. Bahasa ini telah berkembang selama lebih dari 1.400 tahun dan saat ini merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di dunia, sekaligus merupakan bahasa natif terbesar setelah bahasa Cina dan Spanyol.

Frisian
Bahasa yang satu ini tidak sesukses bahasa Inggris, dimana bahasa Frisian modern hanya digunakan di tiga daerah: Frisian Barat yang terletak di provinsi Friesland di Belanda, Frisian Timur di Saarland di Jerman, dan Frisian Utara di sepanjang pesisir barat Schleswig di Jerman, yang seluruhnya berjumlah sekitar 8.000 penutur.
Bahasa Frisian muncul seribu tahun yang lalu di wilayah pesisir Laut Utara dan meluas dari Belanda Utara modern hingga Schleswig di Jerman dan pulau-pulau lepas pantai di sekitarnya. Frisian tidak mengalami perkembangan sosial dan politis yang sama seperti bahasa Inggris, sehingga ia lebih dianggap sebagai suatu dialek saja, bukan bahasa resmi.
Temukan Kursus bahasa Jerman di Jakarta di Superprof.
Bahasa Belanda atau Flemish dan Afrika
Bahasa Belanda adalah bahasa nasional dan resmi Belanda sekaligus merupakan salah satu bahasa nasional Belgia dan Prancis. Bahasa ini juga digunakan di wilayah Antilles dan Suriname, yang merupakan bekas wilayah Dependensi Belanda. Bahasa Afrika berasal dari bahasa Belanda dan salah satu bahasa nasional Afrika Selatan. Meskipun keduanya merupakan bahasa yang berbeda saat ini, keduanya memiliki sejumlah kesamaan sejarah, terutama sejarah masa kolonial.
Bahasa Belanda merupakan bahasa yang seragam dan memiliki bentuk tulis yang sama di Belanda maupun Belgia. Namun, seperti halnya bahasa Jerman, bahasa ini memiliki keberagaman dialek lisan di tiap negara dan daerah. Bahasa Belanda yang digunakan untuk urusan resmi disebut dengan bahasa Belanda Standar, dan setiap dialek bahasa ini memiliki aksen yang mencirikan daerah asalnya sekaligus memiliki pengaruh yang kuat terhadap identitas dan budaya daerah itu.
Bahasa Belanda dipengaruhi oleh penutur bahasa Jermanik di Laut Utara dan penutur bahasa “Franconian”, yang dikenal dengan Frankish. Hal ini terjadi pada abad ke-7 dan ke-8 ketika kekuasaan Meroving dan Caroling meluas ke daerah pesisir barat dan menduduki daerah-daerah yang dihuni oleh orang Jermanik Laut Utara.
“Salah satu karakteristik struktur bahasa Belanda adalah adanya umlaut-i (ï), sedangkan, pada bahasa-bahasa Jermanik Barat dan Utara, umlaut-i memengaruhi semua vokal belakang: ä / ö / ë / ü.”
Secara historis, kota-kota yang menggunakan bahasa Flemish memiliki pengaruh yang kuat secara ekonomi dan budaya, terutama selama periode Middle Dutch (1150-1500). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya juru tulis dan pengaruh kebahasaan dari Flanders sampai abad ke-15. Selama pendudukan oleh pihak asing pada abad ke-18 dan ke-19, bahasa Belanda kehilangan status politik dan ekonominya. Barulah pada abad ke-20 situasinya mulai membaik melalui peran politis dari para penuturnya.
Bahasa Afrika berasal dari dialek kolonial Belanda, yang sebenarnya cukup kontroversial terkait sejarah terbentuknya dan posisinya di tengah masyarakat Afrika Selatan.
“Lantas, bagaimana sejarah berkembangnya bahasa Afrika?”
Kehadiran orang Belanda sekaligus bahasanya di Afrika Selatan diawali pada tahun 1652, yaitu pada masa penjajahan oleh VOC. Bahkan, saat itu tidak sedikit pula orang Jerman dan Prancis, yang menjadi sebab awal interaksi antara dialek Belanda dengan bahasa Eropa lainnya.
Kemudian faktor lain yang mendorong terbentuknya bahasa Afrika adalah kemunculan bahasa Kreol Belanda di tengah-tengah suku Khoisan dan para budak impor. Interaksi antara bahasa dan budaya yang ada saat itu pada akhirnya melahirkan bahasa Afrika, sebuah bahasa yang lahir dari dialek kolonial Belanda dan Kreolnya. Bahasa Afrika terus berkembang selama masa kolonial dan akhirnya dinyatakan sebagai bahasa resmi pada tahun 1925 oleh Parlemen Afrika Selatan, menggantikan bahasa Belanda.
