"Remaja yang mengonsumsi makanan cepat saji dengan asupan energi total yang tinggi memiliki risiko sebesar 2,27 kali lebih tinggi mengalami obesitas daripada remaja yang mengonsumsi asupan energi makanan cepat saji yang rendah."
Studi dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan, Kemkes.
Junk food, atau makanan rongsok, merujuk pada makanan yang tinggi kalori namun rendah nilai gizi. Secara sederhana, junkfood adalah jenis makanan yang memberikan energi tinggi, tetapi minim manfaat bagi tubuh. Konsumsi berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang.
Makanan cepat saji jadi tren baru terutama di kalangan remaja karena dikemas dengan tampilan yang menggoda serta didukung iklan yang kreatif dan masif. Keberadaannya yang mudah ditemukan di hampir setiap sudut kota Keberadaannya yang mudah ditemukan membuat banyak orang bertanya, apa itu junk food dan mengapa sebaiknya dibatasi. Selain praktis dan hemat waktu, cita rasanya yang lezat juga menjadi alasan utama kenapa banyak orang sulit menolak daya tarik makanan jenis ini.
Apa Itu Junk Food?
Untuk memahami lebih jauh, penting mengetahui apa itu junk food serta karakteristik utamanya. Dengan memahami pengertian dasarnya, kita bisa lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari.
Definisi Junk Food

Secara umum, makanan junk food adalah makanan yang tinggi kalori dari gula dan lemak, tetapi rendah serat, protein, vitamin, serta mineral. Makanan ini biasanya dibuat untuk memanjakan lidah, bukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang.
Sebagian besar junk food diproduksi melalui proses pengolahan yang panjang dan intensif. Dalam prosesnya, makanan ini kerap ditambahkan berbagai bahan kimia seperti pengawet, perisa buatan, dan pewarna sintetis agar lebih tahan lama serta tampak menarik.
Karakteristik Junk Food
Junk food umumnya mengandung kadar gula (tinggi gula), garam, lemak jenuh, serta asam lemak trans yang tinggi. Hal ini membuat makanan tersebut kaya kalori, tetapi miskin nutrisi dan rendah serat yang dibutuhkan tubuh. Yang dimaksud dengan gizi rendah adalah ketika suatu makanan hanya mampu memenuhi kurang dari 5% kebutuhan per porsi untuk delapan zat gizi utama, seperti zat besi, kalori, lemak total, lemak jenuh, kalsium, protein, vitamin A, dan vitamin C.
Istilah junk food tidak hanya merujuk pada makanan yang dijual di restoran cepat saji, tetapi juga mencakup berbagai jenis makanan lain dengan kandungan gizi minim serta sering kali mengandung bahan tambahan seperti pengawet dan pewarna. Seperti makanan kaleng dan frozen food (misalnya ikan kaleng, sosis, dan nugget), serta makanan rumahan yang diolah dengan banyak minyak, seperti ayam goreng dan kentang goreng. Ketidakseimbangan kandungan gizi inilah yang membuat junk food berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering.
Contoh Makanan Junk Food
Setelah mengetahui pengertiannya, banyak orang mulai bertanya, makanan junk food apa saja yang sering dikonsumsi sehari-hari. Tanpa disadari, ternyata beberapa di antaranya mungkin sudah masuk di dalam list menu makanan favorit kamu. Berikut beberapa contoh makanan junk food yang umum dijumpai di sekitar kita.
Makanan Cepat Saji

Makanan cepat saji identik dengan penyajian yang praktis dan rasa yang kuat. Namun, di balik kelezatannya, jenis makanan ini umumnya mengandung kalori tinggi, lemak jenuh, serta garam yang berlebihan. Konsumsi terlalu sering dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak dan gangguan kesehatan.
Contoh junk food : Hamburger, pizza, ayam goreng crispy, hot dog, kentang goreng, fried chicken bucket, dan sandwich.
Camilan Kemasan

Camilan kemasan sering menjadi pilihan saat ingin cari makanan pendamping atau ngemil karena mudah ditemukan dan punya banyak varian rasa. Sayangnya, sebagian besar camilan ini mengandung MSG, gula, serta garam dalam jumlah tinggi, sehingga minim serat maupun vitamin. Jika dikonsumsi berlebihan, camilan kemasan bisa memicu kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme di dalam tubuh.
Beberapa contoh makanan junk food: Keripik kentang, snack berbumbu pedas, popcorn instan, permen, biskuit manis, kue kering, dan kerupuk kemasan.
Minuman Manis

Minuman jenis ini dapat menyumbang asupan gula yang sangat besar dalam satu kali konsumsi. Meskipun rasanya menyegarkan, kandungan nutrisinya hampir tidak ada. Jika sering dikonsumsi, minuman manis dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, serta kerusakan gigi. Saat sedang berada du supermarket atau toko kelontong, kamu dapat mengetahui seberapa tinggi kandungan gulanya melalui list komposisi yang ada di bagian belakang atau samping kemasan.
Junk food apa saja yang termasuk minuman : Minuman bersoda, teh kemasan manis, minuman energi, jus buah dengan tambahan gula, minuman rasa buah kemasan, dan bubble drink.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja, yaitu sebesar 84,3%, mengonsumsi makanan cepat saji dengan frekuensi tinggi. Selain itu, ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan cepat saji dan kejadian gizi lebih, dengan nilai p sebesar 0,037.
Dampak Kesehatan dari Konsumsi Junk Food
Selanjutnya, kita masuk ke pembahasan penting mengenai alasan mengapa junk food dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Mengonsumsi junk food sesekali umumnya tidak langsung menimbulkan gangguan serius.
Namun, apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus, dampaknya dapat muncul secara bertahap. Berikut beberapa risiko yang berpotensi terjadi jika konsumsi junk food tidak dikendalikan:
Risiko Obesitas

Makanan cepat saji umumnya memiliki kandungan kalori yang tinggi, namun rendah serat dan zat gizi penting lainnya. Kondisi ini membuat tubuh menerima asupan energi berlebih tanpa diimbangi rasa kenyang yang cukup lama, sehingga berisiko meningkatkan berat badan, terutama jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka panjang.
Selain itu, makanan cepat saji sering mengandung gula tambahan serta lemak jenuh dalam jumlah besar. Konsumsi junk food yang tinggi membuat kandungan gula tambahan dan lemak jenuh dapat memicu penumpukan lemak dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko kelebihan berat badan, dan pada akhirnya berkontribusi besar terhadap terjadinya obesitas serta gangguan kesehatan lainnya. Salah satu cara mencegahnya bisa dengan pre work out.
Penyakit Jantung dan Diabetes

Salah satu faktor utama pemicu penyakit jantung dan diabetes tipe 2 adalah pola makan yang tinggi kolesterol. Makanan cepat saji termasuk dalam kategori makanan dengan kandungan lemak jenuh tinggi dan gula tinggi yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh.
Di samping itu, makanan cepat saji juga mengandung garam dalam jumlah besar yang kerap melebihi batas asupan harian yang dianjurkan. Kondisi ini dapat memicu kenaikan tekanan darah serta menambah beban kerja jantung, sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Tidak hanya itu, konsumsi makanan cepat saji saat cheating day secara berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Makanan ini umumnya tinggi karbohidrat olahan yang akan diubah menjadi glukosa dalam darah, sehingga menyebabkan lonjakan kadar gula.
Apabila kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang, kerja hormon insulin dapat terganggu. Akibatnya, tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin dan risiko terjadinya diabetes pun semakin meningkat.
Masalah Pencernaan
Sebagian besar makanan cepat saji memiliki kandungan serat yang sangat rendah, bahkan hampir tidak mengandung serat sama sekali. Padahal, serat berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan. Jika kebutuhan serat harian tidak terpenuhi, seseorang berisiko mengalami berbagai gangguan pencernaan, seperti sembelit, sulit buang air besar, hingga rasa tidak nyaman pada perut.
Selain rendah serat, makanan cepat saji juga umumnya mengandung garam dalam jumlah tinggi. Asupan garam berlebihan dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh, sehingga menimbulkan sensasi perut kembung, begah, dan tidak nyaman setelah makan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat berdampak buruk pada kesehatan saluran cerna dan metabolisme tubuh.
Tips Mengurangi Konsumsi Junk Food