Hingga saat ini begitu banyak dialek bahasa Afrika yang bermunculan, begitu juga dengan kelompok dan kreol non-kulit putih. Kosakata Bahasa Afrika sangat mirip dengan bahasa Belanda, namun morfologi dan sintaksisnya lebih sederhana.
Periksa di sini untuk kursus bahasa jerman di jogja

Bahasa Jerman
Bahasa Jerman adalah salah satu dari rumpun bahasa Jermanik Barat yang berkembang di Eropa Tengah pada Awal Abad Pertengahan dengan kemunculan Old High German selama periode ‘pergeseran konsonan High German’. Bahasa Jerman saat ini merupakan bahasa resmi di tiga negara Eropa yaitu: Jerman, Austria, dan Swiss. Meskipun secara penulisannya bahasa Jerman di tiga negara tersebut cukup seragam karena mereka menggunakan bahasa Jerman Standar sebagai acuan, namun keberagaman penggunaannya secara lisan beserta dialeknya jauh lebih tinggi dibandingkan bahasa Inggris beserta dialeknya.
Dialek yang sangat beragam tersebut terbentuk karena faktor sejarah, yaitu beragamnya suku-suku Jermanik yang tersebar di Eropa Tengah dan bermunculannya beragam dialek yang berbeda di setiap daerah yang sekaligus menjadi identitas budaya bagi masyarakatnya.
Perbedaan yang sangat mencolok nampak pada dialek yang digunakan di dataran rendah Jerman utara dan dataran tinggi di bagian selatan -yang meliputi Jerman Selatan, Swiss dengan dialek Jerman Swiss dan sebagian wilayah Austria dengan dialek Jerman Austria. Perbedaan tersebut disebabkan oleh jarak geografis dan perbedaan peristiwa sejarah di kawasan Eropa Tengah tersebut.
Jika anda ingin mempelajari lebih jauh tentang bahasa Jerman beserta dialek dan karakteristiknya, Anda dapat mempelajari keberagamannya pada artikel yang kami sediakan disini.
Bahasa Yiddish
Terakhir, bahasa Yiddish pernah menjadi bahasa Jermanik Barat yang menonjol yang memilki sekitar 11 juta penutur sebelum Perang Dunia II, dimana setengah dari jumlah tersebut akhirnya terbunuh dalam peristiwa genosida oleh Nazi. Saat ini, terdapat jutaan pengguna bahasa Yiddish di berbagai belahan dunia, ada yang menggunakannya sebagai bahasa ibu dan ada juga yang menggunakannya sebagai bahasa kedua. Sebagian besar dari mereka saat ini ada di Israel dan Amerika Serikat.
“Bahasa Yiddish adalah bahasa Jermanik yang unik karena di dalamnya terdapat fitur bahasa Jermanik sekaligus elemen dan bahasa Roman, Slavia, dan Ibrani-Aram.”
Secara historis, bahasa ini berkembang pada abad ke-10 ketika kaum Yahudi dari Italia utara dan Prancis menetap di Rhineland. Tidak lama setelahnya, mereka harus berpindah ke Slavia karena terjadinya Perang Salib dan adanya pembantaian selama Wabah Black Death.
Bahasa Slavia memiliki pengaruh yang sangat kuat pada perkembangan bahasa ini. Karena bahasa ini berkembang di banyak negara dan budaya, bahasa ini memiliki dialek yang beragam dan khas di tiap daerah, sehingga bahasa ini menarik bagi ilmu bahasa dan para ilmuwan.
Sebuah rumpun yang besar
“Rumpun bahasa Jermanik Barat adalah suatu rumpun bahasa yang tua, luas, beragam, dan bisa ditemukan di banyak negara di dunia, dimana dialeknya sedemikian rupa terbentuk oleh budaya dan identitas lokal dan regional.”
Bahasa-bahasa Jermanik Barat memiliki latar belakang yang sangat mirip, namun berbagai peritiwa sejarah seperti Periode Migrasi, pergeseran konsonan High German, dan pengaruh lokal serta regional telah melahirkan begitu banyak dialek seperti yang kita kenal saat ini. Dari sekian bahasa di atas, bahasa manapun yang akan Anda pelajari pasti akan menghadirkan keberagaman membuat belajar anda menjadi seru!
Periksa di sini untuk les bahasa Jerman