Konsumsi junk food sebaiknya dibatasi dan tidak dilakukan secara berlebihan guna mencegah timbulnya gangguan kesehatan di kemudian hari. Junk food berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara rutin lebih dari dua kali dalam satu minggu.
Sebagaimana telah diketahui, kebiasaan mengonsumsi junk food secara berlebihan dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh. Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak dalam memilih makanan dan mengutamakan pola makan yang seimbang demi menjaga kesehatan jangka panjang. Berikut saran praktis untuk mengurangi konsumsi junk food :
Pilih Makanan Sehat
Beberapa restoran cepat saji sekarang sudah menyediakan alternatif menu yang lebih sehat, seperti salad sayur, salad buah, nasi, atau kentang panggang. Jika kamu berencana makan di restoran cepat saji, sebaiknya pilih tempat yang menawarkan opsi menu tersebut.
Pilihan ini tentu lebih baik dibandingkan mengonsumsi makanan seperti kentang goreng atau hamburger yang umumnya mengandung kalori dan lemak tinggi. Kamu juga bisa mengganti kebiasaan makan makanan junk food dengan perbanyak makan buah, sayur, dan biji-bijian utuh.
| Komponen Gizi | Junk Food | Makanan Sehat |
|---|---|---|
| Kalori | Sangat tinggi | Moderat - tinggi (sesuai kebutuhan tubuh) |
| Lemak | Didominasi lemak jenuh dan lemak trans | Lemak sehat (tak jenuh, omega-3) |
| Gula | Tinggi gula tambahan | Gula alami dalam jumlah terbatas |
| Natrium/Garam | Sangat tinggi | Rendah dan berasal dari sumber alami |
| Serat, Vitamin, Mineral | Sangat rendah | Tinggi dan beragam |
| Bahan Tambahan | Mengandung pengawet, perisa, dan pewarna | Lebih alami dan minim bahan tambahan |
Membatasi konsumsi makanan cepat saji merupakan langkah penting untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan. Meski demikian, bukan berarti Anda harus menghindarinya sepenuhnya. Anda tetap dapat mengonsumsinya sesekali, selama tetap memperhatikan porsi dan menerapkan pola makan yang seimbang.
Masak di Rumah

Salah satu cara efektif untuk mengurangi konsumsi junk food adalah dengan membiasakan diri memasak makanan sehat di rumah. Makanan yang diolah sendiri umumnya menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan membeli makanan cepat saji di gerai atau restoran, karena memasak sendiri membuat kamu dapat mengontrol kualitas bahan dan metode memasak yang lebih sehat.
Sebagaimana diketahui, junk food sering mengandung berbagai zat tambahan kimia yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Dengan memasak di rumah, kita dapat memilih bahan-bahan segar dan bergizi sesuai kebutuhan tubuh. Selain lebih sehat, memasak sendiri juga cenderung lebih hemat dari segi biaya. Oleh karena itu, kebiasaan memasak di rumah dapat dijadikan alternatif yang efektif untuk menekan frekuensi anak maupun keluarga dalam mengonsumsi junk food.
Baca Label Nutrisi
Salah satu langkah sederhana untuk mengurangi dampak negatif junk food adalah dengan membiasakan diri membaca label nutrisi pada kemasan. Melalui informasi ini, Anda dapat mengetahui kandungan gizi sebelum memutuskan untuk membeli atau mengonsumsinya. Memahami label nutrisi membantu dalam memilih makanan yang lebih sehat. Perhatikan jumlah gula, garam, lemak, dan kalori agar konsumsinya tidak berlebihan.
Selain itu, periksa juga daftar komposisi bahan. Semakin panjang dan rumit nama bahan yang tercantum, biasanya semakin banyak zat tambahan yang digunakan.
Dengan rutin membaca label nutrisi, Anda akan menjadi lebih sadar terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi konsumsi junk food dan mendorong pola makan yang lebih sehat.
Gimana pengalaman kamu mengurangi konsumsi junk food?
Kesimpulan
Memahami apa itu junk food, karakteristiknya, serta berbagai contoh makanan junk food merupakan langkah awal untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri. Junkfood adalah makanan yang tinggi kalori namun rendah gizi, sehingga jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan pencernaan.
Oleh karena itu, penting untuk mulai membatasi konsumsi junk food dan menggantinya dengan pilihan makanan yang lebih sehat dan seimbang. Dengan kebiasaan sederhana seperti memasak di rumah, membaca label nutrisi, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur, kita dapat menjaga kesehatan tubuh dengan lebih baik dalam jangka panjang.
Jika Anda ingin lebih serius menerapkan pola hidup sehat, Anda juga bisa mempertimbangkan kelas privat Superprof bersama personal trainer. Dengan pendampingan langsung dari trainer profesional, Anda akan mendapatkan program latihan yang sesuai kebutuhan serta bimbingan yang terarah untuk mencapai tujuan kesehatan secara optimal.
Ringkaskan dengan AI









